0 menit baca 0 %

MTsN 2 Muara Fajar, Madrasah Perbatasan yang Melek IT

Ringkasan: Riau (Inmas)- Salah satu wilayah yang sering disebut-sebut sebagai wilayah yang memiliki keterbatasan dalam hampir semua bidang, adalah wilayah perbatasan. Keterbatasan dalam bidang pendidikan merupakan salah satu masalah yang dihadapi wilayah perbatasan suatu daerah.Hal tersebut juga dialami oleh b...

Riau (Inmas)- Salah satu wilayah yang sering disebut-sebut sebagai wilayah yang memiliki keterbatasan dalam hampir semua bidang, adalah wilayah perbatasan. Keterbatasan dalam bidang pendidikan merupakan salah satu masalah yang dihadapi wilayah perbatasan suatu daerah.

Hal tersebut juga dialami oleh beberapa madrasah yang ada di daerah perbatasan di Provinsi Riau, khususnya Kota Pekanbaru. Keterbatasan sarana dan prasarana cenderung masih menjadi menjadi persoalan, seperti halnya yang dialami oleh Madrasah Tsnawiyah Negeri 2 Muara Fajar Pekanbaru.

Beberapa tahun lalu, seperti yang dituturkan oleh Kepala Madrasah Ghafardi, S. Ag. M.Pd I, Jum’at (30/11/2018) MTsN 2 Pekanbaru juga sempat mengalami keterbatasan dalam hal sarana dan prasarana teknologi informasi, seperti listrik dan jaringan internet. Sehingga, mengangu kelancaran proses belajar mengajar yang semakin kedepan semakin bergantung pada teknologi informasi.

Saat ini jumlah siswa MTsN 2 Pekanbaru sebanyak 450 orang yang ditempatkan di 15 ruang belajar dan dengan 28 tenaga pendidik dan 10 tenaga administrasi. Masih perlu terobosan – terobosan baru untuk dapat mengimbangi sekolah unggul lainnya.

“Saat perdana saya melakukan tugas disini sekitar bulan Juli 2017 banyak hal yang perlu dibenahi karena saat itu listrik masih sangat sulit, apalagi jaringan wifi. Sehingga hal tersebut menjadi prioritas saya. Alhamdulillah dengan kerja sama dengan komite dan seluruh elemen madrasah dua komponen ini bias kita benahi, bahkan  dengan sarana dan prasana IT yang ada saat ini kita sudah bisa melaksanakan Ujian Nasional berbasis Komputer (UNBK) perdana tahun 2017, bahkan kita menjadi satu- satunya madrasah yang melaksanakan UNBK mandiri, dan tahun 2018/2019 ujian semester bagi anak kelas IX juga kita laksanakan secara BK,” terangnya.

Selain itu, ujar Gafardi, kondisi pendidikan di daerah perbatasan juga menuntut para pendidik atau civitas akedemik untuk bekerja ekstra. Karena pada umumnya, anak- anak MTs N 2 berada pada tingkat ekonomi pra sejahtera dan tinggal di Pinggir-pinggir desa Muara Fajar, daerah perkebunan dengan melewati jalanan yang masih jalan tanah, selain tidak adanya transportasi umum sehingga menyulitkan mereka untuk sampai ke sekolah.

“Banyak hal yang harus kita mengerti disini, karena memang kondisi kehidupan mereka yang jauh bertolak belakang dari kehidupan yang biasa kita temui di kota- kota. Jika hujan turun jalan becek dan licin, sehingga mereka sering terlambat untuk masuk ke Madrasah karena fasilitas jalan yang mereka tempuh itu tidak layak, belum lagi tidak adanya transportasi angkutan umum, dan lainnya,” jelasnya.

Namun demikian, melihat semangat dan keinginan anak- anak Muara Fajar untuk belajar, tentu menjadi harapan bagi orang tua dan guru untuk dapat melihat anak- anak mereka tumbuh dengan pendidikan yang lebih layak.

“Saya berharap sebagai pimpinan untuk semua guru-guru dan karyawan dan karyawati kita wajib mensukseskan mereka dalam pendidikan, itulah tugas utama yang kita lakukan. ketika anak-anak yang bermasalah, ketika anak-anak yang tinggal jauh dari keramaian, keterka mereka  hidup dengan ekonomi yang tidak mapan. Tapi saat itu kita didik mereka dan mereka berhasil maka itulah yang terbaik dan menjadi kebanggan kita,” ungkapnya penuh haru. “Alhamdulillah, anak- anak kita banyak yang telah meraih berbagai prestasi, baru-baru ini kita unggul pada kegiatan pencaksilat, bahkan beberapa anak kita dipakai daerah lain untuk acara pencak silat. Prestasi lomba- lomba tingkat Kota dan Provinsi, seperti olimpiade dan lainnya telah berhasil diraih anak- anak kita,” terangnya.

Pengenalan IT Sejak Dini

Sementara itu Kepala Tata Usaha MTsN Muara Fajar Pekanbaru, Zul Anshari S Sos M SI mengatakan, walau anak- anak MTsN berada di perbatasan dengan awal masuk yang serba terbatas, namun hal tersebut tidak menjadi penghambat bagi siswa dan siswi madrasah untuk berkarya. Bahkan, pihak madrasah berusaha mengenalkan teknologi informasi sejak dini kepada anak didik.

Pengenalan IT tersebut melalui Computer Based Test (CBT) atau ujian Berbasis Komputer (BK) sejak tahun 2017/2018 dengan sarana ruang ujian dan 36 komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet. Untuk tahun 2018/2019 UNBK direncanakan akan menggunakan 2 ruang ujian BK dengan jumlah perangkat mencapai 66 komputer, peserta UN sebanyak 116 orang.

“Pengadaan sarana prasarana BK ada dari dana DIP sekitar Rp100 juta, dan selebihnya dari komite. Untuk simulasi kita akan lakukan sebanyak 3 kali, selain ujian semester khusus kelas IX kita lakukan juga dengan BK, sehingga siswa semakin lancar dalam menggunakan IT. Apalagi saat mereka akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tentu pengetahuan ini sangat dibutuhkan, dan mereka tidak akan kaku lagi menghadapi sistem tes dan IT,” jelasnya.

Ditambahkan Waka Humas Eka Nadia S Pd, MTsN 2 Pekanbaru telah memiliki sarana komunikasi dan informasi berupa website, dan pada semester genap yang akan datang akan diterapkan Aplikasi Rapor Digital (ARD). Hal tersebut menuntut bagi guru- guru untuk menguasai aplikasi ARD. “Untuk mematangkan program ARD ini kita akan melakukan sosialisasi kepada semua guru, khsusunya dibawah induk KKM MTsN 2 Pekanbaru yang jumlahnya mancapai 40 orang,” ungkapnya. “InsyAllah juga kedepan kita juga akan melakukan penerimaan siswa baru dengan sistem online,” tambahnya.  (mus/ana/eka/anto)