Riau (Inmas) - Malam tadi Sabtu 23/9 tepat pukul 20.00 WIB cuaca di Pekanbaru sedikit gerimis, tak seperti biasanya yang selalu panas mengucurkan keringat. Begitu mobil yang kita tumpangi memasuki gerbang Pondok modern Al Kaustar yang dipimpin Ustadz Muhammad Hanif SH,I tersebut, suasana sudah terasa gegap gempita dari kejauhan alunan musik sudah mulai terdengar. Umbul umbul yang berjajar di sepanjang jalan menuju lokasi acara memenuhi jalan. Beberapa baliho dan karangan bunga ucapan selamat berjejer disepanjang lokasi acara.
Gelaran pentas seni yang diberi label Panggung gembira yang langsung dibuka oleh Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA pada pukul 21.00 WIB ini merupakan kegiatan pertunjukan yang disajikan oleh santri pondok putra Alkaustar tahap akhir sebagai bentuk ajang show up kemampuan siswa.
Menurut salah seorang santri kelas VI Agusti Rizal Wahyudi, inspiring generation yang dilabelkan untuk santri tingkat akhir ini memenawarkan tema "Nusantara Bersatu Dengan Alam". Dengan visi menyatukan persepsi berpadu dalam kreasi seni, inovasi yang tidak meninggalkan nilai nilai kental Islami.
Dikatakannya panggung yan cukup luas itu mereka design sendiri, mulai dari penataan panggung, taman, kostum hingga seluruh koor tari, musik, puisi, dramatisasi, nasyid, pidato bahasa inggrus dan arab hasil dari ide ide santri yang dicetuskan oleh dekorator acara Hendra Saputra dkk, ujarnya. Bahkan mencari dana pun secara mandiri. "Kami mengumpulkan dana dengan cara door to door saja ke perusahaan maupun kantor pemerintah dan swasta", ucapnya penuh semangat.
Terkait dengan segala bentuk persiapan, dikatakannya untuk latihan saja, ia mengaku menghabiskan waktu selama dua bulan kurang lebih. "Itupun mengambil jam belajar siang, karena biasanya pagi dan siang, demi sukses acara ini belajar dipadatkan dan efektif pada pagi saja, siang fokus untuk latihan, ucapnya. Bahkan sesekali kami isi dengan olahraga jika sudah jenuh dan biar ga boring melakukan latihan, terangnya kepada tim Inmas Kanwil Kemenag Riau.
Meskipun bersifat pertunjukan seni, yang menghibur namun pesan pesan yang tersirat dalam pertunjukan itu tak terlepas dari nilai nilai keislaman. Seperti yang dsampaikan Pimpinan pondok ucapnya, seiring dengan sudah lamanya usia pondok ini, kami ingin menyuguhkan hal hal baru yang lebih segar, cerdas, ngocol tapi tetap Islami.
Sebut saja seperti penggunaan jas hitam hitam yang terkesan mewah dah maskulin, penampilan grup nasyid dan marawis, tarian daerah dari Timur, Aceh, Sumbar dan melayu, singer dance, pantomin, sulap, drama bahasa asing, visual Al Kaustar, puisi kolosal, lerting dance dan robotik, drama, bard 630 dan aksi lainnya yang sangat menghipnotis semua penonton.
Meski dalam keterbatasan sumber dana dan teknologi bukan berarti panggung gembira ala santri Alkautsar tidak bisa bersaing dengan karya profesional lain diluar sana, ucapnya ketika ditanya tentang hasil karya mereka. Latar Panggung beraroma tiga dimensi yang dilukis di atas triplek oleh para santri kelas VI itu semakin membuat suasana makin meriah. Ditambah lagi saat AHS didampingi Pimpinan pondok memukul beduk dan beragam antraksi kembang api pertanda dibukanya secara resmi helat seni spektakuler santri itu, tepuk riuh penonton menggema terdengar.
Acara yang hanya berlangsung beberapa jam ini telah mencuri dan menyita perhatian penonton. Bahkan bukan hanya santri, wali santri, dan para tamu undangan hingga Kakanwil yang didampingi Kasubbag Inmas Dedi Sahrul S Kom MSi, di buat rela menyaksikan pertunjukan demi pertunjukan meskipun ditengah gerimis hujan yang tak kunjung berhenti.(vera/adi)