0 menit baca 0 %

Menjadi Pintar Mudah, Menjadi Berbudaya Sangat Sulit

Ringkasan: Siak (Humas) – Kemajuan suatu bangsa ditentukan kualitas sumber daya manusianya. Bicara kualitas sumberdaya manusia, maka ujung tombaknya pendidikan. Pendidikan itu bukan membuat orang pandai tetapi membuat orang berbudaya.Oleh sebab itu pendidikan dikatakan sebagai proses pembudayaan.

Siak (Humas) – Kemajuan suatu bangsa ditentukan kualitas sumber daya manusianya.  Bicara kualitas sumberdaya manusia, maka ujung tombaknya pendidikan. Pendidikan itu bukan membuat orang pandai tetapi membuat orang berbudaya.Oleh sebab itu pendidikan dikatakan sebagai proses pembudayaan.

Demikian disampaikan Deputi IV Kementerian Koordinator Pembangunan manusia dan Kebudayaan Prof DR HR Agus Sartono saat mengunjungi MA Insan Cendikia Siak, Selasa (31/03).

“Jadi, pastikan di MA Insan Cendikia ini nanti kita menghasilkan anak didik itu berbudaya.Membuat anak-anak pintar matematika tiga bulan saja bisa.Tapi membuat anak berbudaya butuh waktu lama.Membuat anak pintar matematika cukup tiga bulan tapi mendidik anak untuk pandai antri, memerlukan waktu dua belas tahun. Lalu pertanyaannya, apa hubungan antri dengan bernegara? Ah banyak sekali, antri itu mengajarkan toleransi, mengajarkan macam-macam,” lanjut Prof Agus Sartono.

“Pendidikan itu untuk duapuluh tahun ke depan, bukan untuk besok pagi. Jadi MA IC ini merupakan legacy untuk menciptakan pemimpin di masa depan. Jika setiap provinsi ada MA IC seperti ini maka saya yakin Indonesia ke depan akan jauh lebih maju. Dengan adanya MA IC ini tidak ada lagi alas an bagi anak-anak cerdas untuk tidak melanjutkan studi sampai ke perguruan tinggi. Pastikan anak-anak Indonesia yang tidak mampu mendapatkan kartu Indonesia pintar,” kata Deputi IV.

“Menurut Ki Hajar Dewantara, hanya tiga proses pendidikan. Niteni, nirokki, nambahi. Melihat mengamati, meniru dan menambahi. Selesai,” lanjut Deputi lagi.

Lebih lanjut Prof Agus Sartono bahwa kunci dari proses pendidikan, pembudayaan itu adalah guru karena anak itu melakukan tiga hal tadi. “Jadi Pak Kakanwil, seleksi betul guru-guru untuk MA IC ini. Sejak pertama, terapkan zero tolerant untuk penyimpangan. Dan jadikan MA IC ini sebagai pendidikan Insan Cendikia Berkarakter. Sehingga MA IC ini nantinya menjadi center of excellent. Kalau lulusan dari sini tidak bias hebat, ya percuma.Untuk itu tidak boleh ada yang nyontek. Dan gurunya pun jangan ada yang ngajari.Itu pelajaran sederhana diucapkan tapi sulitditerapkan. Jadi, tanamkandalam hati anak tersebut masalah integritas. Pilihlah guru-guru yang hebat, berintegritas dan jadikan MA Insan Cendikia ini menjadi Insan Cendikia Berkarakter,” lanjut Prof Agus Sartono.

Di akhir sambutannya, Deputi IV Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan berharap agar MA Insan Cendikia Siak menjadi tempat belajar bagi provinsi lain. Untuk itu beliau berpesan agar proses berdirinya MA IC Siak agar dibukukan. (ghp)