Menag: Berdosa Kalau Mutu Pendidikan Agama Jalan di Tempat
Ringkasan:
Jakarta, (Pinmas)--Menteri Agama Suryadharma Ali meminta aparatnya bekerja keras lebih keras meningkatkan mutu pendidikan agama, dengan demikian menaikkan kepercayaan publik akan kesungguhan dan kemampuan aparat Kementerian Agama. "Rasanya berdosa kalau terjadi penurunan (mutu) atau jalan ditempat,"...
Jakarta, (Pinmas)--Menteri Agama Suryadharma Ali meminta aparatnya bekerja keras lebih keras meningkatkan mutu pendidikan agama, dengan demikian menaikkan kepercayaan publik akan kesungguhan dan kemampuan aparat Kementerian Agama.
"Rasanya berdosa kalau terjadi penurunan (mutu) atau jalan ditempat," kata Menag saat membuka rapat pimpinan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam di operation room Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (18/3).
Menurut Menag, peningkatan anggaran pendidikan Islam yang cukup signifikan dari sekitar Rp 6 trilyun pada tahun 2005 menjadi Rp 23 trilyun pada tahun 2010 attau hampir mencapai 4 kali lipat harus dimanfaatkan secara optimal dan sebaik mungkin.
"Akan sangat disayangkan jika peningkatan anggaran tidak berdampak pada perbaikan sarana, mutu guru, kemajuan prestasi siswa dan peningkatan tata kelola pada satuan-satuan pendidikan Islam," papar Menag.
Menag juga memaparkan Instruksi Presiden No. 1 tahun 2010 tentang Percepatan Prioritas Pembangunan Nasional. Dalam Inpres ini Kementerian Agama bertanggungjawab dalam pencapaian target pembangunan bidang pendidikan antara lain, peningkatan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada madrasah ibtidaiyah/ tsanawiyah dan PPS Ula/wustho.
Selain itu program beasiswa untuk siswa dan mahasiswa miskin. Pemberian makanan tambahan anak sekolah untuk siswa RA dan MI terutama di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan. Juga peningkatan kualitas guru agama dan relevansi pendidikan di madrasah, pesantren dan perguruan tinggi agama Islam.
Mengenai penyelenggaraan Madrasah Bertaraf Internasional, Menag menilai MBI jangan menjadi beban moral, sehingga lebih merugikan di kemudian hari. "Lebih baik rugi 20 milyar daripada 1 trilyun, belum lagi kerugian moral," ujarnya.
Menurut Menag, MBI sulit diwujudkan apabila semua serba baru, tanah, gedung, guru dengan rekrutmen baru semua. Potensi kegagalan lebih besar dibanding dengan proses berjenjang. "Tidak ujug-ujug, tapi dengan persiapan yang bagus," tambahnya.
Namun demikian lanjutnya, program MBI tetap dilanjutkan, tapi dengan melakukan pilihan pada madrasah unggulan, untuk kemudian ditingkatkan menjadi madrasah bertaraf internasional. "Apa yang kurang kita penuhi," kata Menag pada rapat yang dihadiri Dirjen Pendis Prof Mohammad Ali, pejabat eselon dua, tiga dan empat di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam. (ks)