Kafilah MTQ Riau Tak Bisa Bersaing Dengan Kafilah Provinsi Lain
Ringkasan:
LAPORAN AHMAD SUPARDI HASIBUAN DARI BABEL PANGKAL PINANG (KEMENAG) Kafilah Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Provinsi Riau pada STQ XXII Tingkat Nasional Tahun 2013 di Kota Koba Kab Bangka Tengah Provinsi Bangka Belitung, tidak bisa bersaing dengan kafilah Provinsi lain, sehingga dapat dipastika...
LAPORAN AHMAD SUPARDI HASIBUAN DARI BABEL
PANGKAL PINANG (KEMENAG) Kafilah Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Provinsi Riau pada STQ XXII Tingkat Nasional Tahun 2013 di Kota Koba Kab Bangka Tengah Provinsi Bangka Belitung, tidak bisa bersaing dengan kafilah Provinsi lain, sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada satu gelar juarapun yang dapat diraih oleh kafilah STQ Provinsi Riau pada kegiatan ini, padahal pada tahun-tahun sebelumnya kafilah Provinsi Riau pasti meraih minimal satu kejuaraan.
Hal ini disebabkan karena Qari’/Qari;ah, Hafizh/hafizhah, dan Mufassir/mufassirah yang dikirim oleh kafilah Riau kurang berkualitas atau kualitasnya dibawah standar, sehingga tidak bisa bersaing dengan Provinsi lain pada tingkat nasional. Ini tentu perlu manjadi perhatian bagi Pemerintah Daerah, Kanwil Kemenag Riau, dan LPTQ Provinsi Riau.
Ketika ditanya tentang hal ini kepada Tim Official Kafilah Riau, Ustaz Yuhendry di lokasi STQ Kota Koba, Yuhendry membenarkan hal ini dan beliau menyatakan bahwa keterpurukan ini adalah disebabkan rendahnya pelatihan dan pembinaan yang kita lakukan, padahal potensi Qari’/Qari’ah, Hafizh/hafizhah, dan Mufassir/mufassirah kita cukup besar. “Stok dan potensi kita cukup banyak, semua cabang kita punya, cumin pembinaan yang kurang,†tegas Yuhendry.
Keterangan yang sama disampaikan Drs H Yusuf Ahmad, salah seorang pelatih dari Tim Riau. Beliau menyatakan bibit-bibit peserta STQ dan bahkan MTQ cukup dan bahkan berlebih, hanya saja mereka tidak dibina dengan baik, sehingga tidak muncul ke permukaan,†tegas mantan Kakan Kemenag Indragiri Hulu yang sekarang aktif di LPTQ Riau ini.
H Masy’ari yang juga tim pelatih Riau dan telah malang melintang dalam dunia STQ dan MTQ di Riau dan di tingkat nasional, menyatakan bahwa pembinaan dan pelatihan yang kita lakukan memang sangat kurang, padahal pelatihan dan pembinaan ini sangat diperlukan dalam rangka melahirkan yang terbaik di tingkat nasional.
Kasi MTQ Riau H Yasrif, yang setia mendampingi peserta selama di Babel, menyatakan pesimismenya untuk membawa gelar kejuaraan dari Babel ini, sebab peserta yang dibawa ini belum ada yang bisa bersaing dengan peserta tingkat nasional. Kita masih setingkat di bawah kafilah provinsi yang lain, tegas Yasrif.
Kalau kita berkaca pada masa lalu, khususnya beberapa tahun terakhir, sebenarnya Provinsi Riau memiliki talenta-talenta aktif, kreatif, dan inisiatif, hanya saja mereka ini ibarat bunga gersang yang tidak disirami dengan air, sehingga bunga itu layu dan merunduk. Jika mereka disirami kembali dengan air segar, mungkin mereka akan hidup kembali, tumbuh segar dan kembali mengibarkan panji-panji kebesaran Riau di belahan nusantara. Semoga………….***(Ash).