Pekanbaru (Kemenag). Upaya membangun kembali masa depan anak bangsa kembali dihadirkan melalui pembinaan remaja napiter (narapidana terorisme) yang difasilitasi Dinas Sosial Kota Pekanbaru. Kegiatan pembinaan ini sebagai ruang pemulihan spiritual, mental, dan sosial bagi remaja yang sempat terjerumus dalam pemahaman dan arah hidup yang keliru.
Pembinaan dilakukan oleh Densus 88 yang bekerjasama dengan IPARI Kota Pekanbaru, Dinas Sosial, Psikolog, Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan dan Kesbangpol. Untuk pembinaan agama langsung dilakukan oleh Busihat Abdullah, S.Ag, MH selaku ketua IPARI kota Pekanbaru dan juga penyuluh Agama Kementerian Agama Kota Pekanbaru. Pembinaan dilakukan sebanyak dua kali pertemuan pada hari kamis.
Pada sesi terakhir tadi, kamis 18 Desember 2025, beliau didampingi oleh Suhaimi, S.Ag, yang bersama-sama hadir memberikan penguatan keagamaan, pendampingan moral, serta arah hidup baru bagi remaja tersebut.
Sinergi lintas lembaga ini menjadi bentuk kepedulian untuk memastikan keselamatan dan pemulihan menyeluruh bagi anak yang telah mengalami tekanan psikis dan sosial.
Remaja tersebut sebelumnya teridentifikasi oleh Densus 88. Perjalanan kelamnya bermula dari aksi bullying yang dialami berulang-ulang. Luka batin itu mendorongnya mencari jalan pelampiasan melalui media sosial, hingga ia terpapar konten paham radikal dan ekstrem yang menjerat emosinya. Trauma, dendam, dan rasa terasing membuatnya hampir kehilangan arah, sebelum pendampingan ini hadir sebagai pijakan pulang.
Busihat Abdullah menyampaikan pesan penting untuk sekolah, orang tua, dan masyarakat, agar lebih peka terhadap tumbuh kembang anak, terutama di usia remaja yang rentan terprovokasi. Bagi mereka yang pernah menjadi korban bullying, perhatian, kasih sayang, dan pembinaan adalah kebutuhan mendasar.
“Remaja seperti ini harus didampingi dengan cinta, dikuatkan iman dan kepercayaan dirinya, serta distabilkan emosinya,” ujarnya.
Pembinaan ini bukan sekadar kegiatan rutin. Ia adalah upaya membuka pintu kembali, menggenggam harapan yang retak, menata jalan pulang yang sempat hilang, dan mengembalikan masa depan seorang anak bangsa ke pangkuan damai. Remaja itu mungkin pernah tersesat, namun setiap langkah pembelajaran hari ini mengarahkannya pada cahaya baru yang lebih cerah.
(YOY)