Ormas Keagamaan Sepakat Bersama-sama Mengatasi Persoalan Umat
Ringkasan:
Pekanbaru, 6/5 (Humas)- Dalam dialog bersama Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM di Hotel Mutiara Merdeka, Selasa (4/4), yang dihadiri dari utusan ormas-ormas keagamaan antara lain UIN SUSKA Riau, MUI, NU, Muhammadiyah, Ittihadul Muballighin, MDI, IKMI, DMI, FPI, BAZ, dan lainnya, terungk...
Pekanbaru, 6/5 (Humas)- Dalam dialog bersama Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM di Hotel Mutiara Merdeka, Selasa (4/4), yang dihadiri dari utusan ormas-ormas keagamaan antara lain UIN SUSKA Riau, MUI, NU, Muhammadiyah, Ittihadul Muballighin, MDI, IKMI, DMI, FPI, BAZ, dan lainnya, terungkap berbagai macam masalah yang mendera umat Islam dewasa ini. Namun secara umum semuanya sepakat untuk bekerja bersama-sama mengatasi persoalan umat, karena sasaran dan masalah yang dihadapi adalah sama.
Di antara masalah yang cukup signifikan adalah kecilnya bantuan pemerintah daerah terhadap ormas keagamaan, akibatnya ormas menjadi terganggu dan terhambat kinerjanya. Kami mendapat bantuan hanya sebesar Rp75 juta untuk dua tahun, sedangkan program dan kegiatan yang harus dilaksanakan sangat banyak. Coba bandingkan dengan ormas-ormas lain, ada yang mendapat bantuan Rp500 juta sampai Rp1 Milyar, demikian diungkapkan Auni M. Nur dari BAZ Riau.
Kelemahan lain yang cukup mencolok adalah tidak terintegrasinya program pembangunan yang dirancang oleh Bappeda dengan program pembangunan di bidang keagamaan. Misalnya dalam program K2I, pemerintah daaerah bisa mengalokasikan sebidang kebun kepada masjid dimana daaerah mereka menjadi lokasi perkebunan atau peternakan K2I. Seperti yang dijelaskan oleh Muhammad Ridwan. Lebih lanjut, anggota MUI ini menegaskan perlunya meningkatkan kesadaran mengkonsumsi produk halal, sebab pada zaman sekarang sudah banayak produsen obat dan makanan yang berstatus/berlabel halal.
Sementara itu Prof. Dr. HM Nazir mengingatkan pemerintah dan masyarakat Riau agar berkomitmen untuk mewujdkan Visi Riau 2020 sedini mungkin. Kita harus mengambil peluang ini (menjadikan Riau pusat Melayu di Asia Tenggara) segera, kalau tidak, Visi Riau 2020 hanya tinggal mimpi dan slogan kosong belaka. Dan Malaysia sudah bersiap sedari awal untuk merebutnya, ujar Rektor UIN Suska ini.
Terungkap juga dalam dialog tersebut masalah pembinaan suku terasing baik akidah maupun ekonomi. Salah satu solusinya adalah dengan menggiatkan ekonomi produktif. Tidak cukup berdakwah dengan hanya memberikan materi dakwah, namun yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa melibatkan mereka (suku terasing) untuk terlibat dengan kegiatan ekonomi. Misalnya dengan membuat pabrik pengolahan sagu yang tenaga kerjanya adalah penduduk tempatan, tegas Asyari Nur. (as)