Kampar (Kemenag) --- Hari ini menjadi hari terakhir sebelum pembubaran Pengurus OSIM MTsN 5 Kampar Periode 2024–2025. Sebelum resmi dibubarkan, para pengurus mengadakan kegiatan Study Tour yang dilepas oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Neni Sriwahyuni, S.Pd, serta didampingi oleh Pembina OSIM Rahmini, S.Pd dan Eva Lindra, S.Pd, Kamis (20/11/25).
Dalam kegiatan ini, pengurus OSIM bersama guru pendamping mengunjungi destinasi wisata edukasi Museum Daerah Riau Sang Nila Utama, sesuai rekomendasi dari Kepala Madrasah M. Sahlan Putra Tama, S.Si., M.Pd. Menurut beliau, museum ini merupakan tempat yang sangat tepat dikunjungi karena dapat menambah wawasan umum, mengenalkan warisan leluhur, mempelajari sejarah budaya Melayu, serta memperluas pengetahuan tentang kehidupan masyarakat Riau di masa lampau.
Museum Sang Nila Utama menyimpan berbagai koleksi berharga berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Melayu Riau, seperti pakaian adat, alat musik, hingga artefak tradisional. Kunjungan ini juga menjadi wujud pelestarian budaya melalui penghargaan terhadap benda-benda bersejarah dan warisan leluhur. Museum berperan penting dalam menjaga dan merawat peninggalan masa lampau agar generasi mendatang tetap dapat melihat peradaban yang dimiliki Provinsi Riau sekaligus memperkuat identitas nasional serta menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Usai mengunjungi museum, Najwa Junisyafitri selaku Ketua OSIM bersama anggotanya mengungkapkan bahwa mereka menemukan banyak istilah Melayu serta alat tradisional yang sebelumnya belum pernah mereka ketahui.
“Alat untuk menangkap ikan yang terbuat dari bambu itu ternyata namanya Luka, dan tempat untuk menampi beras disebut Nyiru,” ujar Najwa dan para anggota OSIM lainnya.
Kegiatan Study Tour ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya Melayu Riau. Dengan memahami sejarah dan budaya lokal, siswa diharapkan menjadi lebih peduli terhadap pelestarian budaya dan memiliki karakter aktif dalam pembelajaran.
Pembina OSIM MTsN 5 Kampar, Rahmini, S.Pd, menyampaikan pesan penuh makna: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Kunjungan ini memberikan pembelajaran bahwa dari mana pun kita berasal, kita wajib menghormati adat istiadat, aturan, dan budaya setempat, termasuk ketika berada di tempat baru yang kita kunjungi.
(rm/fatmi)