Riau (Inmas) - Hari-hari tinggal dalam kondisi kehidupan dan rumah yang sederhana dilalui wanita berusia 65 tahun ini dengan bahagia dan penuh semangat.
Hingga suatu ketika, terbesit keinginan Kadariah Binti Kanta untuk bisa pergi haji meskipun suaminya sudah tidak ada sejak delapan tahun yang lalu.
"Saya betul-betul ingin dan yakin bisa (berangkat haji," kata Kadariah.
Keberhasilan Kadariah melunasi biaya haji hingga akhirnya masuk dalam rombongan calon jemaah haji 2019 sejak mendaftar Tahun 2011, tak lepas dari perjuangan panjangnya yang pernah menjadi penjual ikan basah dipasar, kadang juga ikan yang diasap dikenal dengan ikan salai sembari membuka warung kecil kecilan dirumahnya.
Sadar bahwa keinginannya tak mungkin terwujud tanpa tekad kuat dan usaha keras, Kadariah mulai berpikir untuk menyisihkan sebagian penghasilannya menjual air galon yang sudah dimasak untuk ditabung.
Ia mengaku pernah meminta suaminya untuk menjual ladang karet yang tidak seberapa, untuk pengobatan suaminya yang mengidap penyakit tumor.
“Sudah kemana mana kami bawa berobat, sampai ke Padang, Rengat, Pekanbaru tapi tak sembuh juga, akhirnya tak tertolong lagi, taqdir Allah suami saya duluan dijemput Yang Maha Kuasa” ucapnya.
Bermodal dari sisa biaya pengobatan dan melunasi hutang suami yang tak seberapa Ia memberanikan diri mendaftar haji di Kantor Kemenag setempat.
Perempuan yang dikaruniai 2 anak tersebut mulai menyisihkan sebagian uang jatah belanja ataupun uang lain dari hasil dagangannya.
Setiap hari, Kadariah menyimpan uangnya dibalik tikar kasur dikamarnya dengan nominal yang tak pasti. “Kadang 10 ribu, kadang ya 20 ribu, kadang juga 50 ribu, kan biaya haji itu banyak bukan cuman mendaftar saja", katanya.
Tidak pasti, tergantung berapa yang bisa disisihkan. Tapi setiap hari harus ada yang disimpan untuk ditabungkan" tutur Kadariah.
“Rata rata jualan air galon bisa sampai 12 galon sehari saya masak, saya kalau lagi banyak pesanan orang, bisa dapat 100 ribu dalam satu hari”, imbuhnya.
Mengumpulkan dan menyimpan uang dibalik tikar, dibawah kasur untuk menggenapkan biaya pergi haji dilakukan Kadariah tanpa sepengetahuan suaminya hingga suaminya tiada. Apalagi, upaya menabung tersebut tidak mengurangi biaya pendidikan untuk kedua anaknya.
Dua anak mereka semuanya bisa sekolah dan tidak terganggu dengan usaha ibunya menabung.
"Sekarang yang masih kuliah tinggal satu, di UPP Rohul di belakang Kapolres Rohil, dan satu lagi yang besar udah menikah itu pun hanya kerja buruh kasar, ada orang buat batako, ngecat rumah orang, atau membuat jalan setapak dikerjakannua”, kata Kadariah memuji perjuangan anaknya.
Kadariah masuk dalam daftar calon jemaah haji (calhaj) kloter 18 BTH dari Kabupaten Rohul Menurut Kadariah sebagai janda yang masih menghidupi anak bungsunya yang masih kuliah bukan perkara mudah bagi dirinya saat mendaftar ibadah haji.
Kadariah mengatakan, jauh sebelum berjualan air galon yang dimasak di rumahnya tiga tahun belakangan. Ia berjualan ikan basah di desanya. “Kalau dapat untung alhamdulillah, kalau tak terjual ikan itu saya salah” katanya.
Ibu dua anak ini membawa do'a istimewa ditanah suci nanti. “Saya jngin berdoa biar dipermudah rezki bagi anak anak saya hingga kehidupan mereka bisa lebih baik, karena kalau bisa saya hanya ingin ibadah di sisa usia, semoga harapan ini terwujud, harapnya.
“Waktu Dhuha ya Dhuha, tahajjud juga bisa, tapi kalau kita letih tak mungkin sanggup beribadah maksimal, imbuhnya.
Itulah mengapa saya belum bisa maksimal beribadah, karena berusaha menutupi kebutuhan sehari hari sendiri”, sebutnya.(vera)