Tembilahan (Inmas), Bulan Syawwal disebut pula sebagai bulan peningkatan, peningktan amal dan kebaikan sebagai implementasi dari didikan ramadhan yang telah menggembleng kita kaum muslimin sehingga menjadi lebih baik dan meningkat. Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri kita dari melakukan kemaksiatan dan dosa di bulan-bulan selain ramadhan di sepanjang hidup kita.
Sebaliknya marilah kita selalu memperbanyak berbuat kebaikan dan pahala, sehingga Allah swt memandang kita dengan pandangan kasih sayang-Nya. Lakukan kebaikan mulai dari kebaikan dengan ganjaran yang paling besar sampai kebaikan berupa terus mengingat kebaikan yang pernah orang lain lakukan untuk kita, sebagaimana yang pernah dicontohkan Rosulullah saw.
Pada suatu siang di Masjid Nabawi, di Madinah Al Munawaroh. Tidak seperti biasanya Rosulullah SAW tampak kehilangan sesuatu. Sorot matanya melihat ke sudut-sudut masjid. Ia mencari sosok yang biasa ia lihat ada di masjidnya. Rosul SAW lantas bertanya kepada para sahabatnya, perihal perempuan tua yang biasa membersihkan masjid. Para sahabat tampak heran dengan pertanyaan Rosul SAW. Mereka tidak mengira sosok nenek tua itu mendapat perhatian besar dari Rosulullah SAW.
Para sahabat lalu menyampaikan bahwa perempuan itu telah meninggal dunia. Rosul SAW segera meminta para sahabatnya, “Tunjukkan kepadaku kuburannya!” Siang itu, para sahabat bersama Rosulullah SAW pergi ke sebuah makam tempat perempuan tua itu disemayamkan, baru tadi malam. Rosul SAW lalu mensholat ghaib kannya (di atas kuburannya) dan berdo’a untuknya. Inilah sebuah tauladan kebaikan dari manusia paling mulia di muka bumi ini. Sebuah kebaikan, yang bahkan oleh para sahabatnya kala itu dianggap sepele, yaitu memberikan Penghargaan atas Kebaikan Orang Lain. Rosul SAW telah menunjukkan betapa pedulinya beliau terhadap sebuah jasa yang dianggap kecil oleh orang lain. Bagi sebagian kita, mungkin jasa yang dilakukan nenek tua itu tidak termasuk ke dalam kelompok jasa yang patut diperhatikan. Cuma menyapu masjid. Pekerjaan seperti itu, memang nyaris tidak mendapat perhatian apapun dari lingkungan sekitarnya.
Para sahabat Rosul SAW pun bukan tidak tahu dan tidak menghargai jasa nenek yang berkulit hitam itu. Namun mereka tidak menyangka dan merasa peran membersihkan masjid yang dilakukan perempuan tua itu ternyata menempati posisi istimewa dalam pandangan Rosul SAW. Memang, seringkali manusia menghargai jasa orang lain hanya dikaitkan dengan kebutuhannya yang sifatnya sangat sementara. Ketika perlu, seseorang cenderung merasakan peran-peran orang lain begitu berharga.
Tapi jika tidak perlu lagi atau kebutuhan telah didapatkan, biasanya peran dan jasa itupun hilang bagaikan debu diterpa angin, tidak ada bekasnya. Tidak sedikit, seorang anak yang sudah berhasil, menganggap orang tuanya hanya sebagai beban yang merepotkan, karena mereka telah tua dan tidak produktif lagi. Lalu ditipkan dipanti jompo atau dibiarkan mengurus diri mereka sendiri.
Tidak sedikit seorang murid atau santri yang sudah sukses, menilai guru-gurunya hanya sebagai batu loncatan menuju cita-cita yang diinginkannya. Ketika cita-cita itu tercapai atau telah sekian lama dirinya melewati masa belajar, jasa para guru-guru mereka dahulu terlupakan sama sekali bahkan menganggap keberadaan orang yang telah menyebabkan mereka dapat membaca, berilmu dan bernilai sekarang, seakan tidak ada. Adapula yang meninggalkan rekan sekerja, sahabat atau orang lain yang pernah berjasa, karena mereka sudah tidak berkedudukan tinggi, sudah tidak memiliki jabatan dan sudah tidak berguna baginya. Atau karena dirinya sudah berada di posisi yang lebih tinggi dari orang-orang itu. Marilah kita pandai-pandai membaca, meneliti dan mentafakkuri perjalanan hidup ini hingga langkah terakhir kita di Masjid ini.
Sesunggunya perjalanan kita tersambung karena banyak peran dan jasa orang-orang di sekitar kita. Kedua orang tua kita, istri dan anak kita, sahabat-sahabat kita, guru-guru kita, rekan-rekan kerja kita atau bahkan orang-orang yang hanya kita ketemu dengannya 1 kali di jalan, terminal atau di negeri-negeri asing yang kita kunjungi , yang mungkin dalam pandangan kita tidak selalu berjasa.
Namun sesungguhnya entah besar atau kecil, telah memberikan kontribusi dalam hidup kita. Marilah kita belajar dari Rosulullah SAW, yang begitu memberikan curahan hati dan fikirannya terhadap seorang perempuan tua di Masjid Nabawi yang sesungguhnya kebaikan yang diberikan orang tua itu tidak untuk Rosul pribadi, tapi justru sebenarnya dirasakan oleh banyak sahabatnya, mereka selalu mendatangi masjid dalam keadaan bersih sehingga mereka dapat beribadah dengan tenang dan khusuk di dalamnya. Demikian mulianya Rosul, beliau telah mengajarkan kepada kita tentang menghargai jasa orang lain. Penghargaan jasa yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan pribadi, terlebih jika ada jasa orang lain yang terkait dengan kebutuhan pribadi atau keluarga kita. Penghargaan atas peran dan jasa yang boleh jadi dianggap sepele, kecil, sederhana dan tidak bergengsi oleh orang lain.
Tidak memerlukan keahlian khusus untuk melakukannya. Namun jasa tetaplah jasa. Dan manfaatnya tetaplah harus dikenang dan dihargai. Mari ingat dan sapa semua orang yang pernah berjasa kepada kita, dan kepada kehidupan kita. Mudah-mudahan dengan itu kita pun akan menjadi orang yang tidak dilupakan oleh orang lain. Seiring datangnya Iedul Fitri 1437 H, Keluarga besar Kementerian Agama Kab. Inhil yang diketuai oleh Kasubbag TU (Drs.H.Abd.Muis,M.PdI) bersilaturahmi kekediaman Bapak Drs. H. Tarmizi, MA (Direktur Zakat dan Wakaf Kemenag Ri) di Pekanbaru.
Rombongan terdiri dari Ka. Kemenag Kab. Inhil sebagai pengarah, Kasubbag TU sebagai ketua yang diikuti oleh Kasi PAIS, Kasi Penmad, Kepala MAN Tembilahan, kepala MTsN Tembilahan, Kepala MTsN Mandah, Kepala MTsN Enok, Kepala MIN Pulau Kijang dan pengawas serta karyawan lainnya.(Hery)