Kakankemang Rohul: Standar Hisab dan Rukyat Harus Ditinjau Ulang
Ringkasan:
Rokan Hulu (Humas)- Idul fitri adalah momentum kesatuan umat, dimana umat islam berkumpul jadi satu, merayakan idul fitri, hari kemenangan setelah sukses meraih kemenangan besar, yaitu mengalahkan hawa nafsu, dengan berpuasa satu bulan penuh, sesuai firman Allah yang artinya "Hai orang orang yang be...
Rokan Hulu (Humas)- Idul fitri adalah momentum kesatuan umat, dimana umat islam berkumpul jadi satu, merayakan idul fitri, hari kemenangan setelah sukses meraih kemenangan besar, yaitu mengalahkan hawa nafsu, dengan berpuasa satu bulan penuh, sesuai firman Allah yang artinya "Hai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa" (Q.S. Al baqarah : 183).
Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Rokan Hulu, Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, Rabu (7/9) di ruang kerjanya di kompleks Pemda Pasir Pengarayan mengatakan, berperang melawan hawa nafsu adalah pertempuran terdahsyat dalam pandangan agama islam, bahkan melebihi dahsyatnya dari perang Badar yang terkenal itu. Raihan akan kemenangan ini, dirayakan secara bersama sama, dengan mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, mengagungkan asma Allah, meninggikan Syi`ar islam, yang dilanjutkan dengan melaksanakan sholat idul fitri secara bersama sama dan berjamaah.
"Ini semua pertanda persatuan dan kesatuan umat, bukti kebesaran dan kekuatan umat, serta bukti kejayaan dan ketinggian agama islam, sesuai firman Allah : Sesungguhnya agama yang paling mulia di sisi Allah ialah agama Islam. Sayang sekali, Idul Fitri tahun ini tidak sebagaimana yang dicitakan, Idul Fitri dirayakan secara berbeda, atau dalam kata lain dirayakan dua kali. Ini mengisyaratkan para pimpinan umat, yang merupakan tokoh tokoh nasional itu, tidak mampu menyatukan perbedaan di antara mereka, padahal kalau mau, itu bisa dilakukan," ungkap Ahmad Supardi.
Ia berharap agar para pimpinan agama tingkat nasional, dapat duduk satu meja, berembuk kepentingan umat, menghilangkan egonya masing masing, bermuzakaroh bersama, dan menghasilkan keputusan bersama. Keputusan yang betul betul bersama, bukan hanya sepakat dalam perbedaan.
"Untuk mengatasi ini, saya usulkan empat hal. Pertama, tinjau ulang standar hisab dan rukyat, bulan berapa derajat dan melihat bulan sekarang ini, dengan mata atau dengan ilmu pengetahuan. Kedua, jika tak bisa, maka tetapkan secara bergiliran, tahun ini dengan rukyat dan tahun depan dengan hisab. Ketiga, puasanya boleh berbeda, tapi sholat Idul Fitrinya dilaksanakan secara bersama. Keempat, jika ini juga tak bisa, maka alternatif terakhir, penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Dzulhijjah menjadi wewenang pemerintah, ormas keagamaan apalagi partai politik, dilarang mengumumkannya, bila melanggar diberikan sanksi," tegasnya. (ash)