0 menit baca 0 %

Kemenag Rohul : Perbedaan Lahirkan Bibit Perpecahan

Ringkasan: Rokan Hulu (Inmas) – Tahun ini kita patut berbangga dan bahkan bersyukur kepada Allah SWT, ternyata umat Islam Indonesia, sebuah negeri yang dikenal penduduk muslimnya terbesar di dunia, mengalahkan penduduk negara-negara Islam di Timur Tengah yang nota bene tempat lahirnya agama Islam, meraya...

Rokan Hulu (Inmas) – Tahun ini kita patut berbangga dan bahkan bersyukur kepada Allah SWT, ternyata umat Islam Indonesia, sebuah negeri yang dikenal penduduk muslimnya terbesar di dunia, mengalahkan penduduk negara-negara Islam di Timur Tengah yang nota bene tempat lahirnya agama Islam, merayakan hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H secara bersamaan.

Sekalipun masih ada sekelompok umat Islam yang merayakannya dua hari sebelumnya. Namun secara umum, hari Raya Idul Fitri secara bersamaa, yang disimbolkan oleh dua oraganisasi besar yakni Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, dengan  mengikuti penetapan yang dikoordinir oleh Menteri Agama RI.

Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA melalui press releasenya kepada sejumlah wartawan yang biasa meliput kegiatan Kemenag di kantornya, Jalan Ikhlas Kompleks Perkantoran Pemerintah, kota Pasir Pengaraian, Selasa (5/7/2016).

Dikatakannya, Perbedaan penetapan tanggal satu, pada hari-hari yang terkait langsung dengan kegiatan keagamaan ini, sungguh mengherankan kalau bukan menggelikan, sebab di negeri ini hidup para pakar yang ahli dalam berbagai bidang yang terkait dengan penetapan awal bulan.

Perguruan tinggi Islamnya bertebaran di mana-mana, pondok pesantren tumbuh bagaikan jamur di musim hujan, profesor doktornya juga lumayan banyak. Tapi sungguh menggelikan, menetapkan awal bulan Qomariyah saja tidak bisa disatukan.

Perlu disadari bahwa perbedaan penetapan awal bulan Ramadhan, awal bulan Syawal dan 10 Zulhijjah ini, tidak menutup kemungkinan menjadi bibit-bibit perpecahan pada tingkat akar rumput di kalangan umat Islam.

Pada tingkat elit, mungkin perbedaan ini tidak ada masalah, sebab mereka dapat memahami bahwa perbedaan itu adalah rahmat dan mereka juga menganggap bahwa perbedaan lebaran itu lumrah saja terjadi di negeri ini, sekalipun disadari bahwa di negeri lahirnya Islam, tidak pernah terjadi perbedaan dalam menetapkan awal bulan yang terkait dengan kegiatan keagamaan.

Konon kabarnya, di negeri lahirnya Islam, dalam hal ini Arab Saudi, penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Zulhijjah adalah wewenang Raja, hanya Rajalah yang berhak menetapkan dan mengumumkannya.

Apabila ada orang, baik perseorangan maupun kelompok, apalagi ormas keagamaan, yang mengumumkan hal itu di luar ketetapan kerajaan, maka perbuatan itu dianggap makar dan akan ditangkap serta diadili sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Ash