Siak (Inmas) โ Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, Drs. H. Muharom menghadiri acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2017. Drs. H. Muharom tampak mengenakan baju gamis putih dengan peci putih. Hari ini merupakan tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Peringatan hari spesial bagi santri ini berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 22 tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional.
Tujuan Hari Santri Nasional diperingati adalah sebagai bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan. Dalam amanatnya, Bupati Siak, Drs. H. Syamsuar, M.Si selaku Pembina Upacara HSN Tahun 2017 menceritakan tentang peran Sultan dan Ulama-ulama Siak dalam memperjuangkan Islam di Negeri Istana ini.
Dihadapan para santri, Syamsuar mengatakan, di Siak telah berdiri sejumlah pesantren atau di masa lalu dikenal dengan sebutan madrasah. Ada dua madrasah terkenal pada masanya kejayaan Siak Sri Indrapura, yakni Madrasah Taufiqiyah El Hasyimiah didirikan tahun 1917 oleh Baginda Sultan Syarif Kasim II untuk tingkatan Ibtidayah dan tsanawiyah.
Para ustadz pengajar merupakan alumni Universitas Al Azhar Kairo, Singapuran dan Kota Padang Panjang. Madrasah ditujukan untuk menampung murid Hollandshe Inlansche School (HIS) dan Volkschool yang bersekolah di pagi hari ini sejalan dengan perjuangan kebangsaan dan pengajar membawa nafas nasionalisme.
Syamsuar menjelaskan, kemudian ada Madrasahtun Nisa yang didirikan Baginda Permaisuri Tengku Mahratu tahun 1929. Beliau adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II. Madrasah ini diperuntukkan bagi kaum perempuan dari seluruh lapisan sosial, baik masyarakat awam maupun di lingkungan istana. Bagi siswi madrasah yang berasal dari luar kota Siak, mereka ditampung di Asrama Limas dan dididik dengan pengetahuan agama, sopan santun serta adat istiadat kerajaan.
Beberapa tahun sebelumnya, tahun 1926 baginda permaisuri pertama Tengku Agung Sultanah Latifah juga mendirikan Latifah School yang mengajarkan kaum perempuan berbagai keterampilan khusus yang dipadupadankan dengan pengetahuan umum dan pengetahuan Islam, sejarah serta bahasa Arab.
โPerjuangan baginda Sultan Syarif Kasim II dan Permasuri inilah yang selayaknya menjadi semangat bagi kita untuk meneruskan cita-cita perjuangan mereka. Alhamdulillah saat ini, banyak pesantren berdiri di Siak. Hal ini sejalan dengan semangat satu kecamatan satu pesantren yang telah kita cita-citakan. Selain itu, melalui Perda Wajib PDTA dan pendirian rumah-rumah tahfidz serta lembaga pendidikan formal Islam terkemuka di Siak. Kita berusaha memberantas buta al-Quran di tengah generasi muda kita,โ papar Syamsuar. (Hd)