0 menit baca 0 %

Kepala Kankemenag Kab. Siak Hadiri Negeri Menjamu

Ringkasan: Siak (Humas) - Usai pawai keliling oleh siswa-siswi PDTA Kecataman Siak dan sekitarnya, acara dilanjutkan dengan Negeri Menjamu, sedekah bubur Asy Syuro, bertempat di halaman belakang Istana Siak Jalan Sultan Syarif Kasim Kampung dalam Siak Sri Indrapura, Ahad (2/11).

Siak (Humas) - Usai pawai keliling oleh siswa-siswi PDTA Kecataman Siak dan sekitarnya, acara dilanjutkan dengan Negeri Menjamu, sedekah bubur Asy Syuro, bertempat di halaman belakang Istana Siak Jalan Sultan Syarif Kasim Kampung dalam Siak Sri Indrapura, Ahad (2/11). Acara ini terlihat sangat meriah karena tidak saja di hadiri anak-anak PDTA tapi para orang tua yang turut mendampingi pun hadir dan mengikuti acara Peringatan Tahun Baru 1436 Hijriyah hingga selesai.

Melihat ke belakang, pada masa kerajaan Siak terutama pada masa pemerintahan Sultan Siak ke-11 sedekah bubur Assyuro dilakukan oleh Sultan pada saat usai berbuka puasa sunnah bulan Muharram. Sedekah bubur diberikan kepada para anak yatim dan anak-anak di sekitar Istana Siak. Kegiatan ini sendiri menjadi bagian dari peringatan datangnya tahun baru Islam 1436 H.

Berangkat dari catatan sejarah ini pula, dipilihnya tempat disekitar Istana Siak tak lain karena disinilah dulunya pada masa kerajaan Siak, perayaan serupa dimulai dan dilaksanakan oleh Kesultanan Siak.

Bupati Siak Drs H Syamsuar MSi dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya momen tahun baru Islam. Saat ini anak-anak islam dan orang islam telah kehilangan identitas keislamannya dengan cara mengikuti atau merayakan tahun baru masehi dengan cara-cara yang jauh dari ajaran Islam.

Bupati mengapresiasi kegiatan ini sebagai salah satu bentuk pelestarian budaya. ‘‘Sepanjang itu baik, yang bisa mendidik anak-anak kita dan agar budaya ini tidak lekang tentunya budaya ini harus terus dilestarikan. Akan tetapi kita juga tidak mentolerir nilai-nilai budaya asing yang bisa merusak moral anak-anak kita,’‘ ujar Syamsuar.

Sementara itu Fajriansyah Lc, MA dalam tausiyahnya mengungkapkan kegiatan jamuan yang disebutnya sebagai negeri menjamu ini adalah sebuah bentuk kesyukuran atas nikmat yang telah kita terima. Bulan Muharram merupakan salah satu dari yang disebut bulan haram dari tahun Hijriyah. Yakni Zulqaedah, Zulhijjah, Rajab & Muharram. ‘‘Mengapa disebut bulan haram? Menurut penjelasan ibnu qayim adalah Karena Allah melarang berperang pada bulan-bulan ini, tetapi lebih dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah,’‘ jelas Fajriansyah.

Tampak hadir dalam acara tersebut Ketua DPRD Siak Indra Gunawan, Dandim 0303 Siak Wachyu, Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Siak Drs. H. Muharom , Tokoh Masyarakat Siak H T Mukhtar Anom, Ketua LAM Kabupaten Siak Wan Anwar, Ketua MUI H Shofwan Saleh, serta Fajriansyah, Lc, MA.(gn)