Riau (Inmas) - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau mengajak penyuluh agama Katolik untuk memperkuat moderasi beragama di kalangan umat Katolik. Melalui kegiatan keagamaan yang diampunya, penyuluh agama Katolik diyakini bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya moderasi beragama.
Hal itu dikatakan Mahyudin saat menjadi narasumber dalam kegiatan pembinaan penyuluh agama Katolik Non PNS yang diselenggarakan oleh Bimas Katolik Kanwil Kemenag Riau Senin (09/03) di Hotel Drego.
“Penyuluh agama berada di barisan terdepan untuk memberikan pencerahan bagi umat. Salah satunya tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan dalam kehidupan melalui sikap beragama yang moderat,” kata Mahyudin.
Ditambahkan pejabat yang pernah menjadi Kabag Tata Usaha ini, penguatan moderasi beragama juga penting agar umat Katolik semakin mampu menghadapi berbagai isu yang acapkali bisa mengganggu keharmonisan hidup umat beragama.
Kenyataannya bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan dan keberadaan manusia lain, sehingga harus dipelihara sikap saling menghormati.
Sedikitnya ada empat fungsi yang harus dikedepankan oleh seorang penyuluh agama katolik guna memperperkuat kerukunan saat berada dalam perbedaan, yakni sikap saling menghormati, sikap saling mengakui perbedaan, dan sikap bekerja sama ditengah masyarakat.
Fungsi pertama yang melekat pada penyuluh agama adalah penyuluh sebagai tempat memperoleh informasi berkenaan dengan kehidupan beragama. “Penyuluh sebagai sumber informasi terhadap masyarakat,” katanya.
Tidak ada dalam agama Budha dan agama lain di Indonesia yang menyuruh umatnya mencuri, menggunakan narkoba. Tetapi Kenapa mereka lakukan? Karena jauh dari kitab suci mereka. Tidak ada dalam kitab suci memerintah mengancam, membunuh saudaranya, terang Mahyudin.
Yang kedua tugas penyuluh adalah mendidik umat dengan kitab suci masing masing. Jadi kita berusaha mendekatkan diri agar mereka memahami ajaran agamanya.
Ketiga, Mahyudin menyebut penyuluh berfungsi untuk mengadvokasi umatnya dari ancaman dan gangguan pihak luar, yang ingin merongrong supaya masyarakat atau umatnya tidak mau beribadah.
Apalagi terkait dengan kerukunan jangan sampai terusik. Bapak bapak sebagai tokoh agama harus bisa meredam api kecil sebelum menjadi besar, pesannya.
Kalau ada informasi agama oleh pembimas, diresapi dengan baik baik agar bisa disampaikan ke umat seutuhnya. Sekarang bagaimana umat bisa fokus agar umat bisa memahami program moderasi beragama. Bagaimana agar umat kita tidak berlaku ekstrim dan jadi boomerang ditengah masyarakat.
“Kalau umat sudah berbuat selaras dengan kitab suci tidak akan terjadi penyimpangan.” Ujarnya.
Jadi tugas bapak jangan ikut mengompori jemaah agar terjadi ketidakrukunan yang bisa mnngakibatkan penyuluh di PAW, tekan Mahyudin.
Keempat, penyuluh adalah sebagai tempat bertanya dan tempat mengadu bagi umatnya yang akan melaksanakan agamanya.
Disinilah dituntut seorang penyuluh harus memperkaya diri akan pemahaman agama dan wawasan pengetahuannya.
Alumnus program doktoral UIN ini berharap melalui bahasa agama yang disampaikan, para penyuluh dapat memberikan pemahaman keagamaan yang kuat. Sehingga umat Katolik di Riau akan tetap menjadi umat beragama sekaligus warga negara yang baik.
Dalam kegiatan itu, Mahyudin menyebut pembinaan penyuluh agama Katolik tersebut diselenggarakan untuk menjadikan penyuluh sebagai seorang yang partisipatif bagi umatnya dan masyarakat. Karena, penyuluh agama adalah fasilitator dan dinamisator bagi umatnya.(vera/za/fadli)