0 menit baca 0 %

Kemenag Rohul : Peristiwa Israk Mikraj Mengandung Ajaran Transformatif

Ringkasan: ROKAN HULU (KEMENAG) – Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, Minggu (7/5/2016), menyatakan bahwa peringatan Israk mikraj Nabi Muhammad SAW, yang adalah merupakan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW di suatu malam, 14 abad yang lampau, sangat dramatik dan fantastik.


ROKAN HULU (KEMENAG) – Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, Minggu (7/5/2016), menyatakan bahwa peringatan Israk mikraj Nabi Muhammad SAW, yang adalah merupakan perjalanan spiritual  Nabi Muhammad SAW di suatu malam, 14 abad yang lampau, sangat dramatik dan fantastik. Dalam waktu singkat, Nabi Muhammad berhasil menembus lapisan lapisan yang amat jauh  dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsa  di Palestina, bahkan menembus tujuh lapis langit, hingga ke puncak tertinggi Sidratul muntaha dengan jarak jutaan tahun cahaya.


Hal ini menjadi bukti, bahwa ilmu pengetahuan dan kekuasaan Allah Swt meliputi dan menjangkau segala sesuatu, menembus lapisan langit dan bumi beserta isinya, bahkan dapat mengatasi  segala hal yang terhingga  maupun segala hal yang tidak terhingga, tanpa dipengaruhi oleh ruang dan waktu.

Menurut Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, yang mantan Kepala Humas dan Perencanaan Kanwil Kemenag Prov Riau ini, bahwa perjalanan Israk Mikraj menempuh dua etape perjalanan penting. Pertama, perjalanan horizontal dari Masjidil Haram di Makkah sampai ke Masjidil Aqsa di Palestina. Kedua,  perjalanan vertikal dari Masjidil Aqsa di Palestina ke  Sidratul Muntaha  di langit ketujuh.


Dari langit atau Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW kembali lagi ke bumi di Palestina, kemudian kembali ke umatnya di Makkatul Mukarromah. Perjalanan panjang tapi sangat singkat ini, membawa Misi utama, yakni pelaksanaan ibadah shalat lima waktu sehari semalam, yang pada dasarnya Allah perintahkan kepada kita lima puluh kali sehari semalam.

Namun atas kasih sayang Allah dan perjuangan keras Nabi Muhammad SAW yang meminta pengurangan kepadaNya, maka perintah sholat itu dikurangi, sehingga hanya menjadi lima waktu dalam sehari semalam, tetapi dengan nilai pahala yang sama, sebab satu sholat diberikan nilai sepuluh, sehingga lima kali sholat, tetap diberikan nilai lima puluh kali lipat.

Ahmad Supardi Hasibuan yang alumni Pondok Pesantren Musthafawiyah Purbabaru Kab Mandailing Natal Prov Sumatera Utara ini, menyatakan lebih lanjut, bahwa Kewajiban sholat ini bukan hanya ditafsirkan sebagai kewajiban  yang  sifatnya individual semata, melainkan wahana transformasi sosial untuk mencegah kemungkaran di muka bumi.

Dikatakannya, sholat sebagai wahana transformasi  social, dapat menebarkan kebaikan  dan mencegah kemungkaran di muka bumi. Karenanya, Isra Miraj bukan hanya bagian dari transformasi spiritual tetapi juga transformasi sosial. Transformasi spiritual mengajarkan ketaatan dan ketundukan pada  perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

 

Sedangkan Transformasi sosial  mengajak kita untuk melakukan perubahan dari keburukan menuju kebaikan, dari  kesalahan menuju kesalehan, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari kemiskinan menuju kemakmuran dan kesejahteraan, dari perpecahan menuju persatuan dan kesaatuan, sehingga terwujud Rahmatan Lil Alamien, dalam wujud Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, jelasnya.*Ash*