0 menit baca 0 %

Menag: Seni dan Agama, Gabungkan!

Ringkasan: Bekasi (Humas) - Seni adalah mengasah hati kita, mengasah sensitifitas kita, mengasah intelektualitas kita. Untuk itu seni harus dikembangkan. Seni membuat segalanya menjadi indah dan berarti. Agama dan seni menjadi penggabungan yang baik. Kalau anak kita punya keduanya, maka yakinlah kita telah men...

Bekasi (Humas) - Seni adalah mengasah hati kita, mengasah sensitifitas kita, mengasah intelektualitas kita. Untuk itu seni harus dikembangkan. Seni membuat segalanya menjadi indah dan berarti. Agama dan seni menjadi penggabungan yang baik. Kalau anak kita punya keduanya, maka yakinlah kita telah mencetak generasi muda bangsa yang paripurna, yang akan menjayakan Indonesia tercinta di masa depan.

Demikian disampaikan H Suryadharma Ali, Menteri Agama RI saat membuka helat Pentas PAI di aula Embarkasi Bekasi Jawa Barat, Senin (25/11). Pada kesempatan itu hadir 16 kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama se Indonesia, termasuk Kakanwil Kemenag Provinsi Riau, Drs H Tarmizi Tohor MA.

Pada kesempatan itu, Menteri Agama bangga dengan Pentas PAI, karena semua  siswa SD sampai SMA yang terlibat pada Pentas PAI pakai jilbab. Ini menandakan pengajaran Agama Islam di sekolah sudah berhasil. “Tapi jangan bangga dulu karena tantangan masih banyak. Tantangan itu meningkatkan kewaspadaan kita,” kata Menteri.

Pentas PAI VI ini bermotto: Sportif Berkompetisi,  Raih Prestasi dan Bumikan PAI. Menurut Menteri Agama, pendidikan agama itu sangat penting karena tujuan pendidikan, selain membentuk anak bangsa beriman bertakwa dan menguasai iptek, juga berakhlakul karimah. “Bumikan PAI, karena tantangannya kini besar sekali. Kini, di Koran dan televisi sering kita baca berita tentang problematika sekolah masih banyak, seperti kenakalan remaja, tawuran, mengonsumsi narkoba, menjadi anggota geng motor, senior membudayakan kekerasan kepada juniornya, bahkan yang sangat  mengejutkan adalah beredarnya video asusila yang pelakunya adalah anak-anak sekolah. Ini sagat memalukan dan memilukan. Di sinilah peran guru PAI untuk menanamkan kedisiplinan pada siswa,” lanjut menteri.

Selanjutnya, Menteri Agama berpesan supaya guru agama harus memposisikan diri sebagai benteng moral anak bangsa.
“Saya berpesan kepada para guru PAI di sekolah supaya menerapkan disiplin pada siswa. Adakan razia secara berkala, mana tahu ada anak kita yang membawa narkoba dan lain sebagainya yang dapat merusak mental mereka. Guru agama, mesti berada di garda depan melindungi moral anak kita. Guru PAI harus mewarnai pendikan di sekolah, mewarnai karakter bangsa kita,” pesan Menag.

Menag kembai mengulas motto Pentas PAI VI dan mengingatkan para siswa. “Hidup ini adalah kompetisi, siapa yang memenangkan kompetisi ia akan berada di depan. Kalian adalah harapan bangsa. Penerus kami-kami yang berusia senja. Bangsa ini tergantung di tangan kalian. Baik buruknya bangsa ke depan tergantung pada generasi muda hari ini, lanjut Menag.

Bangsa ini tanggungjawab generasi sekarang. Karenanya para siswa mesti meraih prestasi karena ilmu terus berkembang, masyarakat terus berkembang. “Jika ilmu kita stagnan maka kita akan digilas zaman. Indonesia yang akan datang akan dikuasai oleh manusia berilmu. Jika anak bangsa tidak berilmu maka bangsa akan dikuasai oleh bangsa lain.”

“Iptek tidak sempurna jika tidak beragama. Imbangkan dengan pengetahuan agama. Tanpa agama semua pengetahuan tidak akan sempurna. Keterampilan di sekolah mesti ditingkatkan. Agama jangan diajarkan di buku saja tapi dipraktekkan. Untuk itu setiap sekolah mesti punya musalla. Guru PAI, saya dorong agar punya musalla yang refresentatif di sekolah masing-masing.”

Menteri menganggap Pentas PAI penting. Untuk itu ia berharap agar ke depan terus dilaksanakan.

“Selamat Pentas PAI. Selamat hari ulangtahun guru. Mudah mudahan dalam usia ke-68, guru semakin berprestasi dan semakin meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. Terutama mencetak generasi bangsa yang dibanggakan.” (ghp)