0 menit baca 0 %

Kasi Bimas Islam: Tiga Perkara yang Menyelamatkan dan Tiga Perkara yang Menyesatkan

Ringkasan: Siak (Humas) – Memasuki hari ke 4 bulan Ramadhan 1435 H, pegawai Kantor Kemenag Kabupaten Siak tetap semangat mendengarkan taujih di mushola Miftahunnajah yang baru 2 tahun lalu difungsikan, kali ini yang memberikan taujih adalah Kasi Bimas Islam, H.

Siak (Humas) – Memasuki hari ke 4 bulan Ramadhan 1435 H, pegawai Kantor Kemenag Kabupaten Siak tetap semangat mendengarkan taujih di mushola Miftahunnajah yang baru 2 tahun lalu difungsikan, kali ini yang memberikan taujih adalah Kasi Bimas Islam, H. Ahmad Muhaimin, S.Ag. Dalam tausiahnya dia mengutip sebuah hadist: “Tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang menyesatkan. Adapun perkara yang menyelamatkan adalah taqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, dan berkata haq dalam keadaan ridha dan marah, dan sederhana dalam keadaan kaya dan fakir. Adapun perkara yang mencelakakan adalah hawa nafsu yang dituruti, dan kekikiran yang dita’ati, dan bangga akan diri sendiri, dan hal ini merupakan yang paling berbahaya.” [ HR. Al Baihaqi ] “Alangkah indahnya ucapan beliau yang mencakup segala jalan kebaikan, memperingatkan dari segala jurang-jurang kehancuran” jelasnya. “Taqwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, maka itu adalah pokok segala perkara. Dengannya kebaikan dapat dicapai, dan kejahatan dapat ditepis. Ia adalah selalu merasa takut kepada Allah selamanya, dan mengetahui dekatnya Zat Maha Raja yang Maha Mengetahui. Sehingga seseorang merasa malu kepada Tuhannya jika Ia melihatnya berada dalam kemaksiatan. Dan mendapatinya tidak berada dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada ridha-Nya” lanjutnya “Sedangkan berkata haq dalam keadaan ridha mau marah, maka sesungguhnya hal itu merupakan pertanda kejujuran dan keadilan dan taufik. Merupakan suatu bukti yang paling nyata akan keimanan dan penguasaan seorang hamba atas amarah dan nafsunya. Sesungguhnya tidaklah selamat dari nafsu itu kecuali orang-orang yang jujur. Sehingga kemarahan dan nafsu tidak mengeluarkannya dari kebenaran, dan tidak menjerumuskannya ke dalam kebatilan. Bahkan kejujuran mencakup seluruh keadaannya dan meliputinya” pungkasnya. (gun)