0 menit baca 0 %

Ketua Umum Permabudhi: Umat Masa Depan Harus Siap Hadapi Guncangan Ilmu, Teknologi, dan Relasi Antaragama

Ringkasan: Tangerang (Kemenag) Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Philip Kuncoro Wijaya menegaskan pentingnya kesiapan umat beragama dalam menghadapi perubahan besar yang dibawa ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial, khususnya dalam membina generasi muda atau Generasi Z sebagai...

Tangerang (Kemenag) — Ketua Umum Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Philip Kuncoro Wijaya menegaskan pentingnya kesiapan umat beragama dalam menghadapi perubahan besar yang dibawa ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial, khususnya dalam membina generasi muda atau Generasi Z sebagai umat masa depan.

Hal itu disampaikan Philip Kuncoro Wijaya saat menjadi narasumber dalam lokakarya sesi pertama Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Agama bertema “Menggagas Umat Masa Depan: Antara Idealita dan Realita” yang digelar di Atria Hotel Tangerang, Senin (15/12/2025).

Lokakarya tersebut dihadiri Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, Sekretaris Jenderal Kemenag, para Direktur Jenderal, jajaran eselon I, II, dan III, serta para Kepala Kantor Wilayah Kemenag se-Indonesia. Selain Philip Kuncoro Wijaya, narasumber lain yang hadir yakni Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, Dr. I Ketut Budiawan, S.H., S.Pd.H., M.H., M.Fil.H. (Sekretaris Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia), serta Prof. Dr. Yudi Latif, M.A., Ph.D. (Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan). Lokakarya dipandu Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi SDM Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Mastuki.

Philip menyebut paparan Menteri Agama memberikan gambaran utuh tentang tantangan umat ke depan. “Itu sebuah gambaran yang sangat luas dan lengkap tentang apa yang kita hadapi, bagaimana posisi kita, apa yang sedang terjadi, dan mau ke mana kita,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan yang terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak terelakkan dan bahkan dapat menimbulkan technological shock. “Banyak penemuan yang menjungkirbalikkan pemahaman kita terhadap alam semesta, bahkan terhadap agama itu sendiri,” kata Philip.

Ia menjelaskan, teori-teori baru, termasuk dalam fisika kuantum dan kosmologi, kerap menyentuh hingga ke sendi-sendi keyakinan agama. Kondisi ini menuntut pemuka dan tokoh agama untuk menguatkan kembali dasar pemahaman ketika menyampaikannya kepada generasi muda. “Mereka tidak akan semudah itu mempercayai kita. Sambil mendengarkan, jari mereka menari di layar, mencari Google, AI, dan berbagai sumber lain,” ujarnya.

Philip menilai, tantangan lain yang dihadapi umat beragama adalah kuatnya keterkaitan antara agama dan politik, termasuk politik identitas dan polarisasi dalam kehidupan bernegara. Karena itu, ia menekankan pentingnya mencari titik keseimbangan. “Dalam kehidupan, semua hal perlu dicarikan titik tengahnya agar bisa berjalan dengan lancar. Di Kementerian Agama kita mengenalnya sebagai moderasi beragama,” jelasnya.

Ia juga menyoroti isu lingkungan hidup sebagai tantangan serius umat beragama. Philip mengapresiasi langkah Kementerian Agama yang mendorong eco-theology. Ia menyampaikan bahwa Permabudhi juga telah meluncurkan eco-dhamma sebagai ekoteologi versi agama Buddha. “Supaya apa yang kita kerjakan selaras dengan Kementerian Agama dan masuk ke berbagai elemen kehidupan,” ujarnya.

Menurut Philip, ajaran agama perlu ditransformasikan menjadi praktik nyata dalam kehidupan sosial. Permabudhi, kata dia, menyesuaikan program-programnya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan menjalin kerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, hingga Kementerian Kesehatan dalam isu stunting.

Lebih jauh, Philip menekankan pentingnya membangun relasi lintas agama yang inklusif. “Kita tidak ingin agama menjadi sesuatu yang eksklusif. Agama harus menjadi faktor penguat dalam interaksi sosial sehari-hari,” ujarnya.

Ia menegaskan sikap terbuka Permabudhi dalam bekerja sama dengan berbagai komunitas dan organisasi lintas agama. “Saya tidak segan-segan menunjukkan bahwa kita jangan malu mengakui kebesaran agama lain. Semua agama ada kebesarannya dan patut dihormati,” kata Philip.

Menurutnya, sikap saling menghormati antarpemeluk agama akan membuat hubungan sosial menjadi lebih cair dan harmonis. “Kalau sikap itu kita pegang, tentu hubungan kita dengan yang lain akan menjadi jauh lebih mudah,” pungkasnya.