Menag RI : MQKN, Olimpiadenya Pondok Pesantren
Jepara (Inmas) - Pondok pesantren merupakan miniatur Indonesia, pesantren telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sejarah perjalanan bangsa, tanpa pesantren belum tentu NKRI ini ada. Hal tersebut ditegaskan Menag RI saat mengawali sambutan prosesi pembukaan MQK ke-VI di Jepara, Jum'at (01/12) di Lapangan Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara, Jateng.
Sejak diproklamirkannya hari santri pada 22 Oktober Tahun 2015Â di Masjid Istiqlal Jakarta beberapa tahun yang lalu adalah sebagai upaya untuk memperkuat pondok pesantren, tutur Menag.
Sudah kita rasakan bersama, betapa khazanah keilmuan pondok pesantren sangat luarbiasa. Literatur kitab kuning yang ada di pondok telah dijadikan basis keilmuan dalam musabaqah ini. Santri akan diuji dalam tulisan tanpa harakat atau kitab gundul, dengan berlomba memahami dan mengartikulasikan teks itu di hadapan dewan hakim, sambungnya. Bahkan lomba debat konstitusi berbasis kitab kuning pun melengkapi musabaqah ini.Â
Lebih dari itu Menag mengatakan pada tanggal 6 September lalu presiden telah menandatangani peraturan presiden No 27 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan era baru dihadapan pimpinan ormas islam. Tentu hal ini sangat perlu kita apresiasi, jelasnya.
"Pondok pesantren sebagai garda terdepan, harus menciptakan kitab kuning sebagai basis kajiannya, semangat sebagai harapannya, MQK sebagai kebiasaan hariannya, mencintai ilmu pengetahuan sebagai kesukaannya, toleransi antar sesama sebagai sikapnya, membela eksistensi bangsa dan NKRI sebagai taruhannya", pesan Menag.
"Untuk itu sesungguhnya pesantren bukan hanya milik diri pesantren itu sendiri, namun juga milik kita semua, milik Indonesia", tandas LHS.
Selain itu, lanjutnya, lomba eksibisi atau pertunjukan atraktif yang diadakan pada MQKN ke VI ini tentang nazham kitab populer di pesantren, yang diisi oleh tim sebanyak lima orang maksimal setiap kafilah makin menyemarakkan kegiatan dua tahunan ini.
Karena itu sudah sepatutnya pemerintah pusat maupun daerah membuktikan rasa kepedulian dan perhatiannya untuk membantu pesantren dan juga lembaga pendidikan Islam lainnya. Pihaknya mengaku akan terus berupaya meningkatkan alokasi APBN untuk pesantren. Begitu pula APBD pemprov maupun pemkab setempat hendaknya juga turut memberikan dukungan dan menyediakan alokasi yang cukup untuk pesantren yang ada di daerah masing masing.Â
Pada kesempatan itu Lukman menghimbau agar harmonisasi antara kementerian agama dalam membangun pondok pesantren harus dilakukan secara sinergis, intensif sehingga secara periodik kita dapat mewujudkan yang lebih baik kedepan, ucapnya berharap.
Maka tak dapat dipungkiri bahwa instrumen dan pendidikan agama begitu penting. Agama harus dijadikan basis sebagai upaya untuk mendorong kerukunan antar sesama dan merajut kebersamaan, dalam menciptakan peradaban dunia, tekannya lagi.
Menag menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai agama yang suci untuk manusia. Maka jadikanlah pendidikan agama sebagai sarana untuk melahirkan generasi yang berakhlak dan berkemajuan, ucap Lukman.
Pihaknya mengaku terus menjadikan pendidikan Islam sebagai destinasi pendidikan Islam dunia. Terakhir ia menyampaikan ucapan terimakasih kepada para ulama dan parab kyai serta seluruh pimpes yang terus aktif memupuk semangat keislaman baik dikalangan santri maupun masyarakat luas dengan nilai keindonesiaan, tutupnya.
Sebagai informasi, kegiatan MQK ke VI makin terasa meriah ditunjang oleh beragam kegiatan halaqah, sarasehan, musyawarah MQK, bazar dan pameran produk produk pesantren, diskusi kepesantrenan dan kitab kuning serta pentas seni kaum santri setiap malam selama kegiatan berlangsung hingga penutupan nanti.(vera)