ROKAN HULU (KEMENAG) Dalam rangka menyambut dan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1435 H/2014 M, Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Rohul, Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, sampaikan tips merayakan Idul Fitri, pada penutupan Taushiyah Ramadhan, Minggu sore, (27/7/2014) pukul 18.00 Wib, bertempat di Masjid Agung Madani Islamic Centre, Kota Pasir Pengaraian.
Penyampaian Taushiyah tersebut adalah penutupan taushiyah Ramadhan yang biasa dilaksanakan pada waktu Subuh, antara sholat Isya dengan Tarwih, kultum waktu Dzuhur, dan menjelang berbuka puasa. Penutupan taushiyah, dihadiri jamaah yang hendak berbuka puasa Ramadhan hari terakhir, dan disiarkan secara langsung oleh Madani TV dan Radio Dakwah Islamic Centre Pasir Pengaraian melalui gelombang 98.5 FM.
Dikatakannya, Hari Raya Idul Fitri adalah hari Raya kemenangan bagi umat Islam, yang telah dengan sukses berperang melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh, yaitu dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sesuai dengan perintah Allah SWT. Melawan hawa nafsu, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadis Rasulullah SAW sebagai sebuah perang besar, melebihi dahsyatnya perang Badar.
Ibadah puasa Ramadhan yang dilaksanakan selama satu bulan penuh, secara teoritis, telah membawa umat Islam mencapai derajat tertinggi di sisi Allah SWT yaitu predikat taqwa.
Taqwa dijadikan sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT, sebagaimana firman Allah : Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling tinggi derajat ketaqwaannya. Taqwa oleh para ulama didefenisikan dengan “Melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya”.
Ahmad Supardi lebih lanjut menyatakan, unyuk merayakan Idul Fitri dapat dilakukan dengan beberapoa hal. Pertama, bermaaf-maafan antara satu sama lain dari segala noda dan dosa yang diperbuat selama ini, baik yang disengaja maupun tidak. Sehingga segala noda dan dosa yang berkaitan dengan sesama manusia dan barang kali belum terhapus dengan puasa, akan terhapus semuanya sehingga nilai kefitrian yang kita raih akan mencapai derajat kefitrian tertinggi.
Kedua, menjalin persaudaraan diantara sesama, barangkali selama ini ada hal-hal yang dilakukan yang menyebabkan putusnya hubungan silaturahim. Sehingga dengan demikian, tali yang kusut dan bahkan putus selama ini, akan terajut kembali secara apik dan mesra.
Ketiga, saling membantu dan menolong di antara sesama kaum muslim yang diwujudkan dalam bentuk pemberian zakat fitrah dan bahkan zakat maal yang telah ditunaikan sebelumnya. Sehingga dengan demikian tidak ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang menangis sedih pada masa idul fitri ini.
Keempat, menyiapkan sedekah secara wajar, dengan memberikan infaq atau sadaqah berupa uang dan atau makanan kepada setiap yang bersilaturrahim kerumah kita, sehingga menambah pundi-pundi Tabungan amal shaleh kampung akhirat (Taska) kita sebagai bekal dihari kemudian.
Kelima, menghindari perbuatan-perbuatan yang akan merusak derajat muttaqin dan mengotori kefitrian, yang telah kita raih selama bulan Ramadhan dengan melaksanakan ibadah puasa, yang menyebabkan diri tercoreng oleh noda dan dosa. Bila hal ini terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kita akan terkena imbas sesuai kata pepatah, “Gara-gara Nila setitik, rusuk susu sebelanga“.
Keenam, mempertahankan derajat muttaqien, baik selama bulan Ramadhan maupun pasca ramadhan, yang dibuktikan dengan mempertahankan amaliah ramadhan, seperti rajin baca Al-Qur’an, rajin ke masjid, rajin sholat malam, mampu mengendalikan diri, peduli kepada fakir miskin, membayar zakat, banyak berinfaq/shodaqah, dan lain sebagainya.***