0 menit baca 0 %

Kepala Kankemenag Rohil : Indahnya Kebersamaan dalam Perbedaan

Ringkasan: Rokan Hilir (Inmas)- Lebaran identik dengan silaturahmi dan saling memaafkan. Dalam bahasa Arab, silaturahmi berarti menyambung hubungan dengan saudara sedarah. Sementara, silaturahim artinya menyambung hubungan dengan orang-orang yang bukan saudara seperti tetangga dan teman.

Rokan Hilir (Inmas)- Lebaran identik dengan silaturahmi dan saling memaafkan. Dalam bahasa Arab, silaturahmi berarti menyambung hubungan dengan saudara sedarah. Sementara, silaturahim artinya menyambung hubungan dengan orang-orang yang bukan saudara seperti tetangga dan teman.

Dari sisi sosial, silaturahmi sangat penting untuk menjada kontak dan jaringan. Walaupun identik dengan Idul Fitri yang notabene hari raya umat Islam, sebenarnya silaturahmi merupakan tradisi bangsa Melayu. Di Arab sendiri, suasana silaturahmi pada hari raya Idul Fitri tidak begitu kental.

Sementara di Indonesia, silaturahmi tak hanya milik Muslim. Masyarakat non-Muslim pun sering kali terlibat dalam kegiatan ini. Bahkan, belakangan ini nyaris semua kalangan juga turut meramaikan acara buka bersama. Di desa-desa di Yogya dan Jawa Tengah misalnya, umat non-Muslim ikut serta berkeliling ke rumah-rumah tetangga untuk bersalaman, mengucapkan selamat hari raya kepada kaum muslim serta saling memaafkan.

Ada pula yang membuka pintu rumahnya lebar-lebar serta menyediakan aneka penganan khas Lebaran di meja tamu. Hal ini menunjukkan betapa indahnya toleransi antar umat beragama di negeri ini.

Begitu halnya yang dilakukan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hilir H. Agustiar, S.Ag dalam mengisi suasana `idul fitri tahun 1437 H, dengan mengajak staf, karyawan dan karyawatinya untuk bersilaturrahmi dari rumah Kasi kerumah kasi lainnya. Pada hari kedua halal-bihalal, bersilaturrahmi kerumah salah satu staf Seksi Penmad Ibu Dwi dan kasi Penyelengaraan Haji dan Umrah H. Hasbullah, Bagansiapiapi Selasa (12/7). Tampak hadir pada kesempatan itu Kasi Kristen Bapak Jamanik.

“halal-bihalal tahun ini sengaja kita ajak semua Kasi termasuk Kasi Kristen Bapak Jamanik, agar kita tahu bahwa walaupun lebaran identik dengan ummat Islam tetapi manfaatnya bisa dirasakan oleh sadara-saudara kita yang non muslim, karena betapa indahnya kebersamaan dalam perbedaan”, ungkap H. Agustiar.

Lebih lanjut Kakan Kemenag mengatakan bahwa “gaya hidup masyarakat perkotaan yang cenderung individualistis, membuat kurangnya silaturahmi. Silaturahmi bergeser menjadi formal dan berupa hubungan fungsional tanpa kedalaman. Misalnya hanya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti telepon, SMS, email, atau jejaring sosial yang menggantikan sebuah pertemuan atau sekadar kartu Lebaran”. Namun di balik itu, masih lebih banyak orang yang menyadari pentingnya jalinan kekerabatan atau jejaring yang akan memberi manfaat sosial tersendiri.

Silaturahim kala Lebaran pun menjadi momen untuk mengisi ulang ’batre’ hubungan dan bermakna spiritual. Hubungan silaturahmi yang baik akan membuat sebuah keluarga penuh cinta kasih, kebahagiaan sehingga kuat, dan tak mudah goyah.

“Lebaran merupakan saat yang paling pas untuk kembali menyatu dan melebur kesalahan. Lembaran baru pun dibuka, harapannya bisa diisi dengan segala hal yang lebih baik. Dan dengan mempererat tali silaturahmi, Allah akan membukakan pintu-pintu rezeki”, Tegas H. Agus mengakhiri sekapursirihnya. (nsh)