Riau (Inmas) – Ritual ibadah haji termasuk ritual ibadah yang panjang terkesan sulit bagi jemaah yang sepuh, terlebih pada masa puncak haji . Oleh karena itu, ibadah ini berbeda dengan lainnya yang cukup singkat dan mudah untuk dilaksanakan.
Demikian disampaikan Konsultan bimbingan ibadah KH. M. Syafiq konsultan bimbad sektor 1 pada Sabtu (27/07) pukul 08.00 sampai 10.30 WAS.
Binbad dari Konsultan ibadah sektor 1 yang berkesempatan membekali jemaah kloter 10 asal Bengkalis mengupas lebih dalam tentang persiapan armuzna.
Syafiq menilai untuk persiapan pelaksanan puncak haji nanti jemaah sudah mampu memahami rute dan ragam ritual ibadah yang akan dijalani.
Hal itu bertujuan agar jemaah pada puncak haji nantinya tidak ada kesalahan, dan bisa beribadah dengan tenang, sebutnya.
Dihubungi terpisah, TPIHI Drs H Jumari menyarankan jemaah untuk melaksanakan kegiatan ibadah Sunnah terutama umrah Sunnah pasca Armuzna saja. “Jangan terlalu banyak keluar hotel, saatnya konsentrasi pada persiapan Armuzna”, sebut Jumari.
Ia juga tak lupa mengingatkan jemaah untuk banyak minum air putih menjngat suhu cuaca yang cukup panas di Mekkah.
Sementara itu ketua kloter (TPHI) meminta jemaah haji asal Indonesia khususnya Riau selalu menjaga keamanan diri sendiri selama di Tanah Suci. Jemaah harus ingat betul pesan ini, sebut Ketua Kloter (TPHI) Ibrahim SAg kepada humas, Sabtu (27/07) pukul 20.35 WIB usai kegiatan bimbingan.
Ibrahim menegaskan jemaah untuk waspada pada orang yang berniat jahat, karena penipu juga copet berkeliaran.
Ini mengingat di sekitar Masjidil haram semakin padat menjelang masa puncak haji.
Tidak sedikit jemaah haji dari berbagai negara makin banyak memenuhi.
Untuk Riau saja saat ini sudah hampir seluruhnya dari 5359 jemaah sudah berada di Makkah.
Pada kesempatan itu jemaah haji juga diimbau oleh Linjam (Perlindungan Jemaah) waspada terhadap penipuan yang marak di setiap musim haji.
Jemaah diajak agar tetap waspada dengan barang2 berharga seperti uang dan keselamatan berkendaraan seperti taxi.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya banyak kasus penipuan dan pemerasan. Penipu biasanya pura-pura ingin menolong, misalnya bersedia dititipi barang bawaan saat akan ke toilet, namun kemudian barang dibawa lari. Para penipu kadang mahir berbahasa Indonesia.
Bahkan di antara mereka ada yang warga Indonesia yang lama tinggal di Arab Saudi. Tak jarang penipu juga memakai pakaian ala petugas haji, lanjutnya.
Lebih dari itu para jamaah juga diimbau tak pergi sendirian. Hal ini penting untuk menutup celah aksi para penipu yang kerap menjadikan jamaah yang sendirian sebagai target.
Bersyukur sistem pengamanan jemaah haji saat ini kian diintensifkan. sistem pengamanan jemaah haji saat ini kian diintensifkan, sebutnya.(vera)