0 menit baca 0 %

MTsN 1 Pelalawan Sukses Taja Matahari Sastra Masuk Madrasah

Ringkasan: Pangkalan Kerinci (Inmas) -  Kamis 31/8/2017, MTsN 1 Pelalawan hari itu tak seperti biasanya. Di halaman gedung sekolah tersergam dua tenda. Pertama tenda kecil dengan trap di bawahnya. Di depannya sepasang tenda kembar tampak gagah memayungi halaman.

Pangkalan Kerinci (Inmas) -  Kamis 31/8/2017, MTsN 1 Pelalawan hari itu tak seperti biasanya. Di halaman gedung sekolah tersergam dua tenda. Pertama tenda kecil dengan trap di bawahnya. Di depannya sepasang tenda kembar tampak gagah memayungi halaman. Di bawah tenda kembar itu duduk bersusun -paku sejumlah tamu yang datang dari Pekanbaru, tamu dari sekolah lain di Kabupaten Pelalawan serta sejumlah majelis guru MTsN 1 Pelalawan, dan Ibu Zalia Rani, SAg yang mewakili Kepala Seksi Pendidikan Islam Kemenag Kabupaten Pelalawan. Tenda-tenda itu rupanya sebagai tempat berlangsungnya acara Matahari Masuk Madrasah pada sekolah di bawah naungan Kementerian Agama tersebut. Sekitar 800-an santri tampak duduk di bawah pohon di kiri kanan tenda. Mereka khidmat mengikuti helat kubra tersebut.

Tepat kira pukul 9 pagi, acara Matahari Masuk Madrasah tersebut dimulai. Koordinator Tim Matahari Sastra Riau, Griven H Putera, MA menyampaikan kata elu-eluan. Menurut Griven, acara ini dalam rangka semakin memasyarakatkan sastra bagi masayarakat, terutama bagi anak sekolah sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan.  “Dengan Sastra Hidup Berbudi, Dengan Karya Hidup Abadi,” tutur Griven memulai sambutannya. “Dahulu, para pemimpin bangsa ini adalah orang yang sangat mencintai sastra, bahkan beberapa menteri pendidikan dan kebudayaan dulunya merupakan sastrawan, seperti Prof Daud Yusuf, Prof Nugroho Notosusanto, dan Pof Fuad Hasan. Jadi, mereka pun mengurus bangsa ini dengan sastra, yang mana hati merupakan salah-satu barometernya sehingga bangsa ini maju tanpa meningglkan akal budi. Kami sastrawan ini datang bukan hendak menjadikan semua siswa sebagai sastrawan tapi bagaimana nanti mereka hidup dengan nilai sastra. Kalau hidup dengan nilai sastra, maka pemimpin di suatu instansi tidak akan ada yang koruptor, tidak akan ada legislator yang bicara kotor dan lain sebagainya,” ungkap sastrawan yang dikenal dengan Lelaki Pembawa Kain Kafan tersebut.

“Untuk itu, terima kasih MTsN 1 Pelalawan, terutama Ibu Nuryani, S.Pd dan majelis guru serta keluarga besar MTsN 1 Pelalawan yang telah bertungkus-lumus mengadakan perhelatan akbar ini,” kata Griven yang juga Kandidat Doktor UIN Suska Riau ini.

Bakri, S.Ag yang mewakili MTsN 1 Pelalawan mengucapkan terima kasih atas kedatangan sejumlah sastrawan Riau tersebut. Ia berharap kepada hadirin agar menyimak dan mengambil pelajaran dengan kedatangan rombongan Tim Matahari Sastra Riau tersebut.

Pada sesi selanjutnya diadakan talkshow sastra yang menghadirkan Abel Tasman, sastrawan Nasional asal Riau yang beberapa cerita pendeknya masuk dalam kumpulan cerpen Kompas paa beberapa tahun lampau. Menurut Abel, kini orang makin jauh dari nilai sastyra. Orang sibuk dengan uruannya sendiri. Sibuk dengan gadjet sehingga jalinan komunikasi yang santun sesama anggota masyarakat terasa hambar. “Walaupun sedang duduk berdekatan pun banyak orang sibuk dengan handphone, gadjet dan lain sebagainya. Sehingga kehidupan terasa gersang,” katanya. “Tapi dengan mencintai sastra maka suasana hubungan antara masyarakat akan kembali baik karena sastra mengutamakan akal budi yang selalu mengedepankan kesantunan dalam bertindak, bertutur dan bertingkah laku,” ucap Abel Tasman.

Abel Tasman menyayangkan kekurang pedulian masyarakat pada sastra. Menurutnya kini orang tak begitu peduli dengan karya sastra dan sastrawannya. Abel menyebutkan, jangankan dirinya, seorang penyair besar seperti Sutardji Calzoum Bachri pun masyarakat tidak mengenalnya. Ia pun mengajukan pertanyaan, siapakah Presiden Penyair Indonesia? Semua hening.

“Itulah buktinya. Semoga dengan seringnya sastrawan masuk sekolah, madrasah dan pesantren ini semakin memperkenalkan karya sastra dan sastrawan kepada khalayak,” ungkapnya.

Di akhir paparannya, Abel Tasman mengajak seluruh yang hadir agar semakin memperbanyak membaca buku. Karena buku adalah gerbang ilmu pengetahuan, termasuk pintu agung mengenal dan memahami sastra. Ia membandingkan minat baca bangsa Indonesia yang amat jauh ketinggalan di bawah negara lain.

Seusai talkshow sastra, pembacaan musikalisasi puisi pun ditampilkan beberapa guru MTsN 1 Pelalawan. Kemudian dilanjutkan dengan pentas teater yang dilakonkan siswa MTsN 1 Pelalawan. Pentas lakon tersebut berkisah tentang perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan.

Beberapa sastrawan Riau pun tampil membacakan puisi-puisi mereka di hadapan hadirin, seperti TM Sum, Herman Rante, Kunni Masrohanti, Zamhir Arifin, Eko Ragil Ar Rahman, dan Muhammad de Putra. Pada pagi menjelang siang tersebut juga tampil pemenang FLS2N Provinsi Riau tahun 2017, Putri Marsya yang merupakan salah-seorang siswa yang berasal dari kabupaten Pelalawan.

Herman Rante (Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning), yang mewakili sastrawan yang hadir, dalam kesan dan pesannya mengucapkan terima kasih kepada MTsN 1 Pelalawan yang telah suskses menaja kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini perlu dilakukan untuk meperkenalkan karya sastra dan mendidik anak sekolah agar mencintai sastra. “Kalau anak tidak tidak dilatih sedari kecil, sudah besar ibu-bapaknya letih,” ungkapnya. (ghp)