Rokan Hilir (inmas) – Gender mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan laki-laki dan perempuan.Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terkena dampak dan gender steriotipi masing-masing. Misalnya sesuai dengan pola perilaku yang diharapkan sebagai laki-laki, maka laki-laki dianggap tidak pantas memperlihatkan rasa sakit atau mempertunjukkan kelemahan-kelemahan serta keluhannya. Perempuan yang diharapkan memiliki toleransi yang tinggi, berdampak terhadap cara mereka menunda-nunda pencarian pengobatan, terutama dalam situasi social ekonomi yang kurang dan harus memilih prioritas, maka biasanya perempuan dianggap wajar untuk berkorban.
Hal ini disampaikan Ibu Asniati saat menjadi nara sumber pada acara lokalatih kesehatan dan gender yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Sumber daya Perempuan (PPSW) Sumatra atas kerja sama Australian Goverment, 23 – 24 Agustus 2017 di Hotel Mulia Bagansiapiapi.
Hadir pada acara tersebut 30 orang peserta, 2 diantaranya utusan Kantor Kementerian Agama Kab. Rokan Hilir, yakni Jhon Ridwan Manik Penyelenggara Kristen dan Nasuha Humas.
Lanjut Asniati, Keadaan ini juga dapat berpengaruh terhadap konsekuensi kesehatan yang dihadapi laki-laki dan perempuan. Misalnya kanker paru-paru banyak diderita oleh laki-laki diwaspadai ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Penderita depresi pada perempuan dua kali sampai tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan lebih banyak menderita penyakit menahun yang berkepanjangan (TBC), akan tetapi ada kecenderungan dari perhitungan, karena kebiasaan perempuan untuk mengabaikan atau menunda mencari pengobatan, jika penyakit itu masih bisa ditanggungnya.
Penting sekali memahami realitas, bahwa perempuan dan laki-laki menghadapi penyakit dan kesakitan bisa berbeda. Informasi itu hanya didapat jika kita memiliki data pasien, seperti data umur, status, social ekonomi yang terpilah menurut jenis kelamin.
Selain itu, Asniati menjelaskan tentang Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKBA) dan hal-hal terkait permasalahan perempuan/ibu, seperti kehamilan, melahirkan, pasca melahirkan dan menyusui.
Hal-hal yang diperlukan untuk memahami isu gender berkaitan dengan kesehatan adalah : (1) Mengumpulkan data dan informasi yang memperlihatkan bukti adanya ketimpangan berbasis gender dalam kesehatan perempuan dan laki-laki; (2) Menyatakan data dan informasi tersebut serta memperhitungkannya ketika mengembangkan kebijakan dan program kesehatan; (3) Mengimplementasikan program-program yang sensitive gender untuk memperbaiki ketimpangan; (4) Mengembangkan mekanisme monitoring yang responsive terhadap isu gender, untuk memastikan ketimpangan gender dipantau secara teratur. (Nsh)