0 menit baca 0 %

Kanwil Kemenag Riau Kunjungi NTT Dalam Rangka Tingkatkan Pengelolaan Kerukunan

Ringkasan: Kupang (Inmas) - Di Provinsi Riau, telah terdapat berbagai suku bangsa. Di antaranya suku Jawa, Batak, Minang, Mentawai, Flores, Bugis, Banjar, Tinghoa, Arab, Eropa. Kedatangan hampir semua suku bangsa besar di nusantara dan dunia itu disebabkan beberapa hal.

Kupang (Inmas) - Di Provinsi Riau, telah terdapat berbagai suku bangsa. Di antaranya suku Jawa, Batak, Minang, Mentawai, Flores, Bugis, Banjar, Tinghoa, Arab, Eropa. Kedatangan hampir semua suku bangsa besar di nusantara dan dunia itu disebabkan beberapa hal. Di antaranya sifat dan sikap masyarakat Melayu yang toleran, terbuka dan merasa bahagia jika kedatangan tamu. Akibat toleran dan terbuka terebut, konflik hampir tak pernah terjadi di sini ini. Bahkan oleh Raja-Raja Melayu dahulunya, para pendatang dianggap kemenakan atau keponakan, yang di antara mereka mendapat tanah ulayat dari Sulthan. Ini dapat terlihat di bagian Kerajaan Siak Sriindrapura, di Rokan Hulu dan di beberapa daerah lainnya. Bahkan hampir semua suku bangsa di nusantara dan dunia menempati Riau, namun suasana tetap aman dan nyaman walau pun riak-riak gesekan pernah ada namun dapat diredam sehingga tidak berdampak besar bagi jalinan kerukunan umat beragama.

Hal itu disampaikan Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA saat memberi sambutan pada Kunjungan Koordinasi Peningkatan Pemeliharaan dan Pengelolaan Kerukunan Umat Beragama di Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (14/02).

Lebih lanjut Kakanwil menyampaikan Provinsi Riau merupakan negeri Melayu, juga disebut orang sebagai negeri sohibul kitab atau juga negerinya para pujangga. Tanpa membusungkan dada bagai itik di lautan, atau menggembung-gembung badan umpama ikan buntal di air, perlu juga kami kabarkan bahwa negeri kami ini memiliki sejarah panjang dalam peradaban nusantara. Kebesaran itu, paling tidak masih punya jejak hingga kini adalah bahasa Melayu Riau yang diabadikan dan disumbangkan menjadi Bahasa Indonesia, bahasa pemersatu dan perekat nusantara.  

Walaupun begitu, menurut Kakanwil Kemenag Riau, dalam mengelola kerukunan umat, Provinsi Riau perlu belajar banyak pada NTT karena Provinsi ini pernah menjadi Provinsi dalam mengelola kerukunan umat beragama pada tahun 2015. Untuk itu Kanwil Kemenag Riau melakukan Kunjungan Koordinasi Peningkatan Pemeliharaan dan Pengelolaan Kerukunan Umat Beragama tahun 2017. Selain itu, Riau mayoritas muslim, ingin pula melihat bagaimana NTT yang mayoritas beragama Kriiani dalam mengelola kerukunan.

“Kami juga ingin melihat "laboratorium sosial" yg sudah berdiri sejak 2010 di NTT,” ungkap Kakanwil. Selain itu, masyarakat Kristiani di NTT kabarnya memiliki kearifan lokal dalam melayani tamu, seperti menyiapkan peralatan makanan khusus terbuat dari batu agar umat muslim tidak ragu untuk makan di rumah umat Kristiani. Bahkan kabarnya, jika ingin menjamu kaum muslim, mereka malah menyiapkan ayam atau kambing yang disembelih sendiri oleh umat Islam. Ini sungguh luar biasa,” ungkap Kakanwil.

Lebih jauh Kakanwil Riau berkunjung ke NTT juga karena NTT memiliki "gong perdamaian nusantara" yang diresmikan Presiden SBY di taman nostalgia Kupang pada tahun 1998. Itu juga sebagai pilot project kerukunan hidup antar umat betagama di Indonesia. Gong yang berdiameter 2 meter dan seberat 200 kg tersebut mendapat peneguhan sebagai kota "kasih" serta memberi dorongan menuju perdamaian abadi.

Sementara itu, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menyambut baik kedatangan rombongan dari Kanwil Kemenag Riau. Menurutnya, di antara beberapa hal yang dilakukannya dalam membina kerukunan umat beragama di NTT selama ini adalah dengan selalu melakukan komunikasi dan kemitraan melalui dialog-dialog, seperti dialog pemerintah daerah dengan lembaga-lembaga keagamaan, dialog kerukunan lintas agama, dan dialog pemuda (Daratan Timor, Alor, Rote Ndao, dan Shabu Rai Jua, Daratan Flores serta Daratan Sumba. Selain itu juga, pemerintah daerah mendukung kegiatan kerohanian melalui fasilitasi kegiatan-kegiatan kerohanian seperti Natal dan Paskah Oukjumene, ziarah rohani, Pekan Orang Muda Katolik dan Sekami, Pekan Suci Larantuka, Pesparawi, Pawai Paskah, STQ dan MTQ, Halal bihalalal, urusan haji, Utsawa Dharmagita dan lain sebagainya.

Lebih lanjut Gubernur NTT menyampaikan, bahwa Pemda NTT terus memberikan Bantuan Hibah dan Bantuan Sosial. Pada tahun 2017, menurutnya bantuan hibah keagamaan mencapai Rp 4.515.000.000,-. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan sarana ibadah, pemberdayaan ekonomi umat, dan oraganisasi keagamaan.

Gubernur NTT memaparkan jumlah pemeluk agama Katolik hingga tahun 2017 di NTT sebanyak 56,28%, Pemeluk agama Kristen Protestan 34,21%, pemeluk agama Islam 9,28%, pemeluk agama Hindu 0, 22%, pemeluk agama Budha, 0,03%.

“Selama ini kita tetap rukun walaupun pada tahun 1998 pernah terjadi konflik selama satu hari. Namun setelah itu membaik dan sampai kini tetap rukun dan damai sehingga dinobatkan menjadi provinsi percontohan dalam mengelola kerukunan umat beragama. Menjadi negeri percontohan ini hendaknya terus sampai kapan pun,” ungkap Gubernur.

Namun yang paling berpengaruh dalam mengelola kerukunan umat di NTT adalah karena kearifan lokal yang telah diwariskan pendahulu hingga turun temurun. Bahkan di NTT menurutnya, persaudaraan sesama manusia jauh lebih penting dari apapun. “Di sini, membangun mesjid misalnya dilakukan secara bersama dengan umat Kristiani. Begitu pula sebaliknya, umat Islam pun tidak merasa kurang kalau mereka menyumbangkan tanah untuk pembangunan gereja,” katanya.

Selain itu, menurut Gubernur, mempelajari kerukunan umat di NTT jauh lebih baik dengan melihat dan merasakan sendiri dari dekat apa yang terjadi di NTT, dengan mengunjungi setiap jengkal tanah di Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan hari itu dihadiri Gubernur NTT beserta beberapa pejabat dan staf Pemprov Nusa Tenggara Timur, Kakanwil Kemenag NTT beserta pejabat di lingkungan Kanwil Kemenag NTT, Ketua FKUB NTT, Kakanwil Kemenag Riau dan sejumlah Kakan Kemenag di Provinsi Riau, Wakil Ketua FKUB Provinsi Riau serta Kabupaten dan Kota Se-Riau serta ASN Kanwil Kemenag se Provinsi Riau yang berjumlah 45 orang. Kegiatan Kunjungan Koordinasi Peningkatan Pemeliharaan dan Pengelolaan Kerukunan Umat Beragama ini berlangsung 13 – 16 Februari 2017. (griven)