0 menit baca 0 %

Menggugah, Ini Dia Tiga Cerita Haru Peserta Test SKB CPNS Kemenag Riau 2018

Ringkasan: Riau (Inmas) Test SKB Seleksi CPNS 2018 dilaksanakan serentak seluruh Indonesia sejak Senin (17/12) lalu. Melalui situs website Kemenag peserta terus melakukan update data dan informasi terkait pelaksanaan test CPNS 2018. Hingga hari kedua ini, Selasa (18/12) sore Tim Inmas Kemenag Riau menemukan ki...

Riau (Inmas) – Test SKB Seleksi CPNS 2018 dilaksanakan serentak seluruh Indonesia sejak Senin (17/12) lalu. Melalui situs website Kemenag peserta terus melakukan update data dan informasi terkait pelaksanaan test CPNS 2018. Hingga hari kedua ini, Selasa (18/12) sore Tim Inmas Kemenag Riau menemukan kisah kisah tak terduga sepanjang tes SKB CPNS dilangsungkan. 

Ada sejumlah fakta menarik dan haru dari para peserta SKB CPNS kali ini. Tiga pejuang wanita yang ingin meraih mimpi menjadi ASN ini adalah  satu orang Busui (ibu menyusui), dan dua ibu hamil yang usia kandungan mereka sama sama sudah menginjak usia 36 minggu. 

Untuk menggapai semua impian memang harus ada pengorbanan. Salah satunya dilakukan peserta test SKB CPNS 2018 Nabilah Hasibuan. Meski masih belum merasa fit pasca melahirkan anak ketiganya. Ia harus berjibaku dengan sejumlah soal soal pada waktu test SKD saat masih menjalani masa nifas.

Diketahui, peserta yang akrab disapa Nabila ini merupakan salah seorang tenaga pendidik bidang studi Bahasa Arab di MAN IC Siak. Ia mengaku kaget menerima pengumuman bisa mengikuti test SKB, berkat dukungan suaminya Ia berusaha untuk menjadi salah satu yang lolos pada seleksi CPNS Kemenag Riau tahun ini.

“Saya melahirkan anak ketiga ini melalui operasi Caisar, jadi masih merasakan pusing pusing jika beraktivitas banyak”, ucapnya mengawali cerita. Ibu tiga anak ini mengaku pada saat mengikuti test SKD yang lalu, ia hanya mampu menjebol passing grade 333. “TKP saya gagal, nilai saya hanya 138 jadi selisih 5 angka dari batas minimal Passing grade TKP”, tapi Alhamdulillah saya bersyukur sekali bisa lolos melalui aturan baru P2 (perangkingan) ini, bahkan saya berada pada peringkat kedua dari 21 orang peserta lain, sebutnya. “Formasi guru Bahasa Arab ini termasuk langka, belum tentu ada formasi lagi di tahun tahun berikutnya, saya berharap bisa lulus tahun ini”, ungkapnya.

Ia merasa menjadi yang paling tua diantara peserta yang masih berusia muda muda. “Saya mulai dengan bismillah saja, bermodal kepercayaan diri berusaha mengerjakan soal soal semaksimal mungkin, dan mudah mudahan ini rejeki anak saya berangkat ke Pekanbaru untuk ikut test, bersyukur bisa sampai ke tahap SKB ini diusia saya yang sudah tidak muda lagi ketimbang peserta lain”, ucapnya berkisah. Kemudian lanjut dia, untuk mengikuti test ia pun memboyong ketiga anaknya yang masih balita ke Pekanbaru. “Tak sanggup saya meninggalkan anak anak yang masih bayi semua, anak pertama saja belum berusia empat tahun, anak kedua baru 2 tahun tiga bulan, dan yang bontot masih berusia dua bulan, ucapnya dengan ekspresi berkaca kaca. 

Alumni Pondok Musthawiyah Purba  Baru Sumut ini mengaku sudah dua malam menyewa hotel di Pekanbaru.” Biar lebih dekat menyusui anak saya pilih hotel Arya Duta yang tak begitu jauh dari Lokasi Ujian SKB ini.”Pagi saya sapih dulu ASInya, biar bisa disimpan di kulkas”, terangnya. Ia mengaku saat psikotest ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari keluarganya. “ Rupanya anak saya demam, begitu selesai psiko Test saya langsung menuju hotel”, ucapnya sembari berlinang air mata. “Semoga ini rejeki anak Sholeh”, katanya.

Ia bercerita persiapannya menghadapi test, dengan mempelajari soal soal yang menyangkut Bahasa Arab yang di share melalui grup, atau melalui media online. “Filenya saya copy dan saya print, itu saja yang saya olah selama belajar”, terang alumni IAIN Imam Bonjol Padang ini. “

Ada juga peserta lainnya yang rela dan semangat berjuang membopong perut yang sudah berusia 36 minggu bisa mengikuti test CPNS, peserta atas nama Novami Lestari Rahayu yang tengah hamil besar ini mengaku bersyukur bisa lolos ke tahapan SKB dari hasil maksimal passing grade 347 yang dicapainya dan berhasil menembus peringkat pertama pada formasi yang dipilih. Alumni Fakultas Psikologi USU ini mengambil formasi Guru BK pada test CPNS Tahun ini. Menurutnya dalam menghadapi test perlu persiapan yang matang agar tidak kagok saat menyelesaikan soal soal ujian. “Saya belajar, beli buku dan baca baca soal CPNS di Gramedia, yang utama latihan menjawab soal soal saja selama persiapan”, sebutnya bercerita.”Kebetulan saya anak psikologi yang sudah wara Wiri mempelajari TWK, jadi nilainya maksimal Alhamdulillah”, sebutnya lagi. Sebelum ini pernah ikut test PNS tapi gagal di TWK, kenangnya melanjutkan cerita.

Ia berharap sistem rekrutmen CPNS Kemenag Riau berjalan transparan, jujur dan memang tidak ada isu isu seperti yang terjadi di Kementerian lain. Semoga Kemenag betul betul mendapatkan calon ASN yang berkuakitas, harapnya. Meskipun terkadang dengan tertatih melangkahkan kaki saya tetap semangat menjalani tahapan tahapan test ini, ungkapnya wanita cantik berkulit putih ini. 

Hal yang sama juga dialami peserta bernama Windi Yolanda SPd. Alumni Kampus UIR ini mengatakan  usia kandungannya saat memasuki usia kandungan delapan bulan saat menjalani test SKD beberapa waktu yang  lalu. dan sekalipun saat ini usia kehamilan sudah tinggal menghitung hari untuk lahiran anak pertamanya, tak menyurutkan nyalinya ikut test CPNS. “Saya tak menyangka bisa lolos hingga ke tahap SKB, karena saya lolos dari P2”, katanya. Ia mengaku, berkat dukungan suami dan orang tua ia mampu melewati tahapan test dengan lancar tanpa ada kendala. Ia menumpang kan harapan besar agar Kemenag mampu menjaring ASN dengan jujur adil dan transparan dalam pelaksanaan seleksi CPNS  2018. (Vera/Adi)