0 menit baca 0 %

Kemenag Rohul : Puasa “Ibadah” Seluruh Makhluk

Ringkasan: ROKAN HULU (KEMENAG) Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Rohul, Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang dilaksanakan oleh seluruh makhluk Allah dimuka bumi, bukan hanya oleh umat manusia, tetapi juga oleh hewan.


ROKAN HULU (KEMENAG) Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Rohul, Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang dilaksanakan oleh seluruh makhluk Allah dimuka bumi, bukan hanya oleh umat manusia, tetapi juga oleh hewan.


Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul, pada penutupan Taushiyah Ramadhan, Minggu sore, (27/7/2014) pukul 18.00 Wib, bertempat di Masjid Agung Madani Islamic Centre, Kota Pasir Pengaraian, yang dihadiri jamaah yang hendak berbuka puasa Ramadhan hari terakhir, dan disiarkan secara langsung oleh Madani TV dan Radio Dakwah Islamic Centre  Pasir Pengaraian melalui gelombang 98.5 FM.


Menurut Ahmad Supardi, Puasa sebenarnya adalah ibadah kuno yang telah disyari’atkan kepada umat manusia, jauh sebelum kedatangan Muhammad SAW. Ada yang mengatakan pensyari’atannya sejak Nabi Ibrahim AS dan ada yang berpendapat justru lebih jauh dari itu, yaitu sejak Nabi Adam AS.

Berbeda dengan ibadah Sholat, yang disyari’atkan justru setelah Nabi Muhammad SAW melaksanakan Isra’ Mi’raj. Kalaupun ada Sholat sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, itu bentuknya adalah zikir dan tahannuts (menyendiri dan merenung) yang dilakukan oleh Nabi di Gua Hiro. Berbeda dengan ibadah puasa, dimana bentuk dan tata caranya, dari dulu sampai sekarang adalah sama.

Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah kebutuhan setiap umat manusia, dari dulu sampai sekarang dan bahkan sampai pada masa yang akan datang. Hal ini juga dibuktikan dengan setiap orang yang akan diambil sampel darahnya, pasti terlebih dahulu disuruh berpuasa antara 9 sampai dengan 10 jam, sebab orang yang berpuasa darahnya stabil, tidak naik turun, sehingga dapat diukur secara akurat.     

Ahmad Supardi yang juga seorang ustadz ini menyampaikan, Puasa selain dilaksanakan oleh umat manusia, juga dilaksanakan oleh mekhluq Tuhan lainnya seperti binatang. Sebagai contoh, induk ayam melaksanakan aktifitas puasa selama ayam tersebut mengerami telurnya. Dengan puasanya itu, memudahkan baginya mengerami sekaligus menetaskan telurnya, sehingga dia mendapatkan anak keturunannya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh ular. Ular ketika hendak berganti kulit, supaya penampilan dan gerakannya lebih lincah, maka sang ularpun melaksanakan puasa. Tanpa puasa, maka ularpun tak dapat berganti kulit. Jika tak berganti kulit, maka penampilannya tidak cantik dan gerakannyapun tidak lincah.

Binatang lainnya yang melaksanakan puasa adalah kepompong. Kepompong berasal dari ulat melata yang jelek lagi menjijikkan dan bahkan tidak disukai manusia, sebab kalau bersentuhan dengannya, maka kulit akan terasa gatal. Ulat melaksanakan puasa, dengan menggulungkan dirinya kedalam daun, sehingga dia berubah jadi kepompong.

Setelah jadi kepompong, sang ulatpun terus melaksanakan aktifitas puasanya, sehingga dia berubah menjadi kupu-kupu cantik yang disukai oleh semua orang, sebab badannya langsing, warnanya indah, gerakannya lincah, sedap dipandang mata.

Tidak sedikit orang yang berusaha menangkap dan mengawetkannya, sebab indah dijadikan hiasan dan harganyapun jadi mahal. Sang ulat yang tadinya menjijikkan, kini telah berubah jadi makhluq baru yang disukai dan mahal harganya, jelas Ahmad Supardi.

Mantan Kasubah Humas dan Kepala Perencanaan Kanwil Kemenag Riau ini, menyatakan bahwa Orang yang melaksanakan ibadah puasapun pada dasarnya seperti itu. Jika puasanya benar-benar dilakukan sesuai ketentuan hukum Islam, maka pelakunya akan berubah, lahir menjadi manusia baru yang berbeda dengan sebelumnya.

Lahirnya sang manusia baru, dengan predikat muttaqien itu, sebelumnya telah mengendalikan kemauan fisiknya dengan menahan makan, minum dan melakukan hubungan suami istri pada siang hari, pikirannya juga dikendalikan dari fikiran-fikiran negative, akal bulus dan maksud jahat lainnya.

 

Terakhir, jiwanya juga telah dikendalikan dan digembelng secara spiritual dan ruhani, sehingga dapat menangkal hal-hal negative yang akan terjadi pada dirinya, tandas mantan Kepala Seksi pada Kanwil Kemenag Provinsi Maluku di Ambon ini.***(Ash)