Siak (Inmas) - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, Drs. H. Muharom menghadiri acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke III tahun 2018. Drs. H. Muharom tampak mengenakan baju gamis putih dengan peci seragam. Hari ini merupakan tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Peringatan hari spesial bagi santri ini berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 22 tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional.
Hadir dalam kegiatan akbar tersebut, Sekda Provinsi Riau, Ahmad Hijazi selaku inspektur upacara HSN 2018 membacakan sambutan Menteri Agama RI, Sekda Siak, T. Said Hamzah, Pejabat Pemkab Siak, Kepala Kankemenag Siak, Drs. H. Muharom, Kepala Kankemenag dari daerah lain di Provinsi Riau, Kepala KUA dan para pimpinan ponpes yang ada di Provinsi Riau.
Tujuan Hari Santri Nasional diperingati adalah sebagai bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan. Dalam amanatnya, Sekda Provinsi Riau, Ahmad Hijazi selaku inspektur upacara HSN Tahun 2018 menceritakan peringatan Hari Santri harus dimaknai sebagai upaya memperkokoh segenap umat beragama agar saling berkontribusi mewujudkan masyarakat Indonesia yang bermartabat, berkemajuan, berkesejahteraan, berkemakmuran, dan berkeadilan. Setelah Upacara, kemudian dilanjutkan upacara bendera, pawai santri sluruh ponpes se Riau, ziarah makam Koto Tinggi dan makam Pahlawan Sultan Syarif Kasim II dan terakhir Sarasehan di gedung Tengku Mahratu.
Sedangkan dipilihnya Kabupaten Siak sendiri sebagai tuan rumah HSN bukan tanpa alasan, hal ini dapat dilihat dari historisnya yang lekat dengan dunia pendidikan madrasah. Di Siak telah berdiri sejumlah pesantren atau di masa lalu dikenal dengan sebutan madrasah. Ada dua madrasah terkenal pada masanya kejayaan Siak Sri Indrapura, yakni Madrasah Taufiqiyah El Hasyimiah didirikan tahun 1917 oleh Baginda Sultan Syarif Kasim II untuk tingkatan Ibtidayah dan tsanawiyah. Para ustadz pengajar merupakan alumni Universitas Al Azhar Kairo, Singapuran dan Kota Padang Panjang. Madrasah ditujukan untuk menampung murid Hollandshe Inlansche School (HIS) dan Volkschool yang bersekolah di pagi hari ini sejalan dengan perjuangan kebangsaan dan pengajar membawa nafas nasionalisme.
Kemudian ada Madrasatun Nisa yang didirikan Baginda Permaisuri Tengku Mahratu tahun 1929. Beliau adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II. Madrasah ini diperuntukkan bagi kaum perempuan dari seluruh lapisan sosial, baik masyarakat awam maupun di lingkungan istana. Bagi siswi madrasah yang berasal dari luar kota Siak, mereka ditampung di Asrama Limas dan dididik dengan pengetahuan agama, sopan santun serta adat istiadat kerajaan. Beberapa tahun sebelumnya, tahun 1926 baginda permaisuri pertama Tengku Agung Sultanah Latifah juga mendirikan Latifah School yang mengajarkan kaum perempuan berbagai keterampilan khusus yang dipadupadankan dengan pengetahuan umum dan pengetahuan Islam, sejarah serta bahasa Arab. (Hd)