0 menit baca 0 %

Kakan Kemenag Kampar : Makan Bajambau Merupakan Tradisi Khas Kab. Kampar

Ringkasan: Kampar (Humas) – Setelah mengikuti rangakain acara Hari Jadi Kab. Kampar ke 64 tahun 2014, mulai dari Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Kab. Kampar dan Sidang Paripurna di DPRD Kab. Kampar, acara berikutnya dilanjutkan dengan Makan bajambau yang dalam bahasa indonesia adalah berjambar artinya ber...

Kampar (Humas) – Setelah mengikuti rangakain acara Hari Jadi Kab. Kampar ke 64 tahun 2014, mulai dari Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Kab. Kampar dan Sidang Paripurna di DPRD Kab. Kampar, acara berikutnya dilanjutkan dengan Makan bajambau yang dalam bahasa indonesia adalah berjambar artinya berhidang merupakan acara makan bersama yang dilakukan masyarakat Kab. Kampar. Hal ini merupakan tradisi khusus atau khas masyarakat Kampar yang sesuai pula dengan adat istiadat di Kabupaten Kampar. Demikian dikatakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA didampingi Humas Kemenag Kampar Gustika Rahman SPdI hari kamis (06/02) di Balai Adat Kab. Kampar.

 

 

Fairus mengatakan, makan bajambau ini sedikitnya ada lima jenis sambal. Lima jenis sambal tersebut adalah pertama, ikan yang diolah menjadi ikan goreng, pongek, sampode dan sebagainya. Kedua adanya sambal daging baik berupa rendang atau gulai dari daging kerbau, sapi atau daging ayam. Ketiga sayuran yang diolah seperti gulai kacang panjang, kentang dengan telur ayam dan sebagainya.

 

Keempat, sayuran mentah atau lalapan berupa mentimun, terung uap dan sebagainya, Kelima yang khusus dan sewajarnya ada didalam jambao adalah "Dadio" atau air susu kerbau atau sapi yang telah dikentalkan atau membeku dengan pemanis gula enau atau gula aren sehingga menjadi makanan penutup. Dadio ini berasa manis, enak dan salah satu fungsinya adalah sebagai penghilang rasa pedas sesudah makan.

 

 

makan bajambau ini merupakan makanan yang dihidangkan secara “bajambau” yang merupakan acara makan bersama dalam satu hidangan. Jambau adalah peralatan tempat makanan siap santap yang lazim dikenal dengan sebutan dulang berkaki, atau talam. Satu Jambau biasanya disantap oleh lima orang.

 

Kalau hidangan bejambau menggunakan dulang kaki tigo, biasanya dhidangkan untuk penghulu-penghulu atau ninik mamak atau pejabat pemerintah. Sedangkan tudung jambau berupa tudung saji yang bahannya berasal dari pelepah pohon pinang. Tudung Saji dihiasi dengan kain berwarna-warna plus manik-manik. Diluar jambau tentunya ada nasi dalam wadah khas yang disebut combong lengkap dengan sendoknya, ada air dalam teko atau cerek plus gelas secukupnya.

 

Hadir dalam acara Makan Bajambau tersebut Bupati Kampar H Jefry Noer, Wakil Bupati Kampar H Ibrahim Ali SH, Ketua DPRD Kab. Kampar Ahmad Fikri SAg,unsur Forkopinda, mantan Bupati dan Wakil Bupati Kampar, Bupati dan Wakil Bupati atau Wali Kota atau Wakil Wali Kota Se Prov. Riau dan Sumatera Barat dan para undangan yang hadir, tutup Fairus. (Ags)