Kampar (Inmas) – Menyikapi kerusuhan yang terjadi di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua yang terjadi tepat pada perayaan Hari Raya Idul Fitri (Jumat pekan lalu), Pemerintah Daerah Kab. Kampar menggelar pertemuan dengan Pemuka Agama pada hari Selasa (28/07) di ruang rapat lantai III Kantor Bupati Kampar.
Pertemuan tersebut dipimpin langsung oleh Sekda Kab. Kampar Drs H Zulfan Hamid, yang dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA, Kapolres Kampar, Dandim, Pemuka Agama dan puluhan undangan lainnya.
Dalam pertemuan tersebut, Zulfan Hamid memberikan Kesempatan kepada Kapolres Kampar, Dandim Kampar untuk menceritakan kronologis yang terjadi di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua pada perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Yang mana sejumlah orang jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) memprotes penyelenggaraan salat Id di lapangan Markas Komando Rayon Militer (Makoramil) 1702-11, Karubaga. Mereka mengatakan telah memberitahukan agar kegiatan ibadah Lebaran tak dilaksanakan di daerah tersebut karena akan ada acara seminar dan kebaktian kebangunan rohani (KKR) pemuda GIDI. Akibatnya, puluhan kios dan sebuah masjid/musholla di sekitar lapangan terbakar hingga habis. Dan terdapat Seorang korban tewas dan belasan lainnya luka-luka akibat bentrokan tersebut.
Sementara itu, Drs H Fairus MA dalam kesempatan yang sama menhimbau kepada peserta yang hadir dalam pertemuan ini untuk menyikapi kejadian yang terjadi dengan arif dan bijaksana. Jangan sampai hal ini terjadi di Kab. Kampar. Jadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran buat kita, dan jangan sampai terpancing emosi yang nantinya akan di manfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.
Agar masalah ummat ini bisa diselesaikan dengan baik, Pemerintah Kab. Kampar harus mendukung program-program yang dilaksanakan oleh Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), baik itu dari segi pendanaan maupun yang lainnya. Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama, agar berbagai masalah ummat baik sesama Agama maupun antar ummat beragama bisa diselesaikan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan, sehingga segala apa yang kita khawatirkan, tidak terjadi dibelakang hari, tegas Fairus.
Untuk diketahuai, saat ini di Kab. Kampar banyak rumah ibadah yang tidak memiliki izin. Jika hal ini kita biarkan berlama-lama, tentunya ini akan menjadi konflik yang pada akhirnya akan terjadi gesekan-gesekan antar ummat beragama. Oleh karena itu, mari kita sikapi masalah ini dengan sebaik-baiknya, agar dibelakang hari tidak terjadi masalah, sehingga Kab. Kampar yang sama-sama kita cintai ini tetap dalam keadaadan damai, aman dan kondusif, pungkas Fairus. (Ags)
(edit:vera)