Indragiri Hulu (Kemenag) – Di tengah perkampungan Kulim Jaya yang sejuk dan asri, langkah-langkah kecil rombongan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lubuk Batu Jaya pada Rabu Lalu menandai semangat besar: membangun masa depan pendidikan Qur’ani yang lebih layak dan berdaya. Kunjungan mereka ke Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Sirojul Ulum bukan sekadar agenda administratif, tetapi bagian dari gerakan pembinaan dan pendataan kelembagaan yang menyentuh langsung denyut kehidupan pesantren.
Dalam balutan suasana
sederhana, namun penuh makna, lima perwakilan KUA—Huda Budiarto, Muslinah,
Muhammad Miftahul Munir, Hafid Firmansyah, dan Rena Wati—datang membawa misi
ganda: sosialisasi sekaligus pendataan sarana dan prasarana pesantren. Mereka
disambut dengan hangat oleh pimpinan pesantren, Kyai Mohammad Kodi, bersama
para santri yang tengah menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Kegiatan ini sejatinya
menggambarkan sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan keagamaan dalam
memastikan setiap pesantren memiliki fasilitas yang layak, aman, dan mendukung
proses pendidikan santri. “Kami datang tidak hanya untuk mencatat data, tetapi
juga untuk memastikan setiap sarana di pesantren sesuai standar yang dapat
menunjang kualitas pendidikan dan kesehatan santri,” ujar Hafid Firmansyah,
penuh keyakinan.
Pernyataan itu selaras dengan
penegasan Huda Budiarto yang menyebutkan bahwa pendataan ini merupakan bagian
dari upaya menciptakan basis data akurat untuk perencanaan pembangunan jangka
panjang. “Dengan data yang valid, pemerintah dapat menyalurkan bantuan sarana
prasarana secara tepat sasaran. Ini bukan hanya tentang pembangunan fisik,
tetapi juga investasi spiritual bagi generasi Qur’ani,” katanya.
Di sela kegiatan, tim KUA
bersama pengelola pesantren meninjau ruang-ruang belajar, asrama, tempat wudhu,
serta dapur yang menjadi bagian vital dalam keseharian para santri. Tidak
jarang terdengar tawa kecil di antara percakapan, seolah menjadi tanda bahwa
pendataan ini bukan semata tugas birokrasi, tetapi juga bentuk kepedulian dan
empati terhadap perjuangan pesantren dalam mendidik generasi berakhlak mulia.
Kyai Mohammad Kodi tampak
terharu saat menyampaikan apresiasinya. “Kami sangat terbantu dengan kedatangan
KUA. Selama ini kami berjuang dengan keterbatasan, namun dengan adanya
pendataan ini, kami berharap kekurangan sarana bisa segera teratasi, demi kenyamanan
santri yang sedang berjuang menghafal kalamullah,” ungkapnya tulus.
Hasil pendataan awal yang
diperoleh KUA akan diolah menjadi laporan resmi sebagai dasar rekomendasi
pengembangan sarana pendidikan pesantren di wilayah Lubuk Batu Jaya. Langkah
kecil ini diyakini akan membawa dampak besar—bukan hanya bagi Sirojul Ulum, tetapi
juga bagi pesantren-pesantren lain yang menjadi benteng moral dan spiritual
masyarakat.
Kunjungan ini menjadi bukti
bahwa pembangunan keagamaan tidak selalu berbentuk proyek besar atau gedung
megah. Kadang ia hadir lewat sentuhan kecil—melalui pendataan, perhatian, dan
kehadiran—yang mampu menyalakan kembali semangat pesantren untuk terus menebar
cahaya ilmu dan iman di tengah masyarakat.
(Reski)