0 menit baca 0 %

Kakanwil Riau Berpesan, Tamat Ponpes Jangan Langsung Minta Kawin

Ringkasan: Pelalawan (Inmas)- Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA dalam arahannya pada acara tasyakuran dan perpisahan Kelas 3 MTs, Kelas 3 MA dan SMK Ponpes Hidayatul Ma'arifiyah Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan, Sabtu (29/4/2017) menitipkan pesan agar tamat Ponpes jangan langsung minta kawin, s...

Pelalawan (Inmas)- Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Supardi MA dalam arahannya pada acara tasyakuran dan perpisahan Kelas 3 MTs, Kelas 3 MA dan SMK Ponpes Hidayatul Ma'arifiyah Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan, Sabtu (29/4/2017) menitipkan pesan agar tamat Ponpes jangan langsung minta kawin, sebab tantangan yang dihadapi masa kini berbeda dengan tantangan yang dihadapi pada masa lalu. Dulu perlu banyak orang, sekarang orang sudah banyak dan diperlukan kreasi, inovasi dan prestasi, sehingga dapat mengangjat harkat dan martabat umat, dengan lahirnya generasi islami yang handal.

Kakanwil Kemenag Ahmad Supardi lebih lanjut berpesan:
Pesan pertama yang disampaikan mantan Kakankemenag Rohul pada acara yang dihadiri Kasi Pendis Pelalawan Dr Edy, Kadis Dikpora yang diwakili Kabid PAUD dan Penmas Machdalena, civitas academika Ponpes Hidayatul Ma'arifiyah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, alim ulama, cerdok pandai ini, agar seluruh orang tua siswa dan siswa bersyukur kepada Allah SWT karena sudah diberi kesempatan untuk belajar di Pondok Pesantren ini.

"Banyak orang ingin menyekolahkan anaknya di ponpes, tapi tidak semua orang bisa. Karena kapasitas terbatas, sementara jumlah pendaftar mencapai 5 kali lipat dari yang diterima. Artinya, madrasah sangat diminati orang, bukan hanya masa dulu, tapi sekarang dan akan datang," tegasnya.

Menurutnya, banyak persoalan yang dihadapi bangsa seperti kenakalan remaja, narkoba, teknologi, media sosial, dan persoalan lain yang hanya bisa diselesaikan dengan agama, back to basic, back to religion, back to madrasah.

Kedua, tamat sekolah jangan langsung kawin atau nikah. Jika ada yang melamar tunggu dulu, karena diperlukan kematangan berfikir dalam rumah tangga. Dan salah satu penyebab tingginya perceraian adalah kawin muda.

Ketiga, siswa yang lulus hendaknya ditingkatkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, jangan hanya tamat MA atau SMA, atau kuliah saja. Dulu tamat MA sudah cukup, tapi saat ini sudah tidak dipakai lagi.

"Sekitar tahun 1980an, tamatan SMA atau Madrasah dicari- cari untuk dijadikan pegawai negeri. 30 tahun kemudian yaitu tahun 2010 saat saya diangkat jadi Kakankemenag Rohul, penerimaan pegawai tidak ada satupun formasi untuk SMA atau MA, semua harus S1. Bagaimana untuk lima atau 10 tahun yang akan datang, mungkin S1 tidak lagi dibutuhkan," ungkapnya menggambarkan dan berharap agar generasi muda terus melanjutkan pendidikan.

Keempat, selama ini para guru sudah banting tulang, mengajar, dan mendidik, untuk itu siswa siswi harus selalu hormat kepada guru, tidak ada mantan guru. Untuk itu jika bertemu dimanapun hendaknya hormat, jika perlu salami dan cium tangan guru karena keberkahan ilmu dengan penghormatan kepada guru.

Kelima, selalu hormat dan berbaktilah kepada kedua orang tuah, karena berkat orang tualah siswa siswi bisa mengenyam pendidikan yang terbaik.

"Pesan ini bukan hanya untuk siswa madrasah Ponpes Hidayatul Ma'arifiyah, tapi semua siswa madrasah di Riau. Mudah- mudahan lulus 100 % sehingga bisa melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi," harapnya. (ash/e-m)