0 menit baca 0 %

Mahyudin: Jangan Lupa 3 Titik Krusial Ini, Petugas Itu Pelayan Jamaah

Ringkasan: Riau (Inmas) - Dalam rangka membentuk petugas yang memiliki komitmen, kompetensi serta loyalitas dalam menjalankan tugas. Kemenag Riau melalui Bidang PHU menggelar Kegiatan Pembinaan dan Melepas Calon Petugas Haji Kloter dan Non Kloter Riau di Aula Utama, Kamis (26/06).Ia menyatakan  petugas haji n...

Riau (Inmas) - Dalam rangka membentuk petugas yang memiliki komitmen, kompetensi serta loyalitas dalam menjalankan tugas. Kemenag Riau melalui Bidang PHU menggelar Kegiatan Pembinaan dan Melepas Calon Petugas Haji Kloter dan Non Kloter Riau di Aula Utama, Kamis (26/06).

Ia menyatakan  petugas haji nonkloter atau Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1437H/2016M siap diberangkatkan pada awal Juli mendatang. 

Tercatat sebanyak 34 petugas PPIH Arab Saudi 1440H/2019 M. Petugas itu berasal dari Kemenag dan instansi terkait lainnya.

Ia mengungkapkan ada 5359 jamaah atau 12 kloter yang diberangkatkan pada musim haji tahun ini.

Pemerintah melalui Kementerian Agama harus bisa memberikan perlindungan maksimal bagi jamaah haji Indonesia yang berada di tanah suci Mekkah, terang Mahyudin melanjutkan sambutannya.

Dikatakannya kepuasan jamaah haji tahun ini naik jika berkaca dari tahun lalu. Kemenag menargetkan  kepuasan jamaah haji bisa naik pada  tahun ini  84 persen.

Ia berharap jamaah haji yang melaksanakan ibadah di Mekkah, seluruhnya dalam keadaan sehat dan tidak ada mengalami peristiwa yang tidak diinginkan. 

Oleh karena itu, petugas atau pendamping jamaah haji harus benar-benar tanggap dan dapat menjaga, serta melindungi jamaah Riau.

Ini merupakan tugas pendamping haji yang telah dipercaya Kementerian Agama dan jangan ada lagi jaamah haji mengalami masalah atau tersesat di Mekkah," ujar Mahyudi.

Bapak dua anak ini menekankan agar jangan sampai para petugas haji lebih mengutamakan ibadah haji, daripada tugas melayani tamu Allah (dluyufurrahman).

Menurutnya, cobaan dan tantangan para petugas sangat luar biasa, tidak terpikirkan. 

Misalnya saat beristirahat, tiba-tiba ada jemaah yang membutuhkan pertolongan.

 “Terlebih dengan dibekalinya petugas haji dalam Diklat selama di Asrama Haji Jakarta, semoga ilmu yang didapat dapat dilaksanakan dengan sebaik baiknya”, katanya.

Sebab, bilamana ditemukan petugas tidak bekerja sesuai aturan dan regulasi yang ada,  Kemenag RI melalui Ditjen PHU punya wewenang dan tidak segan segan untuk mencoret nama siapapun sebagai petugas.

Ia memaparkan ada tiga titik krusial penyelenggaraan ibadah haji .

Pertama, 10 hari pertama jamaah haji datang tentu merasa asing dengan kondisi ditambah suci. “Tak jarang jamaah bingung untuk menemukan jalan pulang ke hotel usai dari Masjid”, katanya. Disinilah peran tugas dituntut optimal dan fokus, sebut nya.

Kedua, Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Pada saat ini jamaah kerap bingung dikarenakan tenda dengan motif sama semua, hanya nomor maktaf yang membedakan. Petugas dituntut jeli dan sigap membantu jamaah.

Ketiga, 10 hari menjelang kepulangan. Jamaah haji biasanya sudah sibuk mempersiapkan kepulangannya. “Kadang kadang fokus hasil belanjaan, dan oleh oleh jamaah lupa bahwa rangkaian ibadah masih ada.

Demi kenyamanan jamaah,  PPIH kloter maupun non kloter yang mengurusi perlindungan jamaah harus  diperkuat.  “Jangan sibuk mengurusi diri pribadi sehingga lupa, tugas melayani jamaah”, katanya.

Penguatan itu adalah dengan terus selalu mengingatkan saat waktu luang pertemuan dengan pembimbing.

“Petugas haji  diharapkan terus meningkatkan perlindungan kepada jamaah, karena kita adalah pelayan mereka”, pesannya.

Petugas haji tidak diperbolehkan untuk pulang cepat, begitu pula sanksi akan jatuh apabila petugas melakukan perbuatan kriminal atau asusila.

“Pernah terjadi kasus pada Tahun 2015, ada petugas dari daerah lain yang harus dipulangkan karena melakukan perbuatan asusila sesama petugas haji”, sebutnya mengingatkan.(vera)