Siak (Inmas) โ Kamis, (24/10/19), Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Siak, Drs. H. Muharom menghadiri acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke IV tahun 2019. Drs. H. Muharom tampak mengenakan baju koko putih plus kain sarung dengan peci seragam. Hari ini merupakan tahun keempat peringatan Hari Santri Nasional. Peringatan hari spesial bagi santri ini berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 22 tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional.
Hadir dalam kegiatan akbar tersebut, Bupati Siak, Drs. H. Alfedri, M.Si yang bertindak sebagai Inspektur Upacara dan membacakan sambutan Menteri Agama RI, Sekda Siak, Asisten III, Drs. H. Jamaludin, M.Si, Pejabat Pemkab Siak, Kepala Kankemenag Siak, Drs. H. Muharom, Kepala Subbag TU, Drs. H. Nursya Kankemenag dan para pimpinan ponpes yang ada di Kabupaten Siak dan ribuan santri dari berbagai pondok pesantren.
Tujuan Hari Santri Nasional diperingati adalah sebagai bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan. Dalam amanatnya, Alfedri selaku inspektur upacara HSN Tahun 2019 menceritakan peringatan Hari Santri harus dimaknai sebagai upaya memperkokoh segenap umat beragama agar saling berkontribusi mewujudkan masyarakat Indonesia yang bermartabat, berkemajuan, berkesejahteraan, berkemakmuran, dan berkeadilan.
Setelah Upacara, kemudian dilanjutkan pawai santri seluruh ponpes se-Kabupaten Siak, ziarah makam Koto Tinggi, Raja Kecik di Buantan Besar dan makam Pahlawan Sultan Syarif Kasim II. Dalam sejarahnya, di Siak telah berdiri sejumlah pesantren atau di masa lalu dikenal dengan sebutan madrasah. Ada dua madrasah terkenal pada masanya kejayaan Siak Sri Indrapura, yakni Madrasah Taufiqiyah El Hasyimiah didirikan tahun 1917 oleh Baginda Sultan Syarif Kasim II untuk tingkatan Ibtidayah dan tsanawiyah.ย Para ustadz pengajar merupakan alumni Universitas Al Azhar Kairo, Singapuran dan Kota Padang Panjang. Madrasah ditujukan untuk menampung murid Hollandshe Inlansche School (HIS) dan Volkschool yang bersekolah di pagi hari ini sejalan dengan perjuangan kebangsaan dan pengajar membawa nafas nasionalisme.
Kemudian ada Madrasatun Nisa yang didirikan Baginda Permaisuri Tengku Mahratu tahun 1929. Beliau adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II. Madrasah ini diperuntukkan bagi kaum perempuan dari seluruh lapisan sosial, baik masyarakat awam maupun di lingkungan istana. Bagi siswi madrasah yang berasal dari luar kota Siak, mereka ditampung di Asrama Limas dan dididik dengan pengetahuan agama, sopan santun serta adat istiadat kerajaan.
Beberapa tahun sebelumnya, tahun 1926 baginda permaisuri pertama Tengku Agung Sultanah Latifah juga mendirikan Latifah School yang mengajarkan kaum perempuan berbagai keterampilan khusus yang dipadupadankan dengan pengetahuan umum dan pengetahuan Islam, sejarah serta bahasa Arab.ย (Hd)