ROKAN HULU (KEMENAG) - Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Rokan Hulu (Rohul), Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, akhiri safari Halal bi Halal bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus III Kec Tambusai Utara, Kamis (4/8/2016) bertempat di kompleks SD 06 Desa Payung Sekaki Kec Tambusai Utara.
Hadir dalam acara tersebut Kepala UPTD Dikpora Tambusai Utara Ali Junjung, Kepala Desa Payung Sekaki yang diwakili oleh Sekretaris Desa Suwardi, Ketua K3S/KKG Eko Juniansyah SPdI, Pimpinan Pondok Pesantren Darussalamah Kyai Haji Ahmad Faqih Ahmad, dan para pengawas pendidikan.
Hadir juga bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, tokoh adat, para guru, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan se Tambusai Utara, Kepala Madrasah dan Sekolah se Tambusai Utara, orang tua wali murid, dan ratusan masyarakat Islam lainnya dari Desa Payung Sekaki.
Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, yang didaulat sebagai penceramah, dalam taushiyahnya menyatakan bahwa Halal bi Halal adalah kegiatan keagamaan khas Indonesia, sehingga jika ditanya pada orang Arab, tempat lahirnya agama Islam, mereka akan bingung dengan istilah ini.
Menurutnya, istilah Halal bi Halal adalah produk atau ciptaan orang Indonesia, dalam hal ini Jenderal Sudirman atau pahlawan nasional Agussalim, yang sejalan dengan ajaran agama Islam. Kegiatan Halal bi Halal inti pokoknya ada tiga hal, yaitu :
Pertama, Silaturrahim. Silaturrahim terdiri dari dua kata, yakni Shilah artinya hubungan dan Rahim artinya kasih sayang. Shilaturrahim artinya menjalin hubungan kasih sayang antara satu sama yang lain, khususnya dengan orang yang terputus hubungan dengannya, sehingga menyatu kembali, sebagai saudara sesame dalam seagama.
Kedua, maaf memaafkan. Di dunia ini yang namanya manusia pastilah melakukan kesalahan dan kelupaan, karena manusia memiliki akal dan nafsu. Beda halnya dengan malaikat yang hanya mempunyai akal tanpa mempunyai nafsu. Begitu juga binatang, punya nafsu tetapi tak punya akal. Maka keduanya tak dikenai dosa.
Jika ada seseorang manusia, mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berbuat dosa dan tidak punya kesalahan kepada orang lain, maka ada dua kemungkinan. Jika dia bukan malaikat karena malaikat tak pernah berbuat dosa, maka dirinya adalah binatang sebab sekalipun berbuat dosa tapi tak dikenai dosa.
Ketiga adalah tolong menolong antara satu sama yang lain, khususnya dengan menyiapkan makan untuk para tamu yang berkunjung. *Ash*