Riau
(Inmas)- Diera melenial saat ini setiap infomasi dapat dengan cepat tersebar
dan dapat diakses oleh siapa saja, kapan sana dan dimana saja. Pesatnya
teknologi informasi dan komunikasi mengakibatkan lahirnya generasi milenial
atau generasi Y yang merupakan sekelompok
anak muda yang berusia belasan tahun hingga awal tiga puluhan pada awal 1980
hingga awal 2000. Untuk itu, Kementerian
Agama harus mampu
untuk beradaptasi di era milenial melalui program-program kerja yang adaptif
terhadap generasi milenial.
Hal tesebut disampaikan oleh Plt Kakanwil Kemenag Riau Drs H Mahyudin MA saat menjadi nara sumber pada Raker Kanwil Kemenag Riau Tahun 2019, Rabu (27/2/2019) di Hotel Aryaduta Pekanbaru.
Pada pemaparannya
yang berjudul Peran Strategis Kanwil Kemenag Provinsi Riau di Era Melenial dengan
moderator Drs H Elwizar MM, ia mengatakan, realita di era melenial ditandai
dengan globalisasi yaitu dunia tanpa batas, masuknya budaya atau gaya hidup
barat, dan gaya hidup yang banyak tidak sesuai dengan budaya bangsa. Sementra
dari teknologi, informasi, komunikasi dapat dilihat dengan dua realitas yang
berbeda yaitu realitas sosial tradisional
(konvensional)Ā ke realitas digital
(virtual) dengna ancaman hoax, ujaran kebencian (hote speech), disrupsi agama,
pornografi, porno aksi dan lainnya.
Berdasarkan
hasil survey 2017 penetrasi penggunaan internet di Indonesia mencapai 143,26
juta jiwa atau 54,68 persen ri total populasi penduduk Indonesia 262 juta orang. Rentang
usia pengguna internet terbesar pada usia 13-18 tahun 75,50 persen diikuti usia 19-34
(generasi melenial) 74,23 persen dengan aktivitas internet bersifat positif dan negative.
āFenomena
yang bertebaran di dunia maya saat ini adalah berita hoax, hal tersebutĀ juga menimpa
Kementerian Agama, seperti beberapa waktu lalu berita hoax tentang kartu nikah
dengan kolom istri sampai 4, video Menteri Agama tentang LGBT dan informasi lainnya,ā ucapnya memberikan contoh.
Menurutnya, saat ini Kementerian Agama RI menekankan pada
pembangunan umat beragama, pendidikan agama dan keagamaan. Kemenag harus mampu berfikir kritis, terhadap semua konten yang ada di media social,
berperan memberikan edukasi kepada masyarakat dengan nilai-nilai agama yang
disampaikan dengan cara milenial (media internet dan jejaring sosial) dan meningkatkan
kompetensi di segala bidang tugasnya/profesionalitas dalam pelaksanaan tugas
dan bertanggung jawab.
āUntuk tindak lanjut pelaksanaan hasil Rakernas Kemenag RI tahun
2019 meliputi tiga program strategis yaitu moderasi beragama, tahun kebersamaan/ kebersamaan
umat, dan sadar data untuk mencapai sadar kerja. Ini menjadi program strategis Kemenag untuk tahun 2019,ā ungkap
Mahyudin.
Moderasi
Beragama dimana Negara hadir menanggapi kebutuhan public dalam bentuk program strategis
denganĀ memberikan kemudahan untuk
mengakses pelayanan-pelayanan di Kementerian Agama dan Respon dengan cepat
(jemput bola) terkait dengan isu-isu keagamaan di masyarakat.
āMenjadikan
Moderasi Beragama sebagai ruh dalam setiap program bagi umat seperti mengptimalkan
peran dosen, guru, penyuluh agama, pengawas pendidikan dan penghulu dalam
mendukung moderasi beragama, mendorong peran serta ASN Kemenag dalam
mengkampanyekan moderasi beragama pada masyarakat, meningkatkan komunikasi dan
kerjasama dengan seluruh pemangku kepentinganĀ
masyarakat dan instansi pemerintahan, dan mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya organisasi, pegawai dan anggaran dalam mewujudkan moderasi beragama,ā paparnya.
Tahun
Kebersamaan atau kebersamaan umat, kebersamaan internal dan eksternal. Kebersamaan
internal dengan melakukan sinergikan pelaksanaan program antar unit,Ā dan Sinergikan penggunaan sumberdaya anggaran,
manusia, sarana dan prasarana, teknologi, data dan informasi. Kebersaman
eksternal dengan melaksanakan program yang berdampak langsung bagi umat secara
berkeadilan, dan orientasikan hasil yang dapat dimanfaatkan oleh umat secara inklusif.
Tahun
sadar data atau integrasi data dengan manajemen big data (integrasi, sinergi,
koneksitas dan kemasan) dengan membenahi kebijakan dan regulasi pengelolaan
data, meningkatkan kapasitas SDM pengelola data, melengkapai infrastruktur data,
memanfaatkan data dan informasi sebagai dasar perencanaan dan pelaksanaan program,
memperbaharui data seiring dengan pelaksanaan program dan melakukan pengolahan data
sebagai dasar evaluasi kinerja yang terukur.
āOutput dari tiga program prioritas
tersebut akan terlahir sadar
kerja dimana program disusun hanya untuk mendukung kinerja, berorientasi pada peningkatan
layanan publik dan berdampak pada masyarakat, kikis program yang tidak relevan dan
tidak berorientasi kinerja, sampaikan setiap capaian kinerja kepada publik sebagai
bentuk pertanggungjawaban penggunaan anggaran Negara,ā ungkapnya.
Sementra itu, terkait dengan peran nyata Kanwil Kemenag Riau di Era Melenial, Mahyudin mengatakan, saat ini sudah ada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang dapat diakses diĀ https://ptsp.kemenagriau.online Ā untuk memantau progres layanan PTSP oleh masyarakat, penyelenggaraan administrasi layanan oleh petugas PTSP berbasis IT (komputer dan on line), pendaftaran jamaah haji berbasis IT (Siskohat), penggunaan aplikasi e-mtq dalam penyelenggaraan MTQ di provinsi Riau, sosialisasi dan penerapan berbagai aplikasi penunjang Tupoksi di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, spt: e-planning, SIMBI, e-MPA, SI-EKA, e-MIS, SIMPENAIS, dan lainnya. āRAJA-SIAKā (Rapat Kerja-Sistem Informasi dan Aplikasi Kendali) http://raker.kemenagriau.onlineĀ contoh penggunaan aplikasi untuk rapat kerja tahun 2019 di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau. (mus/ana/anto/adi)Ā