MEMELIHARA LINGKUNGAN HIDUP TUGAS KEKHALIFAHAN
Ringkasan:
Persoalan lingkungan hidup adalah merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian cukup serius dari seluruh ummat manusia, sebab ummat manusia mengeban tugas sebagai Khlifah Allah di muka bumi dan sekaligus sebagai pemegang Amanah Allah di muka bumi, sebab manusialah yang bersedia mengemban Amanah...
Persoalan lingkungan hidup adalah merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian cukup serius dari seluruh ummat manusia, sebab ummat manusia mengeban tugas sebagai Khlifah Allah di muka bumi dan sekaligus sebagai pemegang Amanah Allah di muka bumi, sebab manusialah yang bersedia mengemban Amanah Allah seperti tertuang dalam Al-Quran, sebagai berikut : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh (Q.S. Al-Ahzab/33 : 72
Demikian disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Drs. H. Asyari Nur, SH. MM. yang diwakili oleh Kepala Kementerian Agama Kota Dumai Drs. H. Darawi, ketika memberikan sambutan pengarahan pada Pelatihan Lingkungan Hidup Bagi Pemuka Agama Se Kota Dumai pada hari Senin, 1 Maret 2010 bertempat di Hotel Comfort Dumai. Hadir dalam kesempatan tersebut Walikota Dumai yang diwakili oleh Asisten III, Kepala Pusat Lingkungan Hidup Regional Sumatera dan 40 orang pemuka agama yang menjadi peserta pelatihan.
Selanjutnya Asyari Nur menjelaskan, Sebagai kholifah, ummat manusia bertanggungjawab atas pengelolaan dan pemeliharaan bumi. Bumi bagi ummat manusia adalah merupakan rahmat yang harus disyukuri dengan sepenuh hati. Bentuk syukur atas alam raya ini dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu : Memelihara agar tetap lestari; Menikmati sebagai bekal dalam hidup dan kehidupan; dan Mengembangkan, dalam bentuk budidaya dan penanaman ulang.
Dikatakannya, seluruh alam raya diciptakan untuk digunakan ummat manusia dalam rangka melanjutkan hidup dan kehidupannya, sehingga mencapai tujuan penciptaannya, sebab semua ciptaan Tuhan pasti ada tujuannya dan tidak satupun di antara ciptaannya itu yang sia-sia.
Oleh karena itulah, jelas Asyari Nur yang juga Mursyid ini, dapat dipahami apabila Allah SWT memperingatkan ummat manusia agar jangan membuat kerusakan di muka bumi, sebab kerusakan di bumi pada dasarnya adalah merupakan akibat dari ulah manusia sendiri.
Etika Lingkungan Hidup
Asyari Nur lebih lanjut menjelaskan, bahwa salah seorang filsuf Muslim terkenal yang bernama Ibnu Tufail (lahir 1106 Masehi), merumuskan etika lingkungan hidup yang sangat khas dan apik. Beliau menyatakan, segala sesuatu yang ada di alam ini seperti tumbuhan, hewan dan sebagainya memiliki tujuan tertentu. Buah misalnya, dia keluar dari bunga, lantas menjadi masak dan ranum.bijinya jatuh di tanah kemudian tumbuh lagi menjadi pohon. Apabila ada orang yang memetik buah itu sebelum mencapai pertumbuhannya patutlah dicela dan tidak terpuji. Karena merintangi pertumbuhan buah tadi dalam mencapai tujuannya yang alami, sehingga berakibat adanya kelompok tumbuhan yang akan punah.
Ibnu Tufail juga menyatakan bahwa, orang yang memakan buah yang sudah masak lantas membuang bijinya ke laut, ke atas bebatuan atau ke tempat-tempat lain yang tidak memungkinkan biji tersebut tumbuh, yang bersangkutan telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji, sebab telah merintangi pertumbuhan biji. Dengan demikian, ia telah mengurangi peluang bagi jenis tumbuhan itu untuk dapat mengembangkan keturunannya secara lestari dan alami.
Menurut Tufail juga, orang tidak boleh memakan habis tumbuhan dan hewan langka karena itu berarti memusnahkan jenis makhluk hidup itu selama lamanya. (Ash).