Riau (Inmas)- Berdasarkan hasil rekapitulasi capaian Updating Data EMIS PD Pondok Pesantren Tahun Pelajaran 2016/ 2017 per 28 April 2017, Provinsi Riau menempati peringkat 3 nasional, setelah DI Yogyakarta dan Kalimantan Selatan.
Hal tersebut diungkapkan Kasubag Data dan Informasi Diniyah, Pesantren dan PAI Setditjen Pendis Kemenag RI, Dodi Irawan Syarip S SI, M TI, usai menjadi narasumber pada kegiatan Orientasi Operator Data EMIS Pendidikan Agama dan Keagaman Islam, Senin (8/5/2017) di Hotel Cama Baio Pekanbaru.
Dodi menyebutkan, kriteria penilaian Updating Data EMIS PD Pondok Pesantren meliputi Pontren secara umum, wajar, santri wajar, MDTA dan LPQ. Untuk Riau tahun 2016/ 2017 mengalami peningkatkan dibandingkan tahun sebelumnya, tinggal melengkapi data- data yang dibutuhkan dalam menilaian tersebut, seperti data diniyah takmiliyah, pondok pesantren dan beberap data lainnya.
“Skor ini masih bersifat sementara, karena penilaian akhir dilakukan pada 7 Mei 2017 dan hasilnya baru akan diumumkan pada kegiatan Rakor dan Evaluasi Pendataan Pendidikan Islam di Bogor pada 10- 12 Mei 2017. Kalaupun terjadi pergeseran, hanya beberapa persen saja,” jelasnya.
Sementara untukd data PAIN, kata Dodi, pendataan di Riau tidak sebagus yang di PD. Pontren, dengan hanya menempati urutan ke 6 nasional per April 2017. Untuk kriteria penilaian, ia mengakui memang belum dibuat secara detail, baru setakat pembandingan capaian oleh daerah- daerah dan perkembangan data sebelumnya.
“Namun kedepan kami berharap penilaian ini tidak hanya dari sisi kuantitas, tapi akan dianalisis dari sisi kualitas data EMIS juga. Karena bagaimananpun, EMIS merupakan dasar perencanaan program anggaran jadi harus digali maksimal agar penganggaranpun dapat tepat sasaran untuk pembangunan pendidikan keagamaan,” jelasnya.
Terikait dengan kegiatan Orientasi Operator Data EMIS Pendidikan Agama dan Keagaman Islam yang dilaksanakan oleh Bidang Pakis Kemenag Riau, Dodi menilai hal tersebut merupakan langkah yang sangat tepat ditengah semakin cepatnya perputaran atau rotasi operator, jika tidak didukung kegiatan orientasi akan terjadi kesenjangan atau miss dari operator yang lama ke yang baru. (mus/jon)