Maknai Tahun Baru 1432 Hijriyah dengan Upaya Perbaikan dan Kemajuan
Ringkasan:
Pekanbaru (Humas)- Makna peringatan tahun baru Hijriyah (hijrah) adalah semangat dan tekad untuk selalu berupaya dan berusaha menciptakan perobahan masa depan kearah "perbaikan" dan "kemajuan". Perubahan tersebut dapat terwujud jika memenuhi syarat mutlak yang sangat menentukannya, yaitu persaudaraa...
Pekanbaru (Humas)- Makna peringatan tahun baru Hijriyah (hijrah) adalah semangat dan tekad untuk selalu berupaya dan berusaha menciptakan perobahan masa depan kearah "perbaikan" dan "kemajuan". Perubahan tersebut dapat terwujud jika memenuhi syarat mutlak yang sangat menentukannya, yaitu persaudaraan dan persatuan. Demikian diungkapkan Ka Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau Drs H Asyari Nur SH MM, melalui Kabid Penams Kemenag Riau HM Saman S Sos, M Si pada Tabligh AKbar dan Pembinaan Khatib dan Imam serta Peringatan Tahun Baru 1432 Hijriyah di Pondok Pesantren Darul Salikin Desa Mekar Jaya Kecamatan Kampar Kiri Tengah.
Menurutnya, mengenang atau memperingati peristiwa Hijrah adalah upaya kaum muslimin untuk menggali dan memahami hikmah atau pesan-pesan kehidupan yang terkandung dibalik peristiwa luar biasa tersebut. Sebagaimana diketahui, Rasulullah melakukan hijrah dengan maksud antara lain ingin mewujudkan keadaan yang lebih baik bagi umatnya, agar syiar Islam terpancar menjulang dan kaum muslim hidup berjaya dan sejahtera.
"Saat Rasulullah datang ke Madinah, yang pertama dilakukan adalah mempersaudarakan kaum anshar dan muhajirin dibawah payung iman dan Islam. Sehingga Muhajirin tidak merasakan dirinya sebagai pendatang dan Anshar tidak merasa sebagai masyarakat tempatan, tapi semua hidup diatas satu wilayah hampran bumi, bersatu dalam ikatan persaudaraan, merasa memikul tanggungjawab yang sama untuk bersama-sama membangun Madinah tercinta," ungkapnya.
Namun, lanjut Saman, bangsa saat ini tengah dihadapkan pada persoalan yang sangat besar yaitu terjadinya krisis multidimensional yang tidak berkesudahan, khususnya krisis moral. Untuk dapat keluar dari krisis yang melanda tersebut perlu dilakukan reaktualisasi terhadap makna hijrah sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Atau setidaknya dapat melakukan berbagai bentuk hijrah, seperti hijrah dalam bentuk mental, kultural, material dan sosial.
Pertama, hijrah mental yaitu melakukan perbaikan atas mentalitas diri pribadi masing-masing individu dari prilaku tidak terpuji menjadi perilaku terpuji, sikap rajin bekerja dan melakukan perubahan secara radikal atas sikap-sikap yang tidak sesuai dengan norma agama dan budaya dalam kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat, bangsa maupun negara.
Kedua; hijrah kultural yaitu melakukan perubahan atas budaya jelek yang selama ini melekat, sehingga dapat keluar dari kebodohan, dan keterbelakangan yang menyelimuti sebagian umat Islam. Ketiga; hijrah material/ ekonomi yaitu berpindah dari kemiskinan menuju kesejahteraan yang memadai, sehingga ummat Islam dapat terhindar dari kekafiran sebagaimana ucapan Nabi, "Kemikinan itu sangat dekat dengan kekafiran". Keempat; hijrah sosial yaitu dengan meningkatkan kepedulian dan solidaritas atas penderitaan orang lain, sehingga penderitaan yang dialami orang lain juga dirasakan dan dialami. Dengan kesadaran ini, persatuan dan kesatuan umat dapat direalisasikan.
Sementara itu para ahli mengatakan, peristiwa hijrah adalah peristiwa yang bersifat monumental dan sekaligus sebagai awal mula tegaknya agama Islam. Sebelum peristiwa hijrah dilakukan, umat Islam berada dalam tekanan kuffar Quraisy, tetapi pasca Hijrah umat Islam sudah berani membela diri dan agama Islam menjadi agama dambaan setiap insan, disegani sekaligus disenangi.
"Atas dasar tersebutlah Khulafaur Rasyidin Kedua Umar Bin Khattab ketika hendak menetapkan awal tahun baru kelender Islam, menjatuhkan pilihan pada peristiwa hijrah. Penetapan peristiwa ini pada mulanya terdapat beberapa perbedaan dikalangan para sahabat, namun Umar berkeyakinan bahwa peristiwa hijralah yang paling tepat untuk dijadikan sebagai awal mula perhitungan kalender Islam, dengan alasan selain yang telah ditetpkan tersebut, hijrah itu sendiri berarti berpindah dari yang bathil menuju yang haq yang harus menjadi sikap pribadi seorang mulim kapanpun dan dimanapun berada," harapnya. (msd)