0 menit baca 0 %

Kabag TU Ulas Kriteria Guru Teladan menurut T-E-A-C-H

Ringkasan: Riau (Inmas) - Orientasi peningkatan kompetensi guru pendidikan agama dan keagamaan buddha berjalan dengan lancar di  Hotel Mayang Garden, pekanbaru. Acara yang diselenggarakan oleh Bimas Budha Kanwil Kemenag Provinsi Riau dari 24-26 Pebruari 2020 itu dihadiri oleh 50 peserta dari seluruh kabupate...

Riau (Inmas) - Orientasi peningkatan kompetensi guru pendidikan agama dan keagamaan buddha berjalan dengan lancar di  Hotel Mayang Garden, pekanbaru. 

Acara yang diselenggarakan oleh Bimas Budha Kanwil Kemenag Provinsi Riau dari 24-26 Pebruari 2020 itu dihadiri oleh 50 peserta dari seluruh kabupaten/kota se-Riau. Terdiri dari guru agama dan keagamaan baik formal maupun non formal.

H. Erizon Efendi, Sag, MPd. Selaku Kabag TU Kanwil Kemenag Riau memaparkan materinya secara sistematis.

Dalam materinya dikatakan bahwa Budaya kerja pada dasarnya merupakan nilai-nilai yang menjadi kebiasaan seseorang dan menentukan kualitas seseorang dalam bekerja. 

Dia juga menilai Budaya kerja guru dapat terlihat dari rasa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah, profesi yang diembannya, rasa tanggungjawab moral. Sikap inilah menurutnya akan dibarengi dengan rasa tanggungjawabnya untuk membuat dan mempersiapkan proses belajar mengajar, pelaksanaan proses belajar mengajar, serta pelaksanaan evaluasi dan analisis dalam kegiatan pembelajaran.

“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah,” ulasnya. 

Ia juga menambahkan bahwa Guru adalah penentu keberhasilan dan kesuksesan dan lentera bagi bangsa. Oleh karena itu menurutnya dibutuhkan sebuah budaya kerja agar kinerja guru optimal. Salah satu budaya versi kanwil Kemenag Riau  adalah T-E-A-C-H

“T adalah Touch, artinya Sosok guru mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat,  Sosok guru mampu memberikan sentuhan terbaik bagi siswa yang dididik,Sosok guru mampu menggugah anak didiknya untuk lebih baik dan maju,” jelasnya.

Erizon juga menjelaskan, A adalah Ability, artinya seorang guru diharapkan mampu menghadapi tekanan administrasi dengan mengolah masalah menjadi seni. Disamping itu seorang guru  diharapkan mampu memberikan warna bagi siswa didik dan sekolah tempat ia mengajar. Kemudian seorang guru semestinya memiliki kemampuan mengelola administrasi dengan baik dan menyiapkan pembelajaran dengan kompetensi maksimal.

“C is Cheerful, Biar bagaimanapun guru adalah energi. Ia mesti memiliki pijar keceriaan karena mereka adalah teladan. Guru dapat memberikan gambaran kebahagiaan bagi peserta didiknya. Guru mampu memuaskan dirinya sendiri dengan cara sederhana,” harapnya.

Kemudian ia menegaskan bahwa H is Honesty bermakna sebuah teladan membutuhkan sebuah kejujuran. Guru ideal pasti memiliki kejujuran dalam sikap, dalam ucap, dan dalam gerak. Karena seorang guru adalah acuan contoh abadi yang bernilai dalam jiwa setiap murid-muridnya. Dimanapun murid itu berada, sekalipun sudah tak belajar dengannya, jika ada contoh kejujuran dan potret sederhana, kelak akan selalu dikenang sepanjang era.

Akhirnya Erizon menyimpulkan bahwa Budaya kerja guru tentu berbeda dengan budaya kerja dengan profesi lainnya. Sebab guru berada pada sektor jasa. yang paling utama ialah, seorang guru mampu menempatkan dirinya pada berbagai keadaan. Sehingga dituntut untuk mampu melakukan aktivitas administrasi pedagogi secara kontinuitif. Bahkan juga dituntut untuk mengikuti perkembangan metodologi pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian, sorang guru dituntut untuk memaksimalkan potensi wawasan dan waktunya.(vera)