0 menit baca 0 %

Menata Cahaya dari Pesantren: KUA Lubuk Batu Jaya Petakan Arah Pembangunan Tahfidz Sirojul Ulum

Ringkasan: Indragiri Hulu (Kemenag) Di tengah perkampungan Kulim Jaya yang sejuk dan asri, langkah-langkah kecil rombongan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lubuk Batu Jaya pada Rabu Lalu menandai semangat besar: membangun masa depan pendidikan Qur ani yang lebih layak dan berdaya.

Indragiri Hulu (Kemenag) – Di tengah perkampungan Kulim Jaya yang sejuk dan asri, langkah-langkah kecil rombongan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lubuk Batu Jaya pada Rabu Lalu menandai semangat besar: membangun masa depan pendidikan Qur’ani yang lebih layak dan berdaya. Kunjungan mereka ke Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Sirojul Ulum bukan sekadar agenda administratif, tetapi bagian dari gerakan pembinaan dan pendataan kelembagaan yang menyentuh langsung denyut kehidupan pesantren.

Dalam balutan suasana sederhana, namun penuh makna, lima perwakilan KUA—Huda Budiarto, Muslinah, Muhammad Miftahul Munir, Hafid Firmansyah, dan Rena Wati—datang membawa misi ganda: sosialisasi sekaligus pendataan sarana dan prasarana pesantren. Mereka disambut dengan hangat oleh pimpinan pesantren, Kyai Mohammad Kodi, bersama para santri yang tengah menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Kegiatan ini sejatinya menggambarkan sinergi antara pemerintah dan lembaga pendidikan keagamaan dalam memastikan setiap pesantren memiliki fasilitas yang layak, aman, dan mendukung proses pendidikan santri. “Kami datang tidak hanya untuk mencatat data, tetapi juga untuk memastikan setiap sarana di pesantren sesuai standar yang dapat menunjang kualitas pendidikan dan kesehatan santri,” ujar Hafid Firmansyah, penuh keyakinan.

Pernyataan itu selaras dengan penegasan Huda Budiarto yang menyebutkan bahwa pendataan ini merupakan bagian dari upaya menciptakan basis data akurat untuk perencanaan pembangunan jangka panjang. “Dengan data yang valid, pemerintah dapat menyalurkan bantuan sarana prasarana secara tepat sasaran. Ini bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga investasi spiritual bagi generasi Qur’ani,” katanya.

Di sela kegiatan, tim KUA bersama pengelola pesantren meninjau ruang-ruang belajar, asrama, tempat wudhu, serta dapur yang menjadi bagian vital dalam keseharian para santri. Tidak jarang terdengar tawa kecil di antara percakapan, seolah menjadi tanda bahwa pendataan ini bukan semata tugas birokrasi, tetapi juga bentuk kepedulian dan empati terhadap perjuangan pesantren dalam mendidik generasi berakhlak mulia.

Kyai Mohammad Kodi tampak terharu saat menyampaikan apresiasinya. “Kami sangat terbantu dengan kedatangan KUA. Selama ini kami berjuang dengan keterbatasan, namun dengan adanya pendataan ini, kami berharap kekurangan sarana bisa segera teratasi, demi kenyamanan santri yang sedang berjuang menghafal kalamullah,” ungkapnya tulus.

Hasil pendataan awal yang diperoleh KUA akan diolah menjadi laporan resmi sebagai dasar rekomendasi pengembangan sarana pendidikan pesantren di wilayah Lubuk Batu Jaya. Langkah kecil ini diyakini akan membawa dampak besar—bukan hanya bagi Sirojul Ulum, tetapi juga bagi pesantren-pesantren lain yang menjadi benteng moral dan spiritual masyarakat.

Kunjungan ini menjadi bukti bahwa pembangunan keagamaan tidak selalu berbentuk proyek besar atau gedung megah. Kadang ia hadir lewat sentuhan kecil—melalui pendataan, perhatian, dan kehadiran—yang mampu menyalakan kembali semangat pesantren untuk terus menebar cahaya ilmu dan iman di tengah masyarakat.

(Reski)