0 menit baca 0 %

Menag: Kementerian Agama Bukan Sarang Korupsi

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan bahwa kementerian yang dimpimpinnya bukan "sarang" korupsi, karena jajarannya telah bekerja bersih. Penegasan tersebut disampaikan di hadapan para peserta Rapat Kerja (Raker) Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Riau Tahun 2011, Selasa...
Pekanbaru (Humas)- Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan bahwa kementerian yang dimpimpinnya bukan "sarang" korupsi, karena jajarannya telah bekerja bersih. Penegasan tersebut disampaikan di hadapan para peserta Rapat Kerja (Raker) Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Riau Tahun 2011, Selasa (4/1) malam di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru. Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, ada yang pihak yang menuduh Kemenag sarang korupsi. Pernyataan tak berdasar itu harus diwaspadai karena memang jajaran kementerian memberikan jawaban dengan kerja bersih. Karena itu, ia minta jajaran Kementerian Agama di daerah ini dapat bekerja bersih, bekerja sesuai dengan koridor dan aturan yang berlaku. "Kementerian Agama (Kemenag) selalu menjadi sorotan masyarakat, sedikit saja kesalahan yang diperbuat maka effeknya sangat drastis dibandingkan dinas atau badan instansi lainnya. Untuk itu, Kemenag harus berupaya keras untuk menghapus image yang selama ini melekat, nyaitu sebagai tempat korupsi khususnya yang terkait dengan pelaksanaan haji," ungkapnya dihadapan ratusan undangan yang hadir. Ia berharap seluruh jajaran di Kementerian Agama Riau dapat memahami reformasi birokrasi dan mengimplementasikannya dengan benar. Termasuk tata kelola pemerintahan yang baik. Esensi reformasi birokrasi, kata Menag, menjalankan pemerintahan sesuai koridor, transparan, akuntabel dan berdasarkan aturan yang berlaku. Biasanya, masyarakat menilai birokrasi berkaitan erat dengan pelayanan. Menurut Suryadharma Ali, birokrasi pemerintahan dipahami sebagai sesuatu yang mudah menjadi sulit. Kalau ada pelayanan mudah, dibuat sulit. Kalau pelayanan singkat, dibuat panjang dengan sejumlah rekomendasi. Biaya murah menjadi mahal. "Ini tak boleh terus berlangsung," pungkasnya. (msd)