Bengkalis (Inmas)- “Dialah Yang Awal, Dialah Yang Akhir. Dialah Sumber, Dialah Tujuan. Darinya Kita Berasal dan kepadaNya Kita akan Kembali”
Tradisi mudik (pulang kampung) cukup populer di Indonesia sempena menyambut dan merayakan idul fitrah. Setiap orang yang berada jauh di perantauan biasanya punya perasaan rindu yang bersangatan untuk pulang ke tempat kelahirannya dan kembali bertemu dengan ayah bundanya. Moment yang paling tepat untuk mudik ini biasanya pada hari raya Idul Fitrah.
Perasaan rindu untuk mudik (pulang kampung) ini merupakan fitrah setiap manusia. fitrah dalam pengertian suatu sikap batin yang condong kepada asal muasal kejadiannya; condong kepada orang yang melahirkannya dan kepada tempat jatuh kepalanya (masqat al-ra’si) pertama kali. Fitrah ini selalu bersemayam dalam diri pribadi seseorang dan sulit untuk dilupakan. Panggilan itu sewaktu-waktu akan datang dan ada beban moral (perasaan) kalau tidak dipenuhi.
Tradisi mudik ini punya kesamaan dengan sikap batin yang condong kepada kesucian, kebajikan dan kebenaran yang melekat pada diri manusia sewaktu terlahir ke atas dunia ini lewat rahim seorang perempuan yang kemudian dikenal dengan sebutan “ibu” atau “emak”. Inilah yang diistilahkan dengan “Idul Fitrah” yang secara bahasa berarti “kembali kepada kesucian (diri)”. Sejahat-jahat manusia, pasti dalam dirinya punya keinginan untuk berbuat baik (benar) meskipun sedikit. Karena condong kepada kebaikan (kebenaran) itu fitah manusia. tapi sayangnya fitrah manusia yang suci tersebut tertutupi (ternodai) oleh perbuatan dosa dan kejahatan yang dilakukannya terus menerus.
Bulan Ramadan dengan segala keutamaan dan kabajikan yang terkandung di dalamnya merupakan fasilitas yang disediakan Allah swt kepada hamba-hambaNya untuk membersihkan dirinya dari perbuatan dosa agar mereka kembali kepada ke fitrah asalnya yang suci, bersih dan lurus. Itulah sebabnya setelah kaum muslimin menunaikan puasa selama sebulan penuh, mereka akan merayakan Idul Fitrah, yaitu momentum kembali kepada kesucian dan kebersihan diri mereka. dan mereka diistilah dengan minal A’idin wal Faizin (Orang yang kembali (fitrah) dan orang yang menang).
Sedangkan pengembalian yang hakiki itu adalah ketika seorang hamba itu kembali kepada Tuhannya. Karena manusia berasal dari Tuhannya dan akan kembali kepadaNya (Innalillahi Wainna Ilaihirojiun). Yang amat disayangkan adalah apabila manusia itu kembali kepada Tuhannya dalam keadaan sudah tidak bersih atau tidak suci lagi. Kalau di dalam dirinya masih ada Iman, maka ia akan dibersihkan terlebih dahulu melalui penyiksaan di dalam neraka dan setelah dirinya hangus sepeti arang lalu kemudian dia dimandikan dalam telaga Rasulullah saw barulah kemudian dia diterima kembali menghadap ke TuhanNya.
Ketiga jenis “hakekat
kembali” ini semoga menyadarkan kita akan makna kehidupan ini yang
sebenarnya. Sehingga kita semakin bijak dalam menentukan sikap dan
melangkah. Dalam kehidupan ini ada yang datang dan ada yang pergi; ada
pertemuan dan ada perpisahan, ada yang berpisah dan ada yang kembali.
Sebaik-baik manusia adalah orang yang datang dalam keadaan bersih dan
suci dan pergi dalam keadaan bersih dan suci pula. Wallah A’lam*** (ana)