Ka Kanwi Kemenag Riau Laporkan JCH Terlantar oleh Penyelenggara Haji Tak Bertanggungjawab
Ringkasan:
Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, Kamis (11/11) akan melaporkan kondisi Jamaah Calon Haji (JCH) Riau yang terlantar akibat ulah pengelenggara haji yang tidak bertanggungjawab.
Pekanbaru (Humas)- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Ka Kanwil Kemenag) Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur SH MM, Kamis (11/11) akan melaporkan kondisi Jamaah Calon Haji (JCH) Riau yang terlantar akibat ulah pengelenggara haji yang tidak bertanggungjawab. Walaupun puluhan JCH Riau tersebut sudah membayar biaya sangat besar Rp70-75 Juta untuk dapat berangkat ke tanah suci melalui jalur khusus, namun closing date (penutupan) Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz pada 10 November 2010 pukul 00:00 WAS atau 11 November 2010 pukul 04.00 WIB, belum juga mendapat visa. Diantara puluhan JCH tersebut berasal dari Indragiri Hilir (Inhil), Rokan Hulu (Rohul), Rokan Hilir (Rohil) dan Pekanbaru.
"Kondisi tersebut sangat merugikan JCH bukan hanya secar materil tapi juga waktu. Mereka sudah mengeluarkan dana besar untuk dapat berangkat ke Tanah Suci, tapi ternyata tidak jadi berangkat. Selain itu waktu mereka juga habis sia-sia karena status kebarangkatan yang tidak pasti dari Biro Perjalanan yang mengurus keberangkatan mereka," tegas Asyari Nur terkait kondisi JCH Riau yang terancam gagal berangkat karena ketidak beresan administrasi perjalanan mereka.
Asyari mengambahkan, data JCH Riau yang masuk pada pemberangkatan khusus (haji plus) kuota maupun non kuota tidak diketahui pasti. Karena proses pemberangkatan JCH Plus kuota maupun non kuota langsung ditangani Badan Penyelenggarah Ibadah Haji (BPIH) Kemenag RI bekerjasama dengan Biro Perjalanan yang ada di Indonesia.
"Berdasarkan penyelurusan Kemang Riau saat ini jumlah JCH ONH Plus kuota ataupun non kuota ada sekitar 21 orang yang saat ini berada di Hotel Sabrina Pekanbaru. Dan informasi juga barus saja saya terima dari KUA Bagan Sinembah Rohil, bahwa ada sebanyak 28 JCH ONH plus asal Rohil juga yang terlantar di Jakarta. Ini akan kita telusuri lebih jauh, karean ini merugikan masyarakat Riau yang ingin menyelenggarakan ibadah haji," ungkapnya.
Terkait dengan kasus JCH Riau yang terlantar tersebut, Ka Kanwil Kemenag Riau akan melaporkan keadaan tersebut ke Kemenag RI untuk segera ditindaklanjuti dengan tembusan surat langsung ke Gubernur Riau sebagai koordinator penyelenggara haji provinsi.
Sementara itu berdasarakan informasi Kepala Seksi Pengawasan Penyelenggara Haji Ibadah Khusus (PIHK) Kemenag RI, Ahmad Basani, di Makkah jumlah jamaah nonkuota asal Indonesia tahun ini diperkirakan lebih dari 3.000 orang atau lebih besar dibanding tahun lalu. Hingga Selasa (9/11) malam, jamaah nonkuota yang berhasil didata petugas sudah mencapai sekitar 2.750 orang.
"Sampai hari ini, jamaah nonkuota terus berdatangan. Pada hari terakhir sebelum penutupan (closing date) Terminal Haji Bandara King Abdul Azis kemarin, diperkirakan kedatangan nonkuota mencapai puncaknya. "Kami belum merekap datanya, tapi pada Selasa (9/11) saja diperkirakan 500 jamaah yang masuk," ungkap Ahmad Basani.
Jamaah nonkuota dengan jumlah besar antara lain diberangkatkan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Bayan Jakarta. Jamaah yang diberangkatkan KBIH ini tak hanya dari ibu kota, tapi juga dari berbagai penjuri Tanah Air. "Jumlahnya di atas 100 orang," tandas Basani.
Pada hari kedua jelang closing date, juga masih banyak ditemukan jamaah nonkuota yang keleleran. Sebanyak 9 jamaah asal Madura telantar di bandara 10 jam lebih lantaran penjemput tak kunjung datang. Para jamaah resah dan mengeluh karena mereka juga tidak mendapatkan makan layaknya yang dinikmati jamaah reguler atau khusus. Selain jamaah asal Madura, jamaah yang sempat tak terurus adalah dari Banjarmasin. Jumlah jamaahnya sekitar 20 orang.
Menurut Basani, sisi negatif seseorang yang ikut jamaah nonkuota adalah tidak adanya kepastian terhadap layanan selama di Tanah Suci. Selain soal penjemputan, masalah krusial lain yang kerap dialami jamaah "ilegal" ini adalah soal transportasi, pemondokan dan katering. "Penyelenggara ini sangat rapi dalam operasionalnya, banyak jamaah juga tak tahu jika mereka masuk nonkuota," tandas Kasubdit Penyuluhan Haji Kemenag ini.
Sementara itu, Kepala Daker Jeddah Ahda Barori yakin seluruh jamaah Indonesia bisa masuk ke Tanah Suci sebelum closing date."Untuk kedatangan insyallah tidak masalah, justru hanya penumpukan jamaah di bandara pada hari terakhir ini," kata Ahda kemarin. Jamaah haji Indonesia tahun ini sebanyak 221.000 orang. Dari jumlah itu, 197.500 di antaranya jamaah reguler, sedang sisanya diberangkatkan penyelenggara ibadah haji khusus (PIHK). (msd/mch jeddah)