0 menit baca 0 %

Kakanwil Kemenag Riau Minta MAN 1 Pekanbaru Fokus pada Profesionalisme dan Program Berdampak

Ringkasan: Pekanbaru (Kemenag) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau, H. Muliardi, menegaskan bahwa madrasah tidak boleh lagi terjebak pada kegiatan seremonial yang minim hasil. Penegasan itu disampaikan saat memberikan pembinaan kepegawaian kepada seluruh tenaga pendidik dan kependid...

Pekanbaru (Kemenag) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Riau, H. Muliardi, menegaskan bahwa madrasah tidak boleh lagi terjebak pada kegiatan seremonial yang minim hasil. Penegasan itu disampaikan saat memberikan pembinaan kepegawaian kepada seluruh tenaga pendidik dan kependidikan MAN 1 Pekanbaru, Selasa (25/11/2025).

Pembinaan yang berlangsung di aula madrasah itu bergerak cepat sejak awal. Muliardi langsung menyorot isu utama: profesionalisme ASN dan program madrasah yang harus berdampak nyata. Menurutnya, dua hal itu menjadi ukuran kualitas lembaga pendidikan di bawah Kemenag.

“Profesionalisme bukan cuma soal bisa kerja. Profesionalisme itu integritas, disiplin, dan etos kerja yang tidak putus. Kita ASN. Kita pendidik. Teladan adalah syarat wajib,” ujar Muliardi dengan penekanan kuat.

Ia mengingatkan kembali standar perilaku ASN, terutama dalam menjaga nama baik institusi. Muliardi meminta setiap pegawai berhati-hati dalam bertindak, baik di ruang publik maupun internal madrasah.

“Kita membawa nama madrasah dan kementerian. Satu tindakan keliru bisa merusak kerja keras banyak orang,” tambahnya.

Tidak hanya soal etika, Kakanwil juga menekankan perlunya pegawai memahami regulasi terbaru. Perubahan kebijakan pendidikan, sistem administrasi digital, hingga standar pelayanan publik disebutnya harus dikuasai, agar madrasah tidak tertinggal.

Masuk ke inti arahan, Muliardi menyorot pentingnya program madrasah yang berdampak, bukan sekadar acara rutin tahunan. Ia meminta madrasah lebih selektif dalam mengalokasikan tenaga, waktu, dan anggaran.

“Setiap kegiatan wajib dievaluasi: apa manfaatnya, siapa yang menerima dampaknya, dan apakah hasilnya bisa diukur. Kalau tidak ada outcome, hentikan. Fokus pada yang bermanfaat,” tegasnya.

Muliardi merinci dua arah dampak yang harus diperhatikan madrasah. Pertama, bagi peserta didik. Program harus mendongkrak prestasi akademik, memperkuat bakat dan minat—baik sains, seni, maupun olahraga—serta menguatkan karakter keagamaan dan kebangsaan. Kedua, bagi masyarakat. Madrasah harus hadir melalui kegiatan sosial, pengabdian, atau kolaborasi dengan komunitas yang memberi nilai tambah bagi lingkungan sekitar.

Di tengah pembinaannya, Muliardi turut menyampaikan apresiasi atas berbagai prestasi yang telah diraih MAN 1 Pekanbaru di tingkat nasional. Namun ia menegaskan bahwa prestasi tidak boleh membuat madrasah berhenti berbenah.

“Prestasi itu penting, tapi bukan tujuan akhir. Yang kita cari adalah keberlanjutan kualitas. Madrasah harus terus bergerak, terus memperbaiki, terus menghasilkan dampak,” ujarnya.

Menutup arahannya, Kakanwil kembali mengingatkan perlunya madrasah membuka diri terhadap perubahan.

“Madrasah harus outward-looking. Lihat kebutuhan zaman, lihat kebutuhan masyarakat. Kita didik anak-anak bukan untuk hari ini, tapi untuk masa depan yang lebih menuntut,” pungkasnya. (Humas MAN 1 Pekanbaru)