0 menit baca 0 %

Kakan Kemenag Kampar Buka Acara Orientasi Hisab dan Rukyat

Ringkasan: Kampar (Humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA didampingi Kasi Penyelenggara Syari’ah Nurjannah SPdI membuka secara resmi orientasi hisab dan rukyat dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar tahun anggaran 2014 hari selasa (03/06) di Wisma Angga Keca...

Kampar (Humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA didampingi Kasi Penyelenggara Syari’ah Nurjannah SPdI membuka secara resmi orientasi hisab dan rukyat dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar tahun anggaran 2014 hari selasa (03/06) di Wisma Angga Kecamatan Bangkinang Kota.

Dalam arahannya Fairus mengatakan, Hisab ini secara harfiah berarti perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (Astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal syawal (Idul Fitri) serta awal Dzulhijjah saat jema’ah haji wukuf di Arafah (09 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Dalam Al-Qur'an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Allah memang sengaja menjadikan Matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar-Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya Matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi, jelas Fairus.

Lebih lanjut Fairus mengtakan, Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1, terang Fairus.

Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah atau teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan cahaya langit sekitarnya. 

Oleh karena itu, tentunya kita perlu mengikuti acara dengan sebaik-baiknya seraya untuk menyamakan persepsi agar tidak muncul perbedaan pendapat baik dalam menentukan awal Ramadhan, maupun 1 syawal dan lain-lainnya, tegas Fairus.

Sementara itu, Ketua Panitia acara orientasi hisab dan rukyat tahun 2014 Hendri Meyeldi SAg yang langsung dilaporkan oleh Kasi Penyelenggara Syari’ah Nurjannah SPdI mengatakan, Acara ini dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Kepala kantor Kementerian Agama Kab. Kampar nomor 128 tahun 2014, tanggal 16 mei 2014 tentang Panitia, Moderator, Narasumber dan Peserta orientasi hisab dan rukyat dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar tahun anggaran 2014.

Adapun jumlah peserta pada kegiatan ini berjumlah 35 orang berasal dari Badan Hisab Rukyat (BHR) Kecamatan se Kab. Kampar dan dari BHR Kabupaten Kampar. Narasumber pada kegiatan ini berasal dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau dan dari Kantor Kementerian Agama. Yang mana acara ini berlangsung sehari penuh yakni hari selasa tanggal 03 juni 2014 di Wisama Angga Kec. Bangkinang Kota, jelas Nurjannah. *** (Ags)