Bekasi (Humas) – Penguatan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah merupakan kebutuhan mendesak karena meluasnya anggapan masyarakat bahwa PAI telah ‘gagal’ membentuk siswa/i berwatak akhlak mulia dan sering melakukan tindakan melawan hukum. Selain itu, PAI juga dianggap belum sepenuhnya mampu membentuk pemahaman keislaman washatiyyah yang merupakan salah-satu distingsi pokok Islam Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Prof DR Azyumardi Azra saat menjadi pembicara pada Sarasehan Penguatan PAI Bagi Siswa di Sekolah yang ditaja Direktorat Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI di sela-sela kegiatan Pentas PAI Nasional VI di Bekasi Jawa Barat, Rabu (27/11).
Menurut Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah tersebut, penguatan PAI perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari peningkatan kualitas guru, baik segi pemahamannya maupun praksis yang lengkap tentang Islam washatiyyah Indonesia.“Guru mesti tahu dan bisa menjelaskan kepada siswa tentang keunggulan Islam Washatiyyah Indonesia dibandingkan dengan pemahaman dan praksis Islam di dunia Arab, Asia Selatan dan di kawasan Asia Tenggara lainnya,” kata Azyumardi.
Selain itu, menurut Azyumardi, guru sepatutnya memiliki imajinasi kreatif dalam pembelajaran PAI. Pembelajaran efektif jelas tidak memadai lagi dengan ceramah satu arah. Guru harus memiliki imajinasi, kreatifitas dan keberanian untuk keluar dari metode konvensional dalam pembelajaran PAI yang lebih dialogis dan partisipatif para peserta didik.Pada kesempatan itu Azyumardi juga mengritik keras kurikulum pendidikan 2013 yang dipandangnya sumber ‘penyiksaan’ bagi siswa.
“Dengan beban kurikulum begitu berat, lembaga pendidikan formal atau sekolah lebih merupakan tempat penyiksaan bagi para peserta didik daripada tempat yang ramah untuk menimba ilmu dan membentuk karakter kepribadian. Sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan, yang memberikan inspirasi dan semangat. Sekolah membuat anak-anak menjadi bête dan butek sehingga mudah emosional yang sering berujung dengan tawuran,” kata
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.Selain mengritik keras kurikulum 2013, Azyumardi juga menyatakan filsafat pendidikan konvensional ‘tabularasa’ atau bagai kertas putih yang bisa ditulisi dan ditulisi sebanyak-banyaknya harus diubah.“Filsafat pendidikan semacam ini terbukti tidak lagi sesuai dengan zaman informasi instan sekarang; dan juga tidak sesuai dengan HAM dan perlindungan anak,” kata Azyumardi di depan ratusan peserta sarasehan yang terdiri dari guru PAI dan para pegawai Kanwil Kemenag se Indonesia. (ghp)