Riau (Inmas)- Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pekanbaru
menjadi salah satu lembaga pendidikan yang ditunjuk oleh Kementerian Pemuda dan
Olahraga (Kemenpora) pada Pertukaran Pemuda Indonesia- Australia (PPIA) untuk
pelaksanaan program sharing seni dan kebudayaan Australia- Indonesia, selain sekolah
Dharma Yudha dan SMK 3 Pekanbaru.
Sharing dan penampilan kebudayaan 35 orang PPIA, Senin
(14/1/2019) di Halaman MAN 2 Pekanbaru dihadiri dan disaksikan langsung oleh para
guru dan seluruh siswa MAN 2 Pekanbaru. Acara berlangsung semarak dan penuh
keakraban, karena selain penampilan berbagai seni kebudayaan Indonesia- Autralia,
acara juga diwarnai dengan berbagai atraksi dan quis yang menambah wawasan dan
membuka cakrawala berfikir para siswa madrasah.
“Alhamdulillah kita ditunjuk sebagai salah satu lokasi pelaksanaan
program PPIA Kemenpora yaitu penampilan kebudayaan Indonesia dan Australia. Dengan
kegiatan ini membuka cakrawala berfikir anak- anak madrasah, karena kekayaan
informasi khususnya terkait pendidikan sangat dibutuhkan oleh anak- anak kita dalam
terus meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan,” ungkap Kepala MAN 2
Pekanbaru, Norerlinda M Pd yang sangat mengapresiasi kegiatan PPIA dan berharap
untuk masa yang akan datang, ada siswa MAN 2 Pekanbaru yang turut serta dalam
program ini, seperti salah seorang alumni MAN 2, Huzaifi Saman yang telah
bergabung dalam program PPIA. “Mudah- mudahan ada anak- anak kita yang
mengikuti jejak seniornya untuk aktif dalam program ini,” harapnya.
Salah seorang Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Riau yang
mengkoordinir kegiatan Sharing Kebudayaan di MAN 2 Pekanbaru, M Ar Huzaifi
Saman menuturkan, PPIA merupakan program Pemerintah Indonesai dan Autralia yang terjalin sejak 37 tahun lalu. Bertujuan
untuk mengembangkan dan memperluas generasi muda dalam menghadapi tantangan
global. Tahun 2018, PPIA terdiri dari 18 orang pemuda Autralia, dan 17 orang
dari Indonesia perwakilan dari berbagai provinsi dengan lokasi PPIA Pekanbaru dan Kabupaten Siak.
“Program ini berjalan selama 4 bulan setiap tahunnya, selama
pelaksanaan program disetiap ditetapkan 2 fase setiap Negara, fase pedesaan dan
fase perkotaan. Untuk di Indonesia PPIA Fase Perkotaan ditetapkan di Kota
Pekanbaru dan fase Pedesaan ditetapkan di Kabupaten Siak. Pada fese perkotaan,
pesera PPIA tinggal dirumah penduduk atau keluarga angkat yang telah
ditetapkan, dan mereka melaksanakan program kerja atau magang di Dinas
Pariwisata, Rumah Sakit, dan Instansi Pemerintah lainnya. Fase Pedesaan dilaksanakan di Kabupaten Siak, peserta PPIA juga tinggal pada keluarga angkat hidup dan bersosial di masyarakat. Saat ini kita sedang melakukan tahap akhir dari PPIA ini, salah satunya kita sedang
melakukan penampilan Kebudayaan di MAN 2 Pekanbaru selain di Dharma Yuda dan
SMK N 3 Pekanbaru,” jelas alumni MAN 2 Pekanbaru ini.
PPIA untuk tahun 2018 akan berakhir pada 23 Januari 2019,
dimana seluruh peserta PPIA akan bertolak ke Kemenpora untuk dipulangkan
kembali ke daerah asal masing- masing. “Program ini merupakan program tahunan, Alhamdulillah
tahun 2018 Riau menjadi daerah yang ditetapkan untuk program PPIA ini,”
ucapnya.
Lachlan Haycock salah seorang peserta PPIA asal Autralia
menuturkan, kurang lebih 4 bulan berada di Pekanbaru dan Siak Indonesia, banyak hal yang berkesan,
khususnya makanan dan keramahan orang- orang Melayu di Pekanbaru dan Siak.
“Kami senang sekali dapat bergabung dalam program ini, dan
saya sendiri baru pertama kali ke pulau Sumatera khususnya Pekanbaru. Menarik
sekali melihat perbedaan kota Pekanbaru dengan kota- kota lain yang di
Indonesia. Dan yang paling berkesan adalah makanan yang sangat enak, dan tak
kalah luar biasa adalah keramahan orang melayu baik di kota maupun di desa,
apalagi kami tinggal dikeluarga angkat jadi langsung berbaur dengan masyarakat
setempat. Untuk itu kami sangat menghargai ini,” ungkapnya dengan bahasa
Indonesia yang cukup faseh. (mus/ana)