0 menit baca 0 %

Kakanwil : MQK, Ajang Bergengsi Yang Wajib Dilestarikan

Ringkasan: Pekanbaru (Inmas) – Musabaqah Qiraatul Kutub merupakan ajang silaturrahim akademik antar pondok pesantren, antar santri dan antar ulama. Perlombaan ini dihelat untuk menjaga agar kitab kuning sebagai tradisi intelektual tetap terjaga. MQk juga dinilai sebagai pengakuan eksistensi para santri yang...

Pekanbaru (Inmas) – Musabaqah Qiraatul Kutub merupakan ajang silaturrahim akademik antar pondok pesantren, antar santri dan antar ulama. Perlombaan ini dihelat untuk menjaga agar kitab kuning sebagai tradisi intelektual tetap terjaga. MQk juga dinilai sebagai pengakuan eksistensi para santri yang belakangan mengalami perkembangan yang signifikan. Demikian poin awal yang disampaikan oleh Kakanwil Kemenag Riau Drs H Ahmad Syupardi MA saat memberi sambutan dan arahan pada kegiatan MQK tingkat Provinsi Riau ke- 6 Tahun 2017 di PP Alkautsar Kecmatan Tenayan, Jum’at (01/04) malam.

Pada kesempatan tersebut Ahmad memberikan apresiasi atas kiprah dan peran keluarga besar Kemenag dan Keluarga besar PP Alkaustar khususnya sebagai tuan rumah penyelenggara kegiaatan. Atas  partisipasi dan gerakan kita bersama kegiatan ini bisa terlaksana, ujarnya.

Menurutnya MQk ini bertujuan untuk mendorong kemampuan santri dalam menggali ilmu agama yang terdapat dalam kitab kuning, sekaligus juga meningkatkan kecintaan dan girah santri terhadap kitab klasik rujukan keilmuan Islam yang menggunakan bahasa Arab. Sehingga eksistensi santri bisa makin berkibar kedepan, ucapnya.

Kakanwil menegaskan bahwa pesantren hari ini tidak sama lagi dengan pesantren di masa beliau menjadi santri, pesantren hari ini jauh lebih modern dan up date informasi ketimbang dulu. Jika dulu para santri kerap menggunakan sarung sebagai pakaian harian. Sekarang santri sudah mayoritas menggunakan celana panjang, ujarnya sambil berseloroh.

Karena itu, sebagai calon ulama sekaligus calon pemimpin maka para santri diharapkan mampu bersaing di tengah kemajuan teknologi, sehingga lahir ulama dan cendikiawan yang tak hanya menguasai ilmu agama namun ilmu sains dan umum lainnya.

Dikatakannya MQK merupakan ajang yang jauh lebih berat dari kegiatan MTQ yang sudah dari dahulunya terselenggara. Karena bacaan yang diperlombakan dalam MQK tidak memiliki harakat/ baris. Artinya hanya bisa dipahami oleh orang orang yang memiliki kemampuan berbahasa Arab dengan baik.

Ia berharap MQK ini akan dapat terus terselengara secara rutin dan menjadi event tahunan di Kemenag. Tentunya dengan menggunakan sistem giliran kab/ kota untuk tuan rumah penyelenggara kegiatan. Dengan demikian terangnya kita dapat melihat langsung perkembangan dan aktivitas PP yang ada di Kab/kota se-Riau.

Menutup arahannya, pria murah senyum ini menyampaikan ajakan dan sangat berharap kepada Gubri dan jajaran pemprov setempat untuk dapat mendukung sepenuhnya, ikut bersama sama pada perhelatan  MQK Nasional yang akan di gelar di Jepara Jateng Oktober mendatang.(vera)