0 menit baca 0 %

Kabid Urais : Proyek Bantuan SBSN 2017 Berjalan 20 Persen, SBSN 2018 Telah Menanti

Ringkasan: Riau (Inmas) Dalam rangka mempersiapkan  perangkat  pada Kabupaten dan kota dalam menyelenggarakan proyek bantuan SBSN ( Surat Berharga Syari'ah Negara) guna pembangunan balai nikah dan manasik haji pada KUA Kecamatan, Kanwil Kemenag Riau melalui Bidang Urusan Agama Islam menggelar rapat bersama D...

Riau (Inmas) – Dalam rangka mempersiapkan  perangkat  pada Kabupaten dan kota dalam menyelenggarakan proyek bantuan SBSN ( Surat Berharga Syari'ah Negara) guna pembangunan balai nikah dan manasik haji pada KUA Kecamatan, Kanwil Kemenag Riau melalui Bidang Urusan Agama Islam menggelar rapat bersama Di ruang mini Kakanwil Kemenag Riau dengan para Kankemenag Kab Inhil, Kab Pelelawan, Kota Dumai, serta perencana pada Bimas dan Kemenag masing masing Kab/kota.

Dihubungi terpisah, diruang kerjanya saat beliau tengah asyik membaca alquran, H Irhas Selaku Kabid Urais Kanwil Kemenag Riau mengaku untuk anggaran 2018 ini pagu sementara kita  untuk bantuan SBSN memperoleh 8 tempat balai nikah pada empat Kabupaten diantaranya di Inhil ada 4 tempat, Inhu 2 tempat, Dumai mendapat 1 dan Pelelawan mendapatkan 1 bantuan. Jadi pembangunan gedung balai nikah dan manasik haji itu tersebar di 8 tempat untuk provinsi Riau tahun ini.

Dikatakan Irhas untuk tahun ini  proyek yang tengah berjalan Kab Bengkalis dan Kabupaten Inhu, dan untuk tahun 2018 mendatang Bengkalis tidak mendapat bantuan SBSN, dari 11 yang diajukan kita hanya dapat 8 tempat yang jebol. Ia berharap di penghujung tahun ini anggaran sudah disahkan, sehingga  proyek sudah berjalan pada awal tahun 2018 mendatang.

Pihaknya mengatakan untuk anggaran 2017 yang tengah berjalan sudah mencapai 20 persen, memang termasuk terlambat dalam pelaksanaannya, mengingat ada beberapa kendala yang ditemui dilapangan. Ia mengatakan  Provinsi Riau mendapatkan alokasi pembangunan kantor Balai Nikah dan Manasik Haji untuk Tiga Kecamatan.

Tercatat hingga per-31 Juli 2017 penyerapan anggaran masih sedikit sekali, sebutnya menerangkan. Makanya pertemuan ini adalah sebagai evaluasi untuk percepatan pelaksanaan proyek tersebut. Yang akan memicu PPK dan PPA dapat bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan SBSN tersebut.

Meski begitu, Irhas optimis proyek tersebut dapat berjalan lancar sebagaimana mestinya. Dengan pagu yang sangat cukup besar dan waktu yang sangat terbatas, mau tidak mau harus diselesaikan tepat pada waktunya, jika tidak nanti akan menjadi masalah kedepan. Semoga di Bulan November mendatang semua sudah finish.

Sementara itu, ketika disainggung terkait mengenai arsitektur bangunan gedung/kantor balai nikah dan manasik haji kedepan ini, ia berkeinginan kantor balai nikah dan manasik haji tersebut  dapat dibangun dengan sentuhan budaya lokal, sehingga ketika siapapun yang melihat kantor itu, tanpa harus melihat papan nama sudah langsung mengenal kantor tersebut karena ke khasan yang dimilikinya”, ucapnya.

“Saya ingin pilar utama bangunan kantor balai nikah dan manasik haji tersebut mencerminkan empat tusi yang ada  pada empat direktorat Bimas Kemenag RI meliputi Direktorat Urusan Agama Islam, Direktorat pemberdayaan KUA, Direktorat Keluarga Sakinah dan Direktorat pemberdayaan zakat wakaf, namun tetap memiliki ornamen budaya lokal, Hal ini pun sempat pernah  saya diskusikan dengan Ditjen Bimas Islam Kemenag RI beberapa waktu lalu di jakarta, dam ia menanggapi positif, terangnya pada salah seorang tim Inmas. 

Selain itu menurutnya empat pilar tersebut bisa menjadi pattern bagi desain gedung balai nikah dan manasik haji di Indonesia sekaligus mewakili dan menunjukkan tugas dan fungsi di setiap KUA yang ada pada empat direktorat. Ditambah dengan 1 pilar khusus untuk haji dengan ornamen sesuai dengan fungsi haji tersebut. Jika ini bisa terwujud tentu masyarakat akan lebih mudah mengenali kantor KUA.

Sementara Kakanwil ingin empat pilar tersebut ditambahkan  dengan lima nilai budaya kerja Kemenag, ujarnya. Namun itu juga bagus, mungkin karena saya berpikir terlalu mikro, hemat saya cukup dengan empat pilar itu saja, ucapnya.

Khusus untuk desain dan fitur gedung, Ia ingin memasukkan unsur unsur dekoratif kaligrafi bernuansa melayu pada setiap bangunan yang diberi ornamen. Karena menurutnya budaya lokal itu patut untuk dipertahankan agar menjadi bangunan yang dapat dilihat dan dikenal pada generasi mendatang. Kapan lagi kita Kemenag bisa dikenal layaknya kantor kantor lain yang sudah punya standarisasi bangunan untuk gedung kantornya, ucap nya lagi.

Menurutnya pada sebuah bangunan terdapat beragam pelajaran dan filosofi yang bisa kita tangkap dan kita baca. Tentu masih banyak lagi filosofi bangunan yang lain sesuai dengan kekhasan budaya lokal masing masing, ia berharap bangunan dengan empat pilar ini menjadi standart dasar yang bisa ditetapkan pada gedung balai nikah dan manasik haji di Riau bahkan secara Nasional kedepan. Ia mengaku ketika idenya tersebut bisa diakomodir akan menjadi catatan amal sendiri bagi beliau di penghujung sisa tugasnya sebagai abdi negara.

Diakhir bincang, pria berpembawaan kalem ini menilai pembangunan balai nikah dan manasik haji yang berbasis di KUA ini, sangat penting untuk memperbaiki pelayanan Kemenag kepada masyarakat di kecamatan.(vera)